LOVE TRIANGLE

LOVE TRIANGLE
Prolog



Derai hujan jatuh di depanku. Aku menengadahkan pandanganku. Awan gelap tampak menyelimuti senja kala itu. Berulang kali helaan napas kuhembuskan secara gusar. Petang hampir menjemput tapi hujan masih saja berlarut. Aku ulurkan tanganku, merasakan setiap bulir yang jatuh.


Sepertinya semesta tengah berduka, karena alunan hujan terdengar begitu sendu dan menggetirkan. Atau malah, semesta tengah jatuh cinta? Karena setiap rintik yang berjatuhan selalu menghadirkan segudang kenangan yang terpendam.


Heningnya gedung sekolah ini tak ternilai jika dibandingkan dengan deraian hujan. Aku menggosok telapak tanganku guna menyangkal udara dingin yang kian kali menyentuh kulitku. Tubuhku mulai menggigil merasakan hembusan angin yang meraup keheningan.


Apa tak ada seorang pun yang masih tinggal disini? Apa hanya aku yang masih berdiri kaku meratapi diri? Lagi-lagi kuhembuskan napas gusar. Seharusnya memang tadi aku menerima tawaran Rina untuk pulang bersamanya saja, pasti saat ini aku sudah meneguk cokelat panas di teras rumah seraya menghabiskan waktu untuk membaca novel dengan ditemani alunan hujan. Sungguh kenikmatan yang tiada duanya. Tapi sayang, itu hanya perandaian saja.


Kenyataannya aku masih disini. Berdiri kaku dengan harap-harap hujan segera berhenti.


Bahkan sepatuku pun mulai basah terciprat oleh air hujan. Aku tak bisa menghubungi orang rumah. Di jam seperti ini pasti Bunda masih di kantor dan Kak Diva? Orang itu sudah tak perlu ditebak lagi, ia pasti masih ada di kampus.


Aku mengetuk-ngetukkan sepatu ke lantai. Mataku melirik kesana kemari bila mana ada satu insan yang masih ada disini. Aku tak enak hati jika harus menelpon Bunda karena pekerjaannya pasti akan terganggu. Lagipula rumahku letaknya tak jauh dari sini, setiap hari aku berangkat dan pulang hanya jalan kaki.


"Ck. Masih hujan."


Mendengar decakan seseorang membuatku sontak menoleh begitu saja. Dahiku mengernyit melihat lelaki dengan seragam yang sama sepertiku tampak berjalan dari ujung koridor. Ia melangkah perlahan seraya memandang hujan.


Lantas aku membeku di tempat saat manik matanya menatap ke arahku. Sempat aku menarik napas ketika lelaki itu berjalan menghampiriku.


"Loh Audy kan?"


Aku masih diam. Mengerjap-ngerjapkan mataku tak percaya. Sosok di depanku ini mengenalku? Bagaimana bisa?


"Kita satu sekolah Dy, dan lo tetangga gue. Masa iya gue nggak tau nama lo."


Ucapannya membuatku mengatupkan bibir rapat-rapat. Lidahku terasa kelu untuk membuka suara. Sekian kali detik berputar hanya deraian hujan yang terdengar. Hingga pada akhirnya, aku berdehem kecil.


"Kenapa belum pulang? Udah jam segini." Ucapnya melirik arloji di pergelangan tangannya. Aku masih terdiam dengan memainkan jemari asal.


"Karena hujan?" Meski pertanyaan itu untukku, namun pandangan lelaki itu menatap lurus ke depan, seolah ada sesuatu yang menarik di tengah hujan sana.


Aku hanya berdehem kecil. Lagi-lagi mengulurkan tanganku untuk merasakan buliran hujan.


Tiba-tiba ia membuka payung warna merah yang entah ia dapatkan dari mana. Aku menoleh, alisku terangkat memerhatikannya.


"Udah hampir gelap, pulang yuk!" Ia menoleh padaku. Membuatku dapat melihat bagaimana cara manik mata warna cokelat terang itu menatapku secara langsung. Aku hanya mengerjapkan mata kebingungan.


Lelaki itu berdecak kecil. "Rumah kita satu kompleks kan?" Tanpa aba-aba ia langsung menarik tanganku, menggenggam jemariku.


Aku merasakan desiran aneh di hatiku kala jemarinya menyentuh jemari tanganku. Di bawah payung merah ini, di temani dinginnya hembusan angin, aku membeku mendengar degup jantungku berdetak begitu cepat.


Kami berjalan berdua, memecah tirai-tirai hujan bersama. Sore itu ia menggandeng tanganku, menggenggam jemariku, berjalan berdua bersamaku, di bawah payung yang sama denganku.


Di tengah hujan bersama diriku.