
Sore menjelang malam sekitaran pukul 17.30 wib, Aby pulang dari tempat kerjanya di antar oleh bawahanya, siapa lagi jika bukan Rey si penggoda hati.
" Sudah biar aku saja yang menutup pintu itu, kau langsung masuk aja ke rumah Pappy mu" suruh Rey dengan menutup daun pintu mobil milik perusahaan dan berputar ke daun pintu sebelah nya lagi yang saat ini di duduki Aby.
" Terus barang aku siapa donk yang bawain Kak Rey, berat lho, kenapa sih ini seatbelt susah sekali di bukanya?". Aby.
"Dia itu jinaknya kalau sama tangan aku, mundur sedikit biar aku yang buka!". Rey membuka daun pintu mobil dan membuka juga seatbelt yang ngandat di samping tubuh Aby, " nah terbukakan, sekarang mana upah aku?". Rey menunjuk pipinya supaya di kecup Aby.
" Selalu begitu, membuat aku cagung saja" Aby diam sejenak bingung mau apa, karena dalam hatinya masih saja bertanya "Nih cewek apa cowok, aku yakin kok kalau aku bukan G A Y ! atau bengkok seperti di katakan Pappy tapi aku malu untuk menanyakan gender ini padanya" batin Aby.
Cup....
" Kelamaan mikir, biar aku saja yang bertindak, silahkan turun Aby pemilik hatiku" ucap Rey memundurkan tubuhnya sedikit kemudian menutup pintu mobil sambil mengukung tubuh Aby merapatkan pada mobil yang tertutup, melumyat sedikit panas pada bibir Aby, sedangkan Aby cukup menikmati.
" Masuklah biar aku mengakatkan semua peralatanmu". tutur Rey dan di anggukin kepala oleh Aby sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
Kiko yang melihat dari lantai atas geram di buatnya, " Dasar biang Bengkok datang" makinya sambil turun ke lantai bawah dan ingin berbincang pada Rey agar menjauhi anaknya.
Rey ikut masuk ke dalam rumah dan melihat para gala muda kumpul di kamar depan milik Tyo ramai bersama bersenda gurau sambil mengerjakan projek gremer pesanan salah satu perusahaan.
" Hai gaes ramai betul". sapa Rey.
" Hai Bro ini dia yang gua nanti dari tadi, pada hal gua mau telponin lu dan nawarin ini projek, bikinin gua lima karakter antagonis dong dan tolong juga benerin nih karakter protagonisku"!. cicit Tyo.
" Auw...auw..bicara yang jelas inikan projek besar berapa harga satu pasang karakter tokoh yang aku buat ? janji lima selesai jika harganya pantas"?. jawab Rey melepas tangan Tyo yang bergelayut manja di kedua bahunya.
" Oh...Ayolah berapa kali projek kita di kerjakan olehmu dan selalu lolos, gua naikin aja 3% bagaimana?. jawab Irfan yang mendapat posisi sebagai adtministrasi.
" Benerni jadi bayaran gua naik, pertokoh kalian hargai 3 juta, 3x5\=15, Ok dill gua kerjain sekarang urusan duit seperti biasa ok". tutur Rey.
" Masalah duit aja nomer satu langsung cling otak lu, hu...." tutur Tyo sambil mendorong sedikit kepala Rey dengan jari telunjuk.
" Rejeki anak soleh, lima menit dapat lima belas juta dari mana gua dapet coba? lu tau sendiri hidup orang missquin butuh sogokan sedekah dari kalian gaes"!. bantah Rey.
" Gua suka karya elu, kenapa gak ngelamar ke perusahaan sih?, kan lumayan gajinya"!. jawab Tyo dan Irfan bersamaan.
" lu tau gua gak suka kerja yang terikat kasian adik kembar gua yang masih SD, nyiapin bekal belum lagi urus lain lainya, untung aja Perusahan Run selebration menegerti kondisi aku dan bisa sewaktu waktu cuti jika adik aku lagi kenapa napa?." jawab Rey.
" Ok' kita tinggal bentaran ya mau ambil cemilan sama minum buat lu, selamat kerjain buat yang bagus dan unik ya, yuk Fan kita cabut bentar penat nich". ajak Tyo dan memberi tablet besar untuk menggambar secara elektronik pada Rey.
" Siap laksanakan" Rey menerima tablet yang di serahkan padanya dan kemudian dia menggambar dengan pensil elektriknya tapi sebelumnya ia membaca karakter apa yang di inginkan perusahaan Tyo.
Irfan dan Tyo ke dapur membuatkan minuman akan tetapi dapur penuh dengan jajaran wanita cantik, ada Asya, oma Maria dan para ceff yang mengarahkan mereka.
" Hallo leady , bisakah pesan minuman dingin jus avocado dan sepiring kecil cemilan untuk kami bertiga? dan tolong antar ke kamar kami ya."
" Tentu Tuan muda segera saya buatkan" sahut dua ceff perempuan yang bekerja pada Pappy Kiko. setelah memesan minuman itu Irfan dan Tyo berbincang kepada Oma Maria.
" Oma mana Opa? terus ke mana perginya Eric dan Aby?". tanya Tyo.
" Mereka ya di kamar masing masing lah, mana tahu kita?, ya Oma! ". jawab Asya sok cuek.
" Tadi sih Aby baru pulang kerja dan pamit mandi Tyo tapi kalai Erik oma gak tau"!.
" Serius amat Oma bikin apa sich jadi pinisirin Irfan?".
" Kalau Asya sibuk mantengi dan testy kue dan kopi yang di buat Oma sampai melembung nih perut".
Semua tertawa renyah di dapur itu hingga suara ribut dari arah kamar Aby.
" Sudah Pap, baru sejenak aku istirahat kau buat Aby babak belur, cukup ya Allah". Rintih Albert menahan lengan suaminya yang hendak melayangkan bogem mentahnya.
" Sudah Pappy bilang berapa kali jangan bergaul dengan si bengkok !, Pappy gak ingin kamu salah pergaulan Aby he....h" ucap Kiko dengan raut wajah merah padam menahan amarah.
" Dia tidak bengkok Pap, toh perusahan yang mempertemukan kami, jika ini di bilang hubungan Aby sendiri belum yakin Pap dengan perasaanku, tapi Pappy keterluan piala pialaku patah seperti ini, apakah Pappy tidak tahu betapa susahnya aku mendapatkan mereka?". jawab Aby.
" Lalu kenapa kalian berciuman tadi di depan mobil jangan kau pikir Pappy mu ini buta dan tak melihatnya!".
" Jangan campuri pribadiku lagi Pap aku lelah dan capek, Aku tak ingin bertengkar seperti ini setiap kali kita bertemu, aku hanya menitipkan Boks ini sejenak sampai lemari pesananku jadi dan aku susun di kamar Oma, tapi Pappy menghancurkanya bahkan sertifikat kualisasi yang aku dapat dari paris Papa sobek sobek tak berbentuk, sedih Pap". keluh Aby meratapi semua kerja kerasnya hancur.
" Ok' Pappy sadar Pappy salah soal itu tapi jangan harap aku akan memberi restu padamu, dan untuk kalian Eric dan Tyo jangan contoh adikmu yang gak jelas ini, Dasar durhaka". amarah Kiko makin jadi.
Semua keluarga yang berkumpul merasa jengah dengan sikap Kiko yang selalu otoriter terhadap Aby putra bungsunya. begitu pula Aby yang selalu sesegukan memecahkan tangis nya oleh hinaan Pappy nya yang tak bertagung jawab.
"Aby akan pergi, Aby tak akan kembali kekeluarga yang tak menerima Aby, Trimakasih sudah membesarkan Aby, Mommy' Aby sayang Mom, Aby lelah membuat Mommy selalu bertengkar dengan Pappy, Aby sudah cukup dewasa sekarang untuk menata hidup Aby sendiri" Aby dengan tegar mengepaki bajunya dalam tas rangsel dan juga mengepak boks yang isinya sudah tak karuan.
" Pulang saja ke rumah Oma sayang, tak usah kau dengarkan makian Pappy mu" ajak Maria.
Ridho juga geram melihat tingkah laku anaknya sendiri yang seolah olah menganak tirirkan anak sulungnya.
" Trimakasih Oma, tapi Aby pikir sebaiknya Aby pergi saja dari sini, Pappy coret saja aku dari daftar keluarga Aby ikhlas".
" Baiklah jika itu pilihanmu kembalikan kartu card sangu jajanmu yang selalu Pappy jatah tiap bulanya". ketus Kiko.
" Ini, uangnya masih sama bahkan mungkin bertambah, Aby tak berhak memakainya, sekali lagi Trimakasih banyak, kalau Hp ini Aby beli sendiri dengan uang Aby jadi Pappy tak berhak mengambil nya".
" Jangan tinggalin Mommy Aby, Mommy tak sanggup hidup tanpa Anak anak Mommy ". Albert menangis histeris melihat kepergian Aby yang sedang menyalami tangan semua kerabat keluarganya.
Asya dan Oma juga tak kuasa membendung rasa sedih mereka, Aby kemudian mengambil berkas berkas miliknya dan boks tadi. semua berjalan di belakang Aby tak tahu harus berbuat apa, hanya doa dan dukungan saja mereka beri, Kakak Aby sangat tahu betapa kerasnya Pappynya dan berpendirian teguh.
" Tyo, Irfan aku pulang dulu kerjaan dah kelar jangan lupa transferanya" canda Rey kemudian melihat adegan sedih di keluarga itu. " kenapa ini, mengapa semua menangis?". batinya bertanya.
" He ..lu bengkok, puas lo lihat keluarga ku pecah belah begini?". sentak Kiko.
" Hai... Tuan Prefeksionisme apa maksud anda dengan pertanyaan dan tuduhan seperti itu, jika dirimu sendiri tak bisa adil dengan anak anakmu, Tuan...Tuan... kau pikir ini jaman batu ck..ck...ck..?". Jawab Rey dengan mengakat bibir atasnya. " menuduh orang se enaknya, bolehkah orang kaya memaki semaunya sendiri apa lagi dengan anaknya yang tertuduh saja tak mengakui"!. cebiknya.
Kiko tak tahan dengan omongan Rey dan menghantamkan satu kepalan tinju ke arah mukanya, salah yang dia tinju guru karate alhasil Kiko terkapar sendiri, semua matapun terpana melihatnya.
" Hei Tuan jika ingin bertarung jangan di rumah anda tapi di sasana Tinju , apakah anda siap bertarung dengan saya?". sahut Rey, menggandeng satu lengan dan jarinya ia pautkan ke Aby mengajaknya pergi dengan mobilnya. " Macan di rumah aku masih ada satu kamar jika kau mau menempati, biarpun kami tak sekaya Tuan Prefeksionis itu tapi kami well come bagi siapa saja yang mau menghargai apa apa saja yang kami beri" tutur Rey.
" Baiklah sementara aku akan tinggal di rumahmu nanti selanjutnya aku akan sewa kontrakan atau kos untuk diriku sendiri " sahut Aby.
Aby memindai dengan matanya ruang rumah itu untuk terakhir kali sembari mengingat masa masa kecilnya dahulu, Albert terisak semakin kencang mendengar keputusan anaknya yang akan pergi hingga membuatnya pingsan, sedangkan para saudaranya menghargai keputusan Aby tak terkecuali Maria,Ridho dan juga Opa Suji yang hanya bisa diam di atas kursi rodanya, saling mendoakan cucunya.
****
Bersambung, Trimakasih banyak ya yang masih setia menunggu up lagi, dan mohon jangan lupa like komen dan share ke teman kalian.
komenmu menambah ispirasiku dalam berkarya, tekan ini juga ya gaes💜