
" Ayo sayang... Aku anterin kamu dan Bu Endang" ajak Rafa.
Sebelumnya Alya mau menolak ajakan Rafa tetapi setelah ingat omongan papanya tadi malam. Alya pun mau diantar Rafa ke kantor. Karena Alya berpikir dia sudah melakukan semua perintah papanya tetapi balasan papanya seperti itu kepadanya.
" Maaf nak Rafa, Ibu tidak bisa ikut bareng dengan kalian." kata Bu Endang.
" Kenapa Bu? Biasanya Ibu kan selalu antar Alya ke kantor..." kata Alya.
" Iya Bu Endang, tidak apa apa biar saya antar Ibu..." tegas Rafa.
"Begini Nak Alya, Nak Rafa... saya tidak enak kalau Nak Rafa harus antar saya. Karena saya biasanya jualan ke Pasar Besar." kata Bu Endang menjelaskan.
" Tetapi kan searah dengan kantor Alya juga. Nanti saya akan anter Ibu ke Pasar. Ayo Al dan Ibu cepat masuk. Keburu siang" ucap Rafa sambil membukakan pintu mobilnya untuk Alya dan Ibu.
Alya menolak untuk duduk di depan bersama Rafa. Jadi yang duduk di depan Bu Endang. Selama di dalam mobil Rafa memandangi Alya yang hanya diam dan memandang ke arah luar.
Rafa merasa kalau Alya sedang ada masalah.
Setelah sampai di depan kantor. Rafa pun membukakan pintu mobil Alya.
" Terimakasih sayang..." kata Alya sambil tersenyum.
" Iya sayang" jawab Rafa.
Alya pun pamitan dengan Ibu Endang yang masih di dalam mobil.
" Sayang..." kata Rafa.
" Ada apa yang..." jawab Alya menoleh ke arah Rafa
Rafa pun menghampiri dan memegang kedua tangan Alya.
" Sayang, kalau kamu ada masalah cerita ke aku. Jangan kamu pendam sendiri." kata Rafa
Alyapun hanya diam mendengar perkataan Rafa.
" Sayang.." kata Rafa
" E .. iya sayang terimakasih. Sudah ya aku masuk dulu. Bye..." kata Alya sambil melepaskan tangan Rafa dan melambaikan tangan untuk Bu Endang dan Rafa.
Dari kejauhan Damar melihat kemesraan Rafa dan Alya dari dalam mobilnya yang ingin masuk ke dalam kantor.
Damar pun melewati Rafa yang masih berdiri di depan pagar. Tanpa menyapanya sedikitpun.
Sebenarnya Rafa tahu kalau yang baru saja lewat di depannya itu kakaknya. Tetapi Rafa pun tidak terlalu memikirkan sikap kakaknya.
Kemudian Rafa masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobilnya untuk ke pasar tujuan Bu Endang.
#Di kantor Damar
" Sarah..." panggil Alya saat melihat Sarah berjalan memasuki kantor.
" Al... tumben loe udah datang jam segini. Biasanya kesiangan loe." kata Sarah sambil menggandeng sahabatnya itu.
" Haahaa gue di antar Rafa, makanya gue sampek sini kepagian" jawab Alya.
" Tumben... Rafa sudah tau tempat tinggal loe yang sekarang. Loe sudah beritahu Rafa... tapi loe nggak beritahu gue Al???" kata Sarah sambil memegang tangan Alya.
" Nanti saja ya gue jelasin ke loe. Gue antar kue ini ke kantin dulu ya..." ucap Alya sambil melepaskan tangan Sarah.
" Ngeles saja loe Al... Loe memang nggak setia kawan sama gue" kata Sarah memanyunkan bibirnya.
" Haahaa janji deh nanti gue cerita" ucap Alya sambil lari meninggalkan Sarah menuju ke kantin
Setelah tiba di kantin Alya pun menitipkan kue nya.
" Lho mbak kemarin kenapa tidak menitipkan kuenya" kata Ibu kantin.
" Kemarin kue nya sudah laku terjual Buk semuanya..." jawab Alya sambil tersenyum.
" Syukurlah mbak... Semoga kue hari ini dan dagangan Ibuk laris manis ya hari ini mbak" kata Ibu kantin.
" Amin... Ya sudah ya buk saya kembali kerja dulu." pamit Alya.
" Iya mbak" jawab Ibu kantin.
#Di Ruangan Damar
" Ya Tuhan kenapa perasaanku seperti ini kepada pacar adikku sendiri. Padahal sebentar lagi aku akan ada perjodohan itu !!!" kata Damar sambil mengacak-acak rambutnya.
" Padahal gue jarang tegur sapa dengan perempuan itu. Ahhhhhh !!!" kata Damar.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangan Damar. Siapa lagi kalau bukan Indra.
" Masuk..." kata Damar.
" Pak Damar saya baru saja mendapat undangan dari Pak Ammar Adijaya untuk Bapak dan beberapa staff karyawan Bapak" ucap Indra sambil melihat kearah meja Damar yang berantakan.
Indra pikir Bosnya kali ini sedang ada pikiran. Mungkin karena kemarin kalah tander.
" Kenapa Sherly? tanya Indra serius.
" Iya dia juga ikut handel keuangan kita. Salah satu orang kepercayaan gue. Loe harusnya seneng donk bisa dinner gratisan dengan Sherly" kata Damar sambil melanjutkan pekerjaannya.
" Bapak Damar yang terhormat sebagai bawahan Bapak saya ingin menjelaskan hubungan saya dengan Sherly itu tidak ada hubungan apa-apa. Sudah ya Pak saya ijin keluar dan melanjutkan pekerjaan saya..." ucap Indra dengan tegas.
Damar pun tertawa melihat ekspresi Indra.
Karena Damar tahu kalau Indra tidak menyukai Sherly tetapi Damar tahu kalau Sherly benar-benar mencintai Indra. Dan ini alasan Damar selalu menjodoh-jodohkan Sherly dengan Indra. Dan mereka bertiga bersahabat sejak kuliah.
Saat jam istirahat tiba. Damar pun enggan untuk makan siang. Dia kemudian membaca undangannya tadi di sudut meja kerja. Dia bingung akan datang atau tidak.
Pasti keluarganya juga di undang oleh mereka.
Disaat bersamaan di kantin PT. Darent, Sarah dan Alya seperti biasanya, mereka makan siang di meja paling pojok di kantin. Kali ini Sarah membeli kue Alya beberapa biji. Karena untuk para pegawai di bagiannya.
" Al gue beli kue loe banyak ini... Nggak di diskon Al... hahaha" kata Sarah bercanda.
" Hahahaha... ya nggak lah. Kan nggak lagi ada promo" balas Alya.
" Hahahaha... Harga teman donk Al ?" canda Sarah.
" Bisnis ya bisnis... Teman ya teman..." kata Alya sambil menyendok makanannya.
Suasana Alya dan Sarah semakin ramai karena candaan mereka. Tidak sengaja Indra menyaksikan keceriaan dua sahabat itu karena Indra ingin makan siang di kantin juga.
" Alya kamu begitu cantik saat kamu tertawa" kata Indra dalam hati.
Tiba-tiba lamunan Indra di buyarkan oleh pelayan kantin yang ingin menawarkan makanan. Di kantin PT. Darent semua makanan dan minuman yang di jual yaitu makanan dan minuman kelas hotel bintang 5. Harganya pun mahal-mahal. Sehingga kalau ada pegawai yang membawa bekal pasti hanya dilihat dengan sebelah mata.
Indra melihat Alya dan Sarah berjalan ke sebuah tempat makanan di ujung. Beberapa saat kemudian mereka keluar dari kantin. Indra pun penasaran dan berjalan ke tempat makanan tersebut.
" Permisi Bu... Saya ingin membeli Kue ini" kata Indra sambil menunjuk ke arah kue Alya.
" Maaf Pak Indra ingin membeli kue ini?" tanya Ibu kantin keheranan.
" Iya Bu memangnya kenapa?" balas Indra.
" Tidak apa-apa Pak. Pak Indra mau beli berapa?" tanya Ibu kantin.
" Semuanya bungkus Bu...!" kata Indra.
Setelah Indra membayar semuanya dan meninggalkan kantin. Ibu kantin tersebut masih keheranan melihat Pak Indra yang tidak seperti biasanya ini. Karena biasanya orang-orang atasan kaya Pak Indra tidak pernah membeli makanan maupun kue-kue seperti barusan.
Saat masih jam istirahat. Indra pun pergi ke ruangan sahabatnya yaitu Damar.
Tanpa mengetuk pintu Indra pun masuk ke ruangan Damar.
" Hai Bro...! Ini gue bawa kue banyak" kata Indra sambil berjalan ke arah meja kerjanya Damar.
" Gue males makan ndra... Loe makan saja" jawab Damar yang masih mantengin komputernya.
"Gue tahu loe Bos disini. Tapi sekarang ini masih jam istirahat Bro !! Jangan kerja mulu... Makan itu perlu tahu !! " kata Damar sambil duduk di sofa.
" Loe bisa bilang kaya gitu... Tapi kenapa loe bawa kue doank... Kenapa nggak nasi atau apa lah" kata Damar sambil melihat bawaan Indra.
Indra pun terdiam...
" Sudah lah... ini tangkap kuenya..." ucap Indra sambil melempar kue ke arah Damar.
" Kurang ajar loe ndra... Gue ini Bos loe !" kata Damar dengan mata melotot kepada Indra.
" Hahaha... Bos gue kalau jam kerja kan... Kalau di luar jam kerja... Gue sahabat loe !!"
kata Indra sambil makan kue Alya.
Akhirnya Damar makan kue itu karena merasa begitu lapar.
" Ndra loe beli kue ini dimana? tanya Damar penasaran.
" Mau tahu banget atau mau tahu aja !!" canda Indra sambil tiduran di sofa.
" Gue ini serius... Gue heran kenapa loe mau beli kue pasar kaya gini. Ini bukan selera loe Ndra..." ucap Damar.
" Kuenya enak... apa ada yang salah kalau gue beli" kata Indra sambil menggigit kue tersebut.
" Jangan bilang loe beli kue ini di anak magang itu" kata Damar sambil berdiri.
" Bentar-bentar ekspresi loe berlebihan banget Mar" ucap Indra dengan bangun dari sofanya.
" Udahlah Ndra intinya loe hari ini beda dari Indra biasanya. Yang tidak suka jajan sembarangan. Sekarang jam istirahatnya sudah selesai. Cepat loe lanjut kerja !" perintah Damar.
" Oke." jawab Indra.
Damar pun merasa kalau Indra sedang menyembunyikan sesuatu dari dia.