Love Tragedy

Love Tragedy
Ketemu calmer, Mommy love you



Selamat membaca ya gaes๐Ÿ“‘๐Ÿ““๐Ÿ“–, tapi jangan lupa like komen vote dan giff kalau ada.


Eric memasang heandset kecil pada sebelah telinga sambil berdendang ria mendengar lagu yang kekinian, memakai helem pada kepalanya dan menstarter Motor kawasaki miliknya. "Menjemput Dinda pujaan hatiku" hatinya bergumam.


Asya keluar dari kamarnya berdadan cantik memakai hot pant di atas lutut dan kaos Berwarna biru senada dengan warna celananya tak lupa jaket kulitnya,ia juga megerai rambut panjangnya yang sangat indah,sambil menuruni anak tangga menuju halaman rumah.


Plak...plak ...plak.. suara sepatu snickers warna hitam kesukaan Asya.


Dengan hati berbunga dan senyum merekah terpampang jelas di wajahnya. hingga suara bass milik Irvan meganggu lamunanya.


" Mau pergi ke mana dek ?". ucap Irvan dari arah meja makan.


"Asya mau pergi ke kantor Papa Kak!". jawabnya.


" Ke sana boleh tapi jangan pamerin aurat tubuhmu, gak pantes di lihatnya".


"Lho Kakak bagaimana sih ?,Asya kan pakai jaket, aurat yang mana coba?,ini baju masa kini Kak!"


" Noh lihat paha putihmu terpampang jelas,mau di pamerin sekalian di galeri?".


" Kan kalau duduk aja kelihatan pendek, kalau berdiri mah celananya pas selutut, ih...kakak mah gitu?". Bantahnya. "Masak ia kekantor Papa pakai gamis kan gak lucu!,dasar Kakak gak tau fasion,adik secantik ini mau di sembunyiin tetep aja mentereng seperti berlian".Gerutu Asya.


"Ya ampun cewek satu ini. Kakak ganti baju dulu tunggu sebentar nanti Kakak antar."


" Lho katanya siang ini mau ke kantornya kak Tyo. bilangnya mau disain tokoh gremer baru. Lupa ya?".


"Nanti habis antar kamu baru Kakak ke sana,santai aja".Irfan kemudian manaiki anak tangga menuju kamar tidur miliknya untuk segera mengganti baju casualnya.


Srmentara itu di depan halaman rumah terdengar deru motor milik Eric.


Asya berlari secepatnya menemui Eric agar sang kakak tak jadi membuntutinya setiap waktu!".


" Kak Eric ayo cepat kita berangkat,mupung Kak Irfan masih di kamar". Ajaknya.


" Ya sudah kalau gitu nih pakai helemnya dulu biar kita gak kena semprit peluit pak polisi. Kalau kena peluit Pak capil biar kita cepat nikah sih gak masalah". Kata Eric tersenyum ๐Ÿ˜Š


"Aaaa... Kakak, ngeledek aja bisanya, ayo cus ke sana, nanti keburu kak Irfan datang".


Akhirnya merekapun pergi meninggalkan rumah Asya menuju kantor Daddy Kiko.


Setibanya mereka di depan kantor Daddy kiko,mereka di sambut Pak securiti yang sedang berjaga di depan gedung pintu masuk.


" Siang Bos muda ",sapa Pak securiti.


"Siang Pak Amin, pak tolong parkirkan motor saya di tempat biasanya ya!".


" Siap Bos muda!". Pak Aminpun mengambil kunci motornya dan melakukan apa yang di perintahkan Bos mudanya Eric.


Mereka menaiki ruang liff menuju ruangan Daddy kiko.


"Kita tunggu saja di sini ya Dinda cantik". Kata Eric dan mendudukan bokongnya di kursi kebesaran milik Daddynya kemudian Eric memakai kaca mata minusnya


Asya yang melihat itu bergumam dalam hati.


" Sial tampan banget dan makin kelihatan dewasa, apa lagi saat dia serius begini jadi dag dig dug deh jantung gue.Sebenarnya dia itu beneran gak sih suka ke aku habis sok cool gitu ga tung rasa ini,atau jangan jangan cuma baperin hati gue, andai saja dia nembak gue saat ini, pasti gak bakal gue nolak deh, ih Asya apasih isi otak lo". Gumam Asya dalam hati


#Bahkan saat ini wajah Asya berubah memerah dan tersipu malu malu kucing meong๐Ÿ˜Š. Jinak jinak merpati di baperin nginjak tai๐Ÿ™ˆ๐Ÿ˜ธ.#


Setengah jam berlalu dalam ke bisuan. Eric menyelesaikan tugas secepatnya dan menutup,serta menyusun kembali map berisi kontrak kontrak kerja perusahaan Daddy nya.


Matanya melirik ke arah pujaan hatinya yang duduk di depan meja kerja sambil memainkan hp miliknya.


"Ya ampun cantik banget sih,bikin hati melayang deh". Batin Eric, bahkan kedua matanya tak luput melihat kedua paha mulus Asya, membangkitkan gairah di bawah sana.


" Hais...ya trun on sudah adik kecil gue".Batinya melihat batangnya bangun dan membuat sesak dalam celana yang ia pakai. " Sabar Eric, tahan tahan. Tarik nafas hembuskan, tarik lagi hembuskan." keluh nya mengontrol hawa nafsu sendiri.


Asya melihat Eric meniup niup rambutnya membuat dia tertawa geli tingkahnya layak di bilang anak smp sedang kasmaran. " Kak ngapain sih tiup tiup rambut buat aku geli deh, Btw pada ke mana sih Om dan Papa?.Kok ruanganya sepi gini?".


Eric berjalan mendekat kemudian duduk di sebelah Asya. " Meraka lagi meeting cantik,emmm Kak Eric mau nanya nih?, tentang hal yang kemarin jadi gimana terima gak persaan dan hati Kakak yang cuma untukmu,jawab dong tapi jangan di tolak ya,cukup tolak angin aja boleh".


Asya tersenyum manis menampakan gigi putih kecil tersusun rapi. Kemudian menjawab pertanyaan Eric, " Katakan dulu pada Asya kalau Kakak cinta mati ke Asya, karena Asya tahu sikap kak Eric yang suka mempermainkan cewek,sebelum aku tembak kepalamu karena mempermainkan perasaanku!. Asya tau banyak cewek yang sudah jadi korban ke ganasan hati kak Eric".


" Sadis amat Beby,itu bukan kakak yang mempermainkanya tapi mereka sendiri yang suka baper,kalau tak percaya boleh deh tanya sama kakak dan adik aku!".Eric kemudian melepas kaca matanya dan menyimpan di kantong bajunya. Eric kemudian menyesap lembut bibir mungil merah alami milik Asya,sebagai tanda hari ini,detik ini mereka resmi jadian.


Tanpa sepengetahuan mereka di depan pintu masuk yang tak terkunci atau tertutup rapat para bapak sudah mengintai melihat adegan romantis kedua anak remaja itu. "Shuut...". Jemari Kiko menempel di bibirnya saat Jody ingin bersuara dan akhirnya keduanya dengan serius melihat drama romantis anak muda yang saling adu ciumman.๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š.


" Sebenarnya bukannya Kak Eric yang tebar pesona ke para gadis itu tapi mereka sendiri yang salting melihat senyuman mautku, kamu tau akukan dewa cinta bagi para wanita di SMA".Ucapnya dengan bangga setelah melepas pangutan lembut bibirnya.


"Hemm itu hal yang tak aku sukai Kak,menjadi kasanova celup sana sini, mengobral bibir untuk di nikmati para gadis yang mengejarmu,jijik lihatnya aku Kak,dan sekarang kau curi my frist kiss."


"Eh...tunggu dulu kalau untuk celup sana sini itu gak ya. Aku masih perjaka dan bukan penganut sekss bebas. Ciuman itu mereka sendiri yang suka mencuri dariku Asya. Belife my Asya pleace".


"Nah itu dia yang buat aku ragu takutnya kak Eric cuma bermain main denganku,mending Kak Eric cari wanita lain aja sebelum aku memanahkan busurku tepat ke jantungmu, membuatmu cepat mati karena mempermainkan perasaanku".


Jody hanya tertawa tanpa suara dan kembali mebisikan ke telinga Kiko." Sadiskan macam Omanya".


"Oh ayolah aku sudah menunggu jawaban darimu ini". keluh Eric yang sudah tak bersemangat lagi.


"Asya bakal nerima dengan satu syarat setialah,bisa gak putusin semua cewek yang kamu miliki. Kak taukan aku tak ingin di duakan!".


" Dengan senang hati Dinda.." ucap Eric dan tersenyum bahagia kemudinan mendekap wajah Asya dengan kedua telapak tanganya, Eric hendak mencium bibir mungilnya kembali hingga suara bariton berdeham bersamaan.


Ehem...ehem.. plak, suara tepukan setumpuk kertas dalam map kerja mendarat di atas kepala Eric.


" Ooo jadi gini kelakuaan kalian di ruangan Daddy, gak nyangka Daddy ternyata kelakuan dad ada yang mewarisi". Senyum Kiko dengan bangga.


"Daddy" ucap Eric terkejut.


" Om" sapa Asya.


Mereka berduapun saling tatap dan malu oleh ulahnya sendiri.


" Sebaiknya kamu jauh jauh dari Eric. Asya". Tegur Jody. " Kamu masih sekolah Asya dan masih kelas 2 SMA, ini kok cinta cintaan belum pantas ya,apa ingin buat oma marah?". Jody kemudian menaruh fail fail yang dia bawa dari ruang meeting ke atas meja kerja Kiko.


"Pa Asyakan mau umur 17 tahun nanti malam,kata oma boleh kok asal umur Asya sudah tuju belas" bantahnya.


"Terus kalau sudah 17 boleh cinta cintaan gitu?. Uang saku aja masih minta Papa". Ucap Jody. "Katakan tujuanmu ke sini itu Apa? Eric, Om gak mau putri ku satu satunya termakan buaya seperti mu!". Sahut Jody dengan tegas.


"Mau melamar anak Putri Om jika di perbolehkan dan masalah uang saku Eric ingin yang memberinya nanafkah biarkan Eric bertunangan dengan Asya,restui kami Om".tegasnya.


" Ah....gak jangan,Kak Apa apaan sih?. Asya mau minta Izin tanding ke jepang minggu depan Pa bukan masalah ini, Asya masih kecil Kak, Kak Eric pedofil".


" Nah itu, Eric juga mau izin bulan madu dan tanding sesama Hackres di sana jadi sekali dayung tiga empat pulau terlampaui,jika perlu Eric siap nikah Om, Daddy! ".


Kiko tertawa cekakan," Ha...ha...ha.. Sayang sayang yang ada itu dua pulau bukan tiga empat๐Ÿ˜, jadi bagaimana ini Jo?, aku sih setuju setuju aja Asya jadi menantu gue".


"Tuhkan bener, Kak Eric pedofil, kita putus aja deh,gak jadi deh jadian Asya belum siap jadi ibu untuk anak anakmu Kak. Bolehkan Pa Asya ke jepang?".


"Kita keruangan Papa aja deh Asya". Jody mengajak putrinya.


"Ok' kita ke sana aja pa". Asya lalu merangkul pinggang Papanya.


"Dinda terus bagaimana dengan hatiku?. tanya Eric.


" Sebodo teing lah,selamat melampaui pulau pulaumu yang lainya". Balas Dinda. kemudian terdengar suara dering di HPnya.


"Hallo Mommy Asalamualaikum" kata Asya.


"Walaikum salam anak cantik. Nanti sore ke rumah Mommy ya, kita rayakan ultahmu di rumah Mommy, jangan sampai telat".


"Baik Mom,love you Mom ", jawab Asya lalu sambungan telponpun terputus.


"Lihatlah Daddy yang jadi anaknya itu aku tapi Mommy selalu menghubungi Asya, dia pantaskan jadi menantu Dad and mom?".


"Makanya raih hatinya biar dia jadi mantu Dad and Mom". bisik merka berdua.


Jody dan Asya pergi meninggalkan ruangan Big bossnya menuju ruanganya sendiri.


" Daddy setuju gak kalau Eric nikah muda?".


"Dad gak bisa jawab Eric, jodoh,maut,rezeki, sudah ada yang mengatur jadi kita jalani saja". Kata bijak itu keluar dari mulut Kiko dan menepuk sebelah bahu anaknya.


-


-


Di rumah kediaman Kiko, Albert yang sibuk mengatur acara barbeqiu dan membuat beberapa cemilan kesukaan anaknya merasakan mual saat mengadoni adonan telur pada kue tart di bantu Liya yang baru datang dan masih juga setia menjadi Asisten, tapi saat ini bedanya dia menjadi CEO di perusahaan Albert.


"Waduh kenapa dengan perut ku hari ini kok serasa mual gini?". keluh nya sambil memijit keningnya sendiri.


"Wah...jangan jangan hamil Kak"!. suara Liya dari arah pintu ruang tamu.


"Hai... kapan datang?,katanya mau bantuin, ini kok baru datang?".


"Masih ada meeting dadakan.,mana nih yang mau di bantu?", Liya kemudian megulung lengan kemejanya.


" Kita ke kamar aku aja dulu toh rotinya masih panas. kita bikin pulau aja di pugungku pakai koin dan minyak kayu putih, hehehe...".


"Al mending kamu periksa aja ke dokter langgananmu atau bisa panggil Tompy ke sini?". Tutur Papa Suji yang sudah sangat tua bahkan untuk jalan saja dia memakai kruk besi atau tongkat.


"Wah kalau itu bisa bakar hati suami aku Pa, Papakan tahu Mas Kiko itu posesif, Pa Al tinggal dulu bentar ke kamar, ayo Liya". Merekapun pun pergi ke kamar dan membuat pulau di punggung Albert.


***


Bersambung ya mudah mudahan banyak yang suka dan nimbrung di kolom komentar๐Ÿ‘๐Ÿ˜Š