
Kedua orang tua Allesa yaitu Om Brata Wijaya dan Tante Rani Wijaya secara bersamaan menunggu dokter yang sedang melakukan operasi untuk Allesa. Suasana hati keduanya sangat lah cemas memikirkan anaknya. Tidak ada hentinya mereka berdua berdiri tidak tenang.
"Mama.. duduk lah, mama pasti lelah." Ucap Maya yang berusaha membujuk Rani.
"Maya sudah hampir 3 jam dokter belum keluar juga, Apa Allesa akan baik baik saja?" ucap Rani lemah
"Mama tenanglah Allesa pasti baik baik saja. Allesa anak yang kuat."
"Hiks..hiks.. Maya Mama merasa bersalah jarang ada waktu buat Allesaaa. mungkin ini teguran dari Tuhan. Mama ga akan maafin diri mama kalau Allesa kenapa napa"
"Ma jangan berbicara seperti itu. Ini bukan salah mama. Ini semua salah Maya ma."
Tak lama kemudian tiga orang dokter dan dua perawat keluar dari pintu ruangan operasi.
"Dokter Graham saya akan kembali bertugas." ucap dokter tampan berkumis tipis dan diikuti oleh dokter serta perawat lainnya.
"Oke terima kasih atas kerja samanya dokter frandy, dokter Edhen." ucap dokter Graham seraya menjabat tangan dokter satu persatu. Satu persatu Dokter pergi menyisakan dokter Graham yang masih harus menjelaskan kepihak keluarga.
"Dok bagaimana keadaan anak saya." Tanya Om Brata dengan cemas.
"Dokter gimana keadaaan putri saya." Tanya Tante Rani tak berhenti mengeluarkan air matanya.
Dokter tersenyum simpul membuat semua orang berharap keadaan Allesa baik baik saja.
"Syukurlah keadaan Allesa sekarang sudah lebih membaik. Ini keajaiban luar biasa. Setelah saya melakukan resusitasi organ dan fungsi saraf ditubuh Allesa, Tubuh Allesa merespon dengan sangat baik. Sehingga tidak menimbulkan kerusakan disaraf tertentu."
Plongg... Beban seberat berton ton pun hilang seketika . Itu lah yang dirasakan semua orang setelah mendengar perkataan dokter
"Namun pasien masih harus tetap dirawat untuk beberapa hari kedepan mengingat kondisinya yang masih belum stabil." lanjut sang dokter
"Terima kasih atas penanganan yang terbaik dok. Apa saya boleh melihat anak saya?"
"Ya silakan. Tapi jangan menganggu pasien sedang beristirahat."
*****
Setelah selesai dengan tugasnya, dokter Graham kembali keruangan kerjanya. Dia menatap arloji ditangannya, ternyata sebentar lagi waktunya dia istirahat. Ketika sedang merapihkan file file dimeja kerja ponsel dokter Graham berdering.
"Halo Ayah. Gimana kerja hari ini?"
"Tidak buruk.. Ayah telah selesai menjalankan penanganan resusitasi benar benar membuat ayah kehabisan tenaga."
"Apakah penanganan nya berhasil.?"
"Sangat berhasil bund.. Pasien cantik yang mengalami koma benar benar luar biasa. dia menjalani tahap resusitasi dengan sangat sempurna"
"ehh sekarang ada yang lebih cantik ya dibanding bunda..!!"
"Hei sayang nada bicara mu seperti orang yang sedang merasakan cemburu."
"buat apa cemburu!! lagian emang kan di rumah sakit tuh banyak wanita cantik yang silih berganti datang."
"bundaa bunda."
" ah sudah lah Urus saja urusan ayah ! seperti nya ayah juga sangat kagum sekali dengan pasien itu. oh ngomong ngomong seperti nya bunda tidak berminat lagi mengirim kotak makanan yang lezat ini. dan akan segera menelpon putra kesayangan ku untuk kembali kerumah."
"Bunda ternyata pencemburu sekali."
"terserah ayah kalau gitu bunda tutup teleponnya!!"
"hei apa bunda pikir ayah suka dengan gadis beliau yang seumuran dengan anak kita.",
"terus apa yang sedang ayah coba lakukan??!!"
"haha berhenti lah marah, ayah hanya bercanda.. tidak ada yang cantik di dunia ini selain bunda. Dan pasien yang ayah bilang tadi itu masih anak remaja. dilihat dari mukanya ayah seperti melihat dia tapi dimana ayah lupa."
"huh, ternyata kau diam diam bahkan kenal dengan pasien itu."
"bukan seperti itu Bund, ayah cuma berfikir pasien cantik itu menarik ayah untuk mengenal kan salah satu dari putra kita."
"huh, omong kosong ayah sudah lah bunda kedatangan tamu bye!!"
nut..nut..nut..
"Tidak disangka Wanita jika sudah cemburu akan mengabaikan pria yang ia cintai." Dokter Graham melihat ponselnya tersenyum getir. Niatnya hanya ingin bergurau saja tapi berujung kemalangan..
Tok.tok..tok... Terdengar suara ketukan diluar pintu ruangan Dokter Graham. Dokter Graham pun membuka pintu tersebut ketika melihat siapa yang mengetuk pintu ruangannya senyum sumringah pun terpancar di wajah Dokter Graham
"Wahh ternyata jagoan kecil ayah."
"Apa sih yahh.. Jose ini udah besar masih aja dibilang jagoan kecil." grutu Jose.
Jose pun masuk dan langsung menduduki sofa empuk yang ada diruangan tersebut
"Nih jose bawain makan." Jose pun meletakan rantang yang berisikan makanan lezat untuk Ayahnya.
"Ini pasti dari bunda kan??." Dokter Graham segera membuka rantang makanan tersebut dan segera memakannya
"Yaaa ya yasiapa lagi jika bukan bunda. premaisuri mu lah yang menyuruh ku kesini membawakan makanan kesukaan Ayah handa." jelas Jose mendramatisir
"Good. Dia premaisuri idaman. Padahal dia sedang cemburu tapi bunda mu masih tak tega membuat Ayah kelaparan." jawab Dokter Graham tak mau kalah mendramatisir
Sambil memainkan ponsel Jose pun memutar bola matanya jengah melihat Ayahnya yang ajaib itu.
"Kamu ga ikut makan son."
"Jose udah makan yah."
Dokter Graham hanya menatap putra bungsunya sambil ber Ohh bulat.
"Yaudah Jose mau pergi dulu yah. Mau ke rumah si Daniel."
"Mau ngapain?" tanya dokter graham menyelidik
"Main atuh."
"Main game yah."
"Game apa?" Dokter graham semakin kepo
"Lah Ayah kenapa jadi banyak tanya kaya bunda?"
"Emang ayah salah?" Bingung dengan putra bungsunya itu
"Engga sih."
"Yaudah."
"Yaudah apa?"
"Yaudah temani ayah makan dulu."
"Udah tua masih aja minta ditemani makan!"
"Emang ayah salah?"
"Gak!"
"Yaudah."
"Yahhh!!!!!!"
"Apa????"
Bisa gila!!!! Kayanya lebih baik ngadepin bunda dari pada ayah yang so cool ini!!! Jose pun mengacak acak rambutnya prustasi meninggalkan ayahnya begitu saja.
*****
Setelah sesi prustasi diruangan ayah tercintanya lelaki jangkung nan tampan pun keluar terburu buru hingga menubruk orang yang sedang berjalan menuju keruangan pasien yang dirawat
Bruggggg...
"Arghhh... Kalo jalan liat liat dong!" Grutu lelaki tampan itu dengan mengusap kepalanya yang terbentur
"Shit.. Lo yang nabrak duluan!" jawab orang itu tak ingin disalahkan
Kesal itulah yang dirasakan kedua orang itu hingga keduanya sama sama ingin melihat siapa orang yang menabrak
"JOSE?!"
"MAYA?!" Teriak keduanya secara bersamaan
"Heh lo banci tullen kalo jalan tuh liat liat jangan main nabrak orang aja dong!" kesal Maya
"Hah heh hah heh.! Gue buru buru cempreng. Lagian bukan gue doang yang nabrak lo. Lo juga nabrak gue!" jawab Jose tak mau kalah.
Dasar cowo udah tau salah gamau disalahin
"Seengga nya jalan tuh pake mata jangan pake kaki ! Kaki tuh buat jalann. mata itu untuk melihat Gue tau kaki lo punya mata. Iya mata kaki. Tapi kan beda gak bisa buat melihat. Bukannya Tuhan nyiptain mata tuh buat melihat? Apa penglihatan lo udah ga sehat?! Oh ya mumpung dirumah sakit mending sekarang lo periksain mata lo deh, Biar kalo jalan ga nabrak orang. Untung yang ditabrak gue. Kalo lo nabraknya kontener kelar idup lo." jawab Maya panjang lebar membuat Jose melebarkan kedua matanya. Dalam hati jose berkata nih cewe kalo ngomong ga pake spasi kali ngegas mulu. Mana cempreng banget. Yang jadi cowonya gue rasa perlu pengobatan telinga setiap sejam sekali.
"Heh bengong lagi lo bukannya minta maaf!"
"Sumpah may emak lo lagi bunting nyidam apaan?"
"Ngapain lo nanya nanya emak gue nyidam apaan. Mana gue tau."
"Berisik banget mulut lo kaya toa rusak minta diservis."
"Joseeee!!" Maya pun kehabisan kesabaran ingin rasanya meninju lelaki yang ada dihadapannya ini
"Ya ya sorry." Lebih baik mengalah dari pada urusannya panjang pikir jose
Maya pun tak menggubris. Maya pergi dengan perasaan kesal.Jose baru tersadar jika ia penasaran kenapa Maya bisa dirumah sakit milik kelurganya? Siapa yang sakit? Apa Allesa? Kenapa Jose terlintas memikirkan Allesa?
"May.. Tunggu." Merasa ada yang memanggilnya Maya menghentikan langkahnya
"Kenapa lagi??!"
"Lo ngapain disini?"
"Peduli apa lo?!" jawab Maya sinis
"Gue serius Maya." Melihat raut wajah Jose yang sedikit penasaran dan khawatir akhirnya Maya melupakan kejadian tadi
"Sahabat gue dirawat disini."
"Sahabat lo? Siapa?"
"Siapa lagi kalo bukan Allesaaaaaaa!!!!."
Degggg.. Seperti susah nafas gitu butuh oksigen . pikiran Jose melayang entah kemana. Kenapa perasaan khawatir itu semakin dalam. Apa yang terjadi dengan hati Jose. Apa Allesa baik baik aja?
"Udah lah gue mau keruangan Allesa."
"Eh tunggu . gue ikut may."
"Mau ngapain lo? Jangan jangan lo sekarang udah mulai care dan khawatir sama Allesa?"
"Gak.!" sangkal Jose. "Gue cuma gamau musuh bebuyutan gue sakit terlalu lama nanti gada yang bisa gue aja berantem" Alibinya lagi. Padahal dalam hati berkata worry
"Jadi lo khawatir sama Allesa?"
"Gak!! Siapa dia buat gue?"
"Dasar ga punya hati. Cowo ga jelas kaya lo tuh mending pergi dari sini. Cape gue ngomong sama lo! BY!"
*****
Next???