
Kiko masih berbincang dengan seseorang hingga pukulan keras terasa di belakang kepalanya membuatnya berdengus kesakitan lalu membalikkan tubuhnya melihat siapa yang memukulnya.
" Auwh...Sakit Pa!". keluh Kiko.
" Baru juga segitu, coba kamu lihat lelaki tua di sana melihat anaknya yang kau sakiti bagaimana perasaanya belum lagi dia merasakan sakit stroknya?."
"Argh.....ia ia Kiko salah" jawabnya sambil mengacak ngacak rambutnya sendiri.
" Sekarang pergi dan minta maaflah padanya atau menungguku meninjumu terlebih dahulu di sasana tinju muangtai yang sedang aku senangi saat ini, bahkan tenagaku tak kurang lebih darimu, yaaa wakaupun umurku tak semuda dulu" tutur Ridho sang Papa yang sudah makin menua di makan usia.
" Bar bar, sadar umur opa tua"!.
"Dasar anak kurang seperempat", bantah Ridho.
Kiko berjalan ke arah istrinya untuk meminta maaf duduk berpaku pada lututnya di pinggir ranjang.
" Maaf Sayang, aku tak akan mengulanginya atau menghajar Aby, aku..aku hanya tak ingin melihatnya jadi bense terus tak sadar dengan jati dirinya!".
" Pappy Pappy berapa kali aku harus mengulangi hal ini, itu hanya hoby dan sangat menghasilkan cuan,bukan seperti yang ada dalam otakmu yang keseleo!".
" Baiklah baiklah aku memepercayaimu, biarlah waktu nanti yang menjawab" jawab Kiko dan memeluk tubuh Albert sambil mengecup keningnya.
Tak lama setelah mereka berbaikan dan mengumpul sambil bersenda gurau di ruang keluarga Dokter Rara pun datang, Dokter langganan keluarga, Kiko tak menginginkan Dokter keluarganya laki laki dengan segudang alasanya ia tolak, apa lagi Dokter Tompy yang bersedia kapanpun di butuhkan tanpa di pungut biaya pun ia tak bersedia pada hal masih masuk dalam jajaran saudara.
" Sore menjelang malam, maaf ya jalanan agak macet jadi ya gitu deh lambat datangnya" ucap Dokter Rara yang sudah berumur setengah abad lebih.
" Tak apa Dokter, lho tapi siapa yang sakit?". tanya Maria.
" ini Mam yang sakit Albert. yuk sayang kita langsung ke kamar atas saja di kamar kita biar Dokter Rara dengan leluasa memeriksamu"!.
Albert hanya bisa menuruti apa kata sang suami menuju ruang pribadinya. Albert kemudian berbaring di tempat tidur dan siap untuk di periksa.
" Jadi sejak kapan anda sering mengalami gejala pusing?, sering pingsan?".
" hampir semingguan ini Dokter "!. jawab Albert sambil merasakan dinginya alat stetoskop yang menempel pada perutnya.
" Apakah selama berhubungan intim kalian memakai pengaman atau tidak? dan apakah se*per*ma sang suami di keluarkan di dalam? ". tanya sang Dokter lagi.
Dokter pun menyarankan ubtuk mengetes pada alat yang bernama taspack di kamar mandi, memberi wadah kecil dan meninggalkan sejenak tak tagung tagung lima alat di suruh memakai semua.
"Akupun tak begitu berharap dan antusias, setelah merasakan beberapa kali keguguran dan beberapa tahun penantian bagai bebal rasa yang aku rasakan. aku hanya mengelus perut rataku ini dan berkata andai kamu ingin hidup dan ikut Mommy silahkan tapi jika tiadak jangan beri Mommy dan Pappy mu harapan" batinku sambil meninggalkan alat itu di dalam kamar mandi.
Kini Kiko lah yang antusias menunggui alat itu, lima menit kemudian Kiko masuk dalam kamar untuk melihat alat brengsek itu lagi yang membuat hatiku makin gundah gulana.
" Sayang dua strip sayang dan kamu positif ini " ucap Kiko penuh antusias.
" Saya kira tak perlu di jelaskan lagi untuk pasangan gala tua seperti kalian, sebaiknya kalian periksakan ke bagian obgyn di rumah sakit atau ke tempat anak saya?". kata Dokter.
" Baiklah aku lebih pilih ke anak kamu saja yang sudah biasa menangagi Albert, dan jangan bilang gala tua padaku!". cebik Kiko tak mau di katakan tua.
" Ya sudah usia ke emasan saja bagaimana?, Albert usahakan ke hamilan kali ini jangan kerja dulu jangan banyak fikiran tak bagus untuk mu," canda Dokter.
" Ya ampun usia emas' bukankah itu cocok untuk oma Maria dan Opa Ridho" jawab Kiko tak terima.
" Sudah sudah Pa, Tante Rara cuma bercanda" jawab Albert.
" Aku tidak tua tapi matang" dongkol Kiko masih seputaran usia.
" Baiklah Tante pulang dulu ya Albert jangan lupakan pesan saya tadi" pamit Rara.
" Trimakasih Dokter tante Rara". ucap Albert.
Kikopun mengantar sampai depan rumah menuju mobil Dokter Rara. setelah itupun Kiko kembali ke kamar kami.
" Jadi?". tanya Ridho ke anaknya berjalan mengikuti langkah anaknya.
" Positif Opa dan nanti malam kami kroscek ke Dokter Obgyn langganan Al". jawabnya.
" Semoga calon baby itu mau dan betah di rahim istrimu dan Papa ingatkan kontrol emosi dan nafsumu, karena di sini Papa tau siapa yang sabar dan tidak, siapa juga yang suka cari masalah?". tutur Ridho penuh penekanan kemudian ia meninggalkan Kiko dan berbincang kembali dengan besanya.
****
Bersambung jangan lupa budayakan like komen dan share ke teman kalian,pencet 💜 biar tau up date lanjutanya, Trimakasih banyak yang mau ke karyaku