Love Of Youth

Love Of Youth
Get Will Soon Allesa



Ruang Rawat 501


Gadis cantik berambut panjang kini tengah bersandar dengan peralatan medis yang ada ditubuhnya, keadaanya kian membaik. Setelah melewati masa sulit dia kembali membuka matanya yang indah. Kedamaian terlihat jelas diraut mukanya yang cantik. Muka yang kelihatan pucat tak mengurangi kecantikan yang dimiliki gadis itu.


Tak lama kemudian bunyi pintu terbuka menandakan ada seseorang yang masuk keruangan tersebut. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke arah pintu. Melihat sahabatnya yang datang, wajah gadis cantik itu terlihat sangat bahagia.


"Maya?"


"Allesa.. Lo udah sadar?" Maya menghampiri Allesa dan duduk ditepi ranjang sambil memegang tangan sahabatnya itu.


"Udah Maya"


"Syukurlah. Maafin gue ya sa semua ini gara gara gue, kalau bukan gue yang maksa Lo buat renang ini semua ga akan ter.."


"Sutt.... Udah May ini bukan salah lo. Ini semua salah gue sendiri yang gak bisa renang."


"Tapi kalo gue ga maksa lo buat renang semua ga bakal terjadi." Maya menatap sahabat itu dalam dalam. Wajah pucat bibir kering masih tergambar didalam raut wajah cantik sahabatnya.


"Udah Maya ini kan gue udah sadar. Jadi lo ga perlu nyalahin diri lo." Jawab Allesa dengan lirih


"Iya sa. Maaf banget yaa." Maya memeluk sahabatnya


"Udah ihh jangan nangis. Badan lo berat May gue ga bisa nafas." Bohong Allesa


"Ehh maaf saa. Hehe." jawab maya dengan cengengesan.


"Hemm."


"Saa tau gak?"


"Gatau lah belum dikasih tau."


"Hih mau gue kasih tau lo udah motong pembicaraan gue."


"Ya terus..?"


"Ihh dengerin nih tadi gue ketemu si banci tulen. Sumpah gue kesel banget sama dia. Dia tuh jalan ga pake mata main nabrak aja gitu."


Ngapain tuh cowo disini? batin Allesa


"Ko bisa?"


"Gue juga gatau kenapa dia bisa jalan ga pake mata."


"Mungkin mata dia lelah."


"Lelah gimana maksudnya?"


"Entah lah." Allesa mengedikan bahu.


"Allesa ko lo sakit nyebelin sih?" Tak ingin menanggapi ocehan Maya. Allesa mengalihkan pembicaraan


"Maya Gue pengin makan itu?" Allesa menunjuk buah buahan yang ada diatas meja


"Yaudah makan."


"Kan lo tau gue masih sakit terbaring begini gimana dong. Gue pengin makan jeruk. Terus gimana gue buka kulit jeruknya. Gue masih lemes May." jawab Allesa dengan berlogat manja


"Bilang aja lo minta dikupasin dan lo minta disuapin"


"Nahh Maya pinter deh."


"Ya yaya." Maya akhirnya mengambil sebuah jeruk dan mengupasnya. Setelah selesai mengupas ia menyodorkan jeruk tersebut kemulut Allesa


"Inih."


Allesa membuka mulutnya dan perlahan memakan jeruk tersebut. Maya teringat dengan Jose sepertinya Jose memang terlihat khawatir dengan keadaan Allesa


"Oh ya tadi tuh si Jose kaya penasaran gitu kalo gue disini. Sampe nanya ngapain gue disini."


"Terus lo jawab apa?"


"Ya gue jawab kalo lo dirawat disini. Dan lo tau reaksi dia gimana?"


"Gimana?"


"Dia keliatan banget kalo khawatir gitu sama lo?"


"Uhukkkkkk..." Allesa yang mendengar Maya berbicara seperti itu tersedak seketika.


"Haha.. Lo kaget ya.. nih minum dulu." Maya menyodorkan air minum kepada Allesa sambil mengusap punggung sahabatnya itu.


"Lo ngomong apa barusan May?"


"Hufff Jose khawatir sama Lo .. Intinya gue mau nyari tau si Jose beneran suka sama lo atau gak." Jelas Maya sambil duduk dan memikirkan banyak hal. Allesa memutar bola matanya jengah


"Buat apa may? Kurang kerjaan banget lo."


"Yaa itung itung nambah kerjaan." balas Maya cengengesan


"Terserah."


Tak lama kemudian ponsel Maya pun berdering memperlihatkan panggilan masuk


"Halloo mam?"


"(.....)"


"Oke Mam."


"(......)"


"Iya iyaaa mamih."


Bep..


"Mami lo telepon?" Tanya Allesa kepada sahabatnya itu


"Iyah nih sa."


"Terus?."


"Kayanya gue harus pulang dulu deh sa."


"Yaudah pulang aja May."


"Tapi lo sendirian?"


"FRANS????!!!!" sahut Allesa dan Maya bersamaan lebih tepatnya Maya yang lebih terkesan berteriak. Pria tersebut mulai mendekati ranjang yang tengah ditiduri oleh sahabatnya


"kapan lo balik?" Tanya Maya penasaran pasalnya memang tidak ada yang memberitahu jika Allesa masuk rumah sakit. Maya juga tidak sempat menelpon Frans


"Ga penting kapan gue balik." jawab Fran dingin.


"Kenapa gada yang ngasih tau gue kalo Pacar gue masuk rumah sakit."


Allesa tak tahu harus menjawab apa dia hanya memandang Maya agar Maya menjawab pertanyaan Frans.


"Ya elah mana sempet ada yang ngabarin lo yang jauh disana.  gue yang liat Allesa koma aja ga bisa berfikir jernih." Jelas Maya sambil melipat kedua tangannya didada


"Maaf Frans gue ga sempet ngasih tau lo." Sahut Allesa. Frans menatap kedua sahabat nya secara bergantian .


Frans tersenyum kearah Allesa dan mengangguk tanda "no problem."


"Yaudah sa gue pamit dulu yah." Maya pamit dan memeluk sahabatnya itu


Allesa pun membalas pelukan Maya "Iya Maya thanks udah nemenin."


Maya melepaskan pelukannya dan menatap pria yang sedari tadi diam menyaksikan dirinya dan Allesa


"Woy bengong aja.!" Maya menepuk pundak Frans. Fran hanya menatap mengisaratkan tanda,  kenapa?


"Gue nitip Allesa. Jagain dia." Sahut Maya


"Tanpa lo minta gue bakal jagain Allesa."


Tak ada jawaban dari Maya. Entah lah Seperti teriris jauh di lubuk Hati Maya. Namun Maya mengabaikan.


Maya akhirnya memilih untuk segera keluar ruangan Lambaian tangan dari Maya membuat dirinya menjauh. Di ruangan sahabatnya itu kini menyisakan dua orang didalamnya. Setelah kepergian Maya Frans pun mendekati ranjang tidur dan duduk disebalah dimana Allesa berbaring.


"Nih buat lo." Frans memberikan sebuah bingkisan kepada Allesa . Allesa tersenyum dan menerima dengan senyum manis dipipinya. Penasaran dengan apa yang dibawa Fran , Allesa sesegera mungkin melihat isi dari bingkisan itu.


"Aaaaa.... Frans?" Teriak Allesa berbunga


"Lo suka?" tanya Fran dengan senyum tampannya


Allesa pun mengangguk senang . dipeluknya Boneka berukuran sedang itu. Boneka kelinci kecil yang sangat lucu.


"Gue tau lo bakal suka." balas Frans senang sambil mengacak rambut Allesa gemas


"Thanks Fran."


**********


Dilain sisi pria tampan berciri khas rambutnya yang diikat setengah kebelakang terus mondar mandir dikoridor rumah sakit. Entah apa yang tengah dirasanya saat ini. Yang pasti gelisah dan khawatir menyelimuti ruang hatinya sampai iya tak sadar menganggu orang yang sedang berjalan menuju parkiran.


Dug...


"Argh.. Lo lagi!" kini dua orang itu saling berhadapan.


"Maya?"


"Selain ga punya mata ternyata kaki lo cuma digunain Mondar mandir ga jelas macem setrika. Dan yang ga berfaedah tuh Ganggu jalan orang!  Minggir lo!" ketus Maya dan mendorong bahu pria tersebut


"Ya elah gue ga sengaja."


Maya tak menghiraukan pria tak waras itu. Bisa bisanya si banci tullen ada disini  dan bikin gue kesel.  Maya masih mengumpat dalam hati hingga langkahnya terhenti


"Maya tunggu!"


"Apalagi?"


"Emm.. Anu." merasa susah berbicara cowo itu bingung harus mengatakan apa


"Anu apa ga jelas lo!"


"Gimana keadaan sahabat lo?" Akhirnya kata yang sedang ditahannya sedari tadi lolos begitu saja dibibir seksinya itu


Bagai petir menyambar apa Maya tak salah dengar?


"What ? Lo seriusan nanyain sahabat gue?" jawab Maya tersenyum menyindir


"Gak! Iseng aja." dusta pria tersebut, namun Maya menangkap ada yang lain dimata pria tersebut, walaupun Maya telmi tapi Maya peka terhadap sebuah perasaan. Begitu lah Maya


"Gausah boong deh loh. Sebenernya lo care kan sama Allesa?! Kalo care tuh tengokin. Gausah malu malu meong. Dan gue saranin udahin permusuhan lo dan Allesa yang gak akan ada gunanya. Helow 2 tahun satu kelas lo bayangin . gue harap perbuatan lo tempo dulu juga buat lo sadar dan mau berdamai sama Allesa." Ucap Maya panjang lebar dan pria yang mendengarkan seketika ternganga mendengarnya. Maya pun pergi meninggalkan pria tersebut sendirian yang masih berdiri bagai patung


"Jose bae bae ileran!!!!!" Teriak maya dari kejauhan dan berlari kearah mobilnya. terikan Maya seketika sukses  membuat Jose sadar dan geram. Niat hanya untuk menanyakan kondisi Allesa berujung dengan ledekan. WANITA MEMANG MENYEBALKAN.


"Awas lo maya!!!!!!"


*********


"Tante, jadi kapan Allesa diperbolehkan pulang??" Tanya fran kepada tante rani yang sedang mengupas apel


"Dua hari lagi."


"Yah mama, berarti Allesa ga masuk sekolah dong." Sahut Allesa sedih


"Yang penting lo sehat dulu." Jawab Frans


"Bener kata Frans. Nih makan dulu sayang." Tante Rani menyodorkan apel yang telah dikupas dan dipotong kecil. Allesa memakan buah Apel itu dengan muka masih ditekuk


"Thaphi emmhh lhesha jungha bosen dirumhah sakit terus." Sahutnya lagi kepada Sang ibu sambil menguyah apel hingga halus


"Sudahlah sayang lebih baik kamu nurut jika kamu tidak ingin berlama lama dirumah sakit. Biar mama yang akan izin kesekolah. Lagi pula kan besok hari pertama masuk setelah libur. Pasti aktivitas belajar mengajar sepenuhnya lancar."


"Ma.. Tapi kan llesa udah sembuh."


"Lo masih butuh istirahat sa. Gue janji deh setelah pulang sekolah gue bakalan kesini." Sahut frans meyakinkan


"Beneran lo bakal kesini?"


"Iyah sa." sayang (dalam hati)  jawab Fran sambil menatap sahabatnya itu


"Oke sip " jawab Allesa senang dan menambilkan senyum yang siapa saja ketika melihatnya akan berkata manis


Langkah yang sedari tadi berat untuk masuk kedalam ruangan membuat pria dibalik pintu hanya berdiam diri, dia fokus melihat dari luar dan mendengarkan percakapan ketiga orang yang ada di dalam ruangan. Apalagi ketika melihat gadis cantik yang sedang bersender duduk dengan wajah yang masih pucat membuatnya tak mampu bahkan terlalu takut untuk menemuinya. Mungkin lain kali. Geet will soon Allesa . Lalu dia pun berbalik dan pergi dari balik pintu yang terbuka.. Dari tempat tidur gadis cantik yang tengah memakan Apel melihat sekelibat bayangan yang muncul diarah pintu.


"Jose??" gumam Allesa dalam hatinya


******