
Maya, Fran, Jose, Daniel, Nichol, dan Dino kini telah sampai dirumah sakit. Mereka pun menuju ruangan Allesa dirawat.
Ruang 501
"Ma hari ini llesa mau pulang." Rengek gadis itu manja.
"Gabisa sayang, kamu kan pulangnya besok."
"Ih mama bilang ke dokternya dong, Allesa udah baik baik aja udah sembuh juga ma." Rengeknya lagi. Ibunya memandang wajah anaknya lucu. Ratna Ibu Allesa hanya memandang anak gadisnya lucu
"Mama please. I miss back to home."
"Iya iya nanti mama bilang ke dokter."
"Maka.."
"Hay beibsss.. Hay mama.."
Ucapan Allesa menggantung karna
kedatangan seseorang dari arah pintu.
Seorang gadis masuk kedalam ruangan dengan di ikuti teman temannya.
"Hay Ma.." Baru saja ingin berbicara, Allesa mengerjap melihat sahabatnya datang tak sendirian.
"Hay Maya." sahut Tante Rani
"Wah rame banget." Tante Rani tersenyum kearah Maya dan yang lainnya.
"Iyah nih ma soalnya mereka mau ikut jengukin Allesa." Jawab Maya sambil mencium tangan Tante ratna, teman teman Maya pun bergantian saling mencium tangan Tante Ratna.
"Yaudah kalo gitu kalian temenin Allesa ya. Tante mau keruangan dokter dulu nanti kesini lagi."
"Iyah ma." jawab Maya. Rani pun beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruangan.
Seketika hening. Namun lain halnya dengan dua orang yang sedang canggung dan saling mencuri pandang. kecanggungan mereka bisa ditangkap oleh Maya dan Fran.
"Ekhem... Ko sepi." seru Maya memecah keheningan. Maya mendekati Allesa dan duduk disebelah ranjang Allesa
"Eh... Kalian ikut jenguk juga?" tanya Allesa mengalihkan kecanggungan mereka semua.
"Iya Allesa, kamu apa kabar?" jawab Dino. Dino memang terbiasa pake aku kamu dengan siapapun lawan bicaranya.
"Terima kasih Dino." jawab Allesa tulus.
"Iya Allesa gue ikut jenguk lo gapapa kan?" sahut Daniel dengan cengengesan.
"Thanks niel." jawab Allesa.
"Iya sa gue pun sama mau jenguk lo." jawab Nichol.
"Iyah makasih nic." Allesa tersenyum lembut
Ketika mata Allesa mengarah ke lelaki yang berdiri kaku didekat nichol, lelaki itu sama sekali tidak bisa berucap sepatah kata pun. Yang ia rasakan hanyalah canggung.
"Buat semuanya makasih udah mau jengukin." ucap Allesa senang
"Sama sama Allesa." jawab mereka.
*******
Setelah semua berpamitan untuk pulang kini masih ada dua orang tersisa di dalam ruangan pasien.
"Yeay akhirnya. Thanks you mom i love you more." Allesa bergegas memasukan baju miliknya ke dalam tasnya. Setelah mendapat izin dari dokter akhirnya Allesa bisa pulang kerumahnya.
"Ya love you more. Pokoknya mama gamau tau ya kamu harus turuti apa kata dokter." Tegas ibunya mengingatkan anak gadisnya.
"Siap mama."
Ceklek...
Allesa dan ibunya menoleh ke sumber suara yang membuka pintu.
"Permisi.."
Kedua Ibu dan Anak melihat kearahnya.
"Ehh Nak Jose.." Sahut tante Rani. Allesa memandang Pria itu bingung.
"Maaf ganggu tante, Jose mau nyari ponsel. Kayanya pas tadi pamitan pulang, ponsel Jose ketinggalan disini." Ucap Jose tak enak hati pasalnya kedatangan nya pasti akan menganggu aktivitas yang sedang berlangsung.
"Walah.. Yasudah sini masuk coba kamu cari dimana kamu menaruh ponselmu tadi." Suruh Tante Rani
Jose pun menuruti perkataan Tante Rani, Jose masuk dengan perasaan yang aneh. jantungnya seakan berdebar lebih dari biasanya. Entah apa yang dirasakannya saat ini. Terlebih melihat sosok gadis cantik yang tengah memandang nya membuat Jose semakin kelabakan.
"Allesa bantu Jose cari ponselnya." Suara Tante Rani membuat Allesa maupun Jose saling salah tingkah. Keduanya terdiam untuk beberapa saat hingga suara Tante Rani kembali terdengar
"Allesa kenapa diam saja. Itu bantu Jose cari ponselnya. Baju kamu biar mama yang beresin."
Yang dirasakan Allesa sekarang adalah perpaduan antara bingung dan canggung. Haruskah Allesa membantu Jose?
"Tadi dimana Lo naroh ponselnya.?" Tanya Allesa ke arah Jose pada akhirnya.
Detak Jantung Jose seakan berirama sangat kencang mendengar suara Allesa yang lembut menghangatkan.
"Ta..tadi gue duduk di soffa, kemungkinan ada disana." Jose menunjuk Soffa abu abu yang berada di dekat bangsal tempat tidur pasien.
"Yaudah Ayo cari.."
Allesa dan Jose perlahan mendekati soffa, Keduanya mencari sampai bantal Yang ada disofa mereka angkat. keduanya melihat benda pipi panjang berwarna hitam terselip dibagian sisi Soffa. Keduanya tanpa sadar secara bersamaan mengambil benda pipih itu. Gelegar rasa campur aduk didalam hati keduanya membuat mereka saling mengunci tatapan satu sama lain.
"Tangannya.. tangannya bener bener halus." Gumam Jose dalam hati. Jose memegang permukaan tangan Allesa yang begitu halus.
"Coba tolong bantuin ini jantung rasanya kaya mau copot!." Geram Allesa dalam hati. Bagaimana bisa Jose menggegam tangannya begitu erat? Dan sialnya rasa hangat menjalar keseluruhan tubuh Allesa. Ada apa dengan dirinya.?
Tante Rani telah selasai membereskan pakaian Allesa. Melihat Anak gadisnya dan temannya saling pandang Tante Rani tersenyum.
"Apa sudah ketemu nak Jose?"
Seketika genggaman yang berada ditangan Allesa buru buru dilepaskan. Allesa sendiri merasa harus menormalkan detak jantungnya.
"Ya Tante, ini sudah ketemu."
"Syukurlah.." Tante Rani tersenyum kearah Jose.
"Sayang, papa ga bisa jemput. Kita naik taxi saja yah.? Lagi pula kalau menunggu supir akan memakan waktu lebih lama lagi." Seru Tante Rani ke arah anak gadisnya.
"Ih ko papa gitu sih kan udah janji mah."
"Sayang, papa mu ada rapat mendadak. Kita masih bisa pulang naik taxi sayang."
"Tapi kaaaan Allesa kan maunya sama papa."
"Allesa?!."
"Tante, biar Jose aja yang mengantar Tante dan Allesa pulang."
"Memang tidak merepotkan nak Jose?"
"Tentu tidak Tante."
"Makasih nak Jose, Ayo sayang kita pulang. Nih ada si ganteng yang mau anterin kita."
*******