LOVE TRIANGLE

LOVE TRIANGLE
Episode 18



Damar pun mengiyakan. Lalu Alya berjalan menghampiri Rafa.


" Sayang..." sapa Alya.


Tanpa membalas sapaan Alya. Rafa langsung memeluknya.


" Sayang kamu tidak apa-apa kan?" tanya Rafa khawatir.


" Tidak apa apa sayang" kata Alya sambil melepaskan pelukan Rafa.


Damar yang dari tadi hanya melihat dari kejauhan. Dia pun berjalan menghampiri Alya dan Rafa.


" O iya sayang kenalin ini atasan aku. Namanya Pak Damar." kata Alya.


Damarpun langsung menyodorkan tangannya untuk berjabat dengan Rafa.


Rafa tersenyum sinis melihat tangan Damar yang disodorkan untuknya.


" Rafa...!" ucap Alya sambil memegang lengan Rafa.


Rafa pun melihat Alya.


" Itu loh tangannya Pak Damar" bisik Alya pada Rafa.


Rafa menuruti maksudnya Alya.


Lalu mereka berjabat tangan. Dan pura-pura berkenalan di depan Alya. Rafa meremas tangan Damar dengan keras. Dan membuat Damar reflek berteriak.


" Aduh...." teriak Damar.


" Pak Damar kenapa?" tanya Alya.


" Tidak apa-apa Alya. Mungkin saya jarang berjabat tangan dengan anak muda seperti pacarmu ini" jawab Damar.


Alya hanya tersenyum mendengar jawaban Damar. Alya berpikir memang benar kalau Damar jarang berjabat tangan dengan anak muda. Karena setau Alya kaliennya udah bapak-bapak semua.


" Sayang... Sudah ngobrolnya. Ayo buruan pulang. Nanti Bu Endang kamu... nyariin kamu." kata Rafa alasan saja.


" O iya... tapi kamu belom bilang terimakasih sama Pak Damar." kata Alya.


" Hah... Terimakasih buat apa yang?" kata Rafa sambil melihat sinis Damar.


Damar pun tersenyum saat Alya bilang seperti itu kepada Alya.


" Ceritanya panjang..." ucap Alya.


Lalu


" Thanks ya... Kalau bukan disuruh Alya gue nggak mau ngomong sama loe" kata Rafa sambil memeluk Damar dengan gaya cowok masa kini.


" Sama-sama bro..." jawab Damar santai.


Lalu Rafa menggandeng tangan Alya. Alya sendiri sampai belom sempat berpamitan dengan atasannya itu.


Alya tidak bisa ngomong apa-apa. Karena Alya tahu perasaan Rafa sekarang. Mungkin dia cemburu pikir Alya.


Damarpun senyum-senyum sendiri melihat sikap adiknya yang sedang terbakar api cemburu.


Setelah itu lalu damar membayar makanannya dan pulang ke rumahnya sendiri.


#Di Rumah Bu Endang.


Bu Endang yang sejak dari petang tadi kebingungan mencari Alya hingga sampai menjemput Alya di kantor. Namun kata Satpam di Kantor Alya seluruh karyawan sudah pulang.


Bu Endang pun datang ke rumah adiknya untuk meminta bantuan mencari Alya. Kebetulan Pak Basuki sudah pulang. Dan Bu Endang menceritakan kejadiannya. Pak Basuki kaget dan takut kalau terjadi apa - apa dengan nona besarnya itu.


Setelah beberapa jam mencari Alya mereka menyerah. Dan terpaksa untuk mengabari orang tua Alya. Papah Mamah serta adiknya Alya kaget mendengar kabar itu.


Tidak berpikir panjang Ammar pun langsung menelvon anak buahnya untuk mencari putri kesayangannya itu.


Dan mereka bertiga memutuskan untuk pergi ke rumah Bu Endang. Di sana Annita tidak bisa mengontrol emosinya untuk tidak marah kepada Bu Endang dan Pak Basuki.


Kemarahan Annita membuat Bu Endang menangis sampai hendak bersujud kepada Annita untuk meminta maaf karena kelalaian itu.


Untung saja Bu Endang di cegah oleh Ammar.


Ammar disini juga emosi. Tetapi dia sadar emosi tidak akan menyelesaikan masalah.


Setiap menit Ammar menelvon anak buahnya. Tetapi tetap tidak ada kabar baik dari Alya.


Di sana Ammar hanya mondar-mandir. Sedangkan Annita hanya menangis di kursi ruang tamu di tenangkan oleh putranya.


Tiba-tiba telvon Ammar berbunyi.


" Hallo... Bagaimana apa sudah menemukan anak saya" tanya Ammar dengan menggebu-ngebu.


" Iya Pak... ini saya di Jalan Diponegoro Pak. Saya melihat seperti Non Alya di seberang jalan dengan seorang pria" jawab Anak Buah Ammar.


" Tolong pastikan ! Jangan hanya SEPERTI !!!" bentak Ammar.


" Eee iya iya Pak Ammar" ucap Anak Buah Ammar ketakutan.


Lalu Ammar menutup telvonnya.


#Di perjalanan pulang.


"Rafa... Makasih ya sudah mau jemput malam-malam begini." kata Alya.


" Sudah kewajibanku aku nglakuin itu semua sayang" Jawab Rafa dengan muka masam.


" Sayang aku mau ceritakan semua apa yang terjadi sama aku hari ini" kata Alya.


" Iya cerita saja aku pasti dengerin kamu" jawab Rafa dengan cuek.


Alya belum melanjutkan ceritanya lagi karena melihat Rafa yang cemberut dan sedari tadi tidak melihat ke arah Alya.


Beberapa saat kemudian.


" Sayang... Tadi aku kekuncian berjam-jam di ruanganku. Seperti ada yang jahat sama aku. Dengan sengaja kunci pintu ruangan" ucap Alya.


" Apa sayang !!!?" tanya Rafa terkejut.


" Sayang... kenapa kamu tidak cerita dari tadi. Kenapa harus diam-diaman kaya gini" kata Rafa sambil memegang tangan Alya.


" Aku takut buat cerita panjang-panjang ke kamu. Soalnya aku lihat kamu sedang marah ke aku." ucap Alya.


" Iya aku tidak marah sayang..." kata Rafa.


" Aku tahu kalau kamu cemburukan dengan Pak Damar. Pak Damar tadi yang sudah nolongin aku bukain kunci pintunya. Dan Pak Damar sampai mau nganterin aku ke klinik karena perutku sakit. Seandainya tidak ada Pak Damar aku nggak tahu sekarang kaya gimana. Diruangan terkunci dalam keadaan menahan sakit" kata Alya.


" Maafin aku sayang... Aku janji aku tidak akan cemburu-cemburu lagi. Harus mendengarkan pejelasan kamu dulu. Lalu sekarang bagaimana perut kamu sayang? Aku anterin ke rumah sakit besar lagi ya? Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu sayang" ucap Rafa khawatir.


" Beneran loh ya... Kamu jangan kaya gitu lagi lain hari. Sekarang aku tidak enak dengan Pak Damar kalau bertemu di Kantor." kata Alya sedih dan menundukkan kepalanya.


" Masalah Kak Damar gampang nanti biar aku yang jelasin ke dia jadi kamu jangan sedih ya sayangku" ucap Rafa sambil mengelus rambut Alya.


" Apa... Kak Damar??? kamu sudah kenal sebelumnya dengan Pak Damar?" tanya Alya serius.


" Emm maksud ku tadi Pak Damar. Kamu salah dengar yang..." jawab Rafa ngeles.


" Iya kali ya... Sudah lah... yang penting aku sudah ceritakan semuanya sama kamu. Aku harap kamu jangan kekanak-kanakan lagi kaya tadi ya..." ucap Alya.


" Iya sayang beres..." kata Rafa.


Rafa lega karena memang Alya tidak ada hubungan apa-apa dengan kakaknya. Tetapi yang perlu diselidiki Rafa sekarang adalah siapa yang berani-beraninya ingin mencelakai kekasihnya itu.


Dan herannya lagi Pt. Darent itu bukan perusahaan ecek-ecek. Masa sistem keamanannya tidak berguna seperti itu. Pasti orang yang punya kekuasaan juga disana.


"Jangan-jangan Kak Damar yang melakukan ini semua" kata Rafa di dalam hati.


" Rafa... Awas...!" teriak Alya.


Rafa pun sadar dari lamunannya dan mengerem mobilnya yang hampir menabrak orang yang sedang menyeberang.


" Rafa... Kamu tidak apa-apa kan? Kamu sedang mengantuk ya? tanya Alya.


" Sayang maafin aku ya... Iya sayang aku mengantuk" kata Rafa berbohong.


" Hati-hati sayang nyetirnya. Apa perlu aku yang gantiin biar kamu bisa tidur." ucap Alya.


" Tidak yang..." kata Rafa.


Setelah setengah jam, mereka akhirnya sampai juga di depan rumah Bu Endang.


Alya tidak sadar kalau sudah di depan rumah Bu Endang. Ketika Alya sudah mulai sadar. Alya syok melihat sudah ada dua mobil terparkir disana. Alya tahu itu mobil papahnya. Tetapi sebelahnya itu Alya juga pernah lihat tetapi dia lupa dimana.


" Sayang gawat..." kata Alya sambil memegang tangan Rafa.


" Kenapa sayang?" tanya Rafa santai sambil membuka sabuk pengamannya.


" Di dalam kayanya ada Papah Mamah aku yang... Ini gimana? Aku tidak mau keluargaku kenal sama kamu dalam keadaan seperti ini." kata Alya ketakutan.


" Maksud kamu apa sayang? Selama kita di jalan yang benar kenapa harus takut. Sudah ayo turun. Jangan takut... Aku selalu ada disampingmu." kata Rafa sambil keluar dari mobil.


Dan tidak lupa membukakan pintu mobilnya untuk Alya.


Ternyata semua orang disana sudah berdiri di teras dan melihat mereka berdua keluar dari mobil dengan bergandengan tangan berjalan bersama masuk ke rumah. Wow melihat itu Papah Alya tidak bisa menahan emosinya lagi.


Tiba-tiba berjalan dan.....


" Deeesssss" pukulan Ammar di pipi Rafa.


" Papah...!!!" teriak Alya.


" Papah kenapa begitu lancang memukul Rafa" tanya Alya berdiri di depan Rafa.


" Ooo jadi begini putri papah... Membela laki-laki brandalan daripada papanya sendiri !!!" bentak Ammar.


Annita pun menghampiri Ammar dan mengusap pundak Ammar.


"Sudah pah... Sudah..." ucap Annita sambil menangis.


Alya pun menangis karena dibentak Ammar.


" Maaf om maaf..." kata Rafa kepada Ammar sambil memeluk pundak Alya.


" Saya bisa jelaskan semuanya om" kata Rafa.


" Minggir kamu... Aku tidak tahu kamu siapa. Yang jelas kamu sudah membawa putriku sampai selarut ini !!!" bentak Ammar pada Rafa.


" Cukup pah cukup !!! Ini semua salah Alya bukan salahnya Rafa. Alya yang membawa Rafa dalam masalah ini pah..." kata Alya sambil menangis.


Melihat Alya menangis Rafa pun tidak tega begitu pun Ammar.


_Bersambung_