
Bagai tersengat aliran aliran listrik kecil didalama hatinya. Allesa maupun Jose sama sama memikirkan satu hal yang membuat mereka tersenyum yaitu "DAMAI". Tapi..Mana mungkin bisa DAMAI jika mengingat waktu awal masuk sekolah keduanya ditakdirkan RIBUT bagai tom and jerry. Masa MOS lah yang mempertemukan mereka hingga mereka tidak saling akhur. Meski sudah menjelang dua tahun lamanya satu kelas, tetap saja mereka tidak akhur. Tak heran jika seluruh warga sekolah hafal betul bagaimana sengitnya permusuhan antara Allesa dan Jose. Tapii saat ini mereka bisa merasakan hati mereka menghangat setelah insiden lari pagi.
"Apa gue bisa damai sama si macan??"
Ucap pria jangkung putih dan tampan itu didalam kamarnya, dengan menatap langit langit kamarnya pria tersebut membayangkan sesuatu yang begitu indah. Namun bayangan itu buyar seketika karna satu nama sohib terdekatnya seperti membisikan sesuatu didekat telinganya.
"Mau dibawa kemana pamor JB Lover jika lo akhur sama si Ratu Kebun Binatang"
Pria tersebut reflek menjawab perkataan sosok sohibnya itu
"Lah emang gue salah kalo gue akhur sama Allesa??"
"Salah lah. Selama ini yang buat kita perang sama Ratu kebun binatang itu lo. Setelah kita bikin fans klub dan lo yang merajai itu semua, tiba tiba lo akhur sama musuh? Haha fans lo bisa ngetawain lo. Dan lo bakal kehilangan tahta tertinggi lo!"
"Terus gua harus gimana?"
"Bodoh buat apa lo akhur sama dia."
Mendengar ucapan sohibnya yang terdengar semakin keras dan membuat pusing, pria itu mengepalkan tangan.
"Shittll! Kenapa si wowo yang ada dibayangan gue!!"
"Tapi ..."
"Ada bener juga sih mau dibawa kemana kadar kegantengan gue yang banyak fansnya kalo gue sampe akhur sama Allesa."
"Argh tau lah!!!!!!"
******
Tring..tring..dert..dert
Suara ponsel yang yang sedari tadi berdering membangunkan sosok gadis cantik yang sedang bermimpi indah didalam sana. Dengan mengerjapkan matanya gadis cantik itu meraba raba ponsel yang ia letakan entah dimana ponselnya.
Tring..dert..tring..dert
"Ya ampun siapa sih malem malem nelpon heran!" grutu gadis itu
Gadis itu pun duduk bersandar dan mulai melihat layar hpnya. Seketika senyum dibibirnya terbit dan mata yang tadinya ngantuk jadi melek. Dengan cepat gadis itu mengangkat telfon yang masuk.
"Hal.."
"Huh kebo.. Pasti jam seginih udah tidur."
"Iya gue ngantuk Frans makanya jam segini udah tidur." jawab gadis itu sambil memeluk boneka didekapannya
"Baru jam 21.00 udah ngebo. Emang dari siang ngapain aja?"
Tak menggubris perkataan Frans. Gadis itu pun mengalihkan pembicaraan.
"Ishh fran lo apa kabar?! Kapan pulang 3 hari lagi masuk sekolah. Tapi lo belom juga balik ke indonesia. Apa lo ga kangen?!" tanya gadis itu berbondong sambil menahan kantuknya
"Ini nih yang bikin gue kangen sama lo ini karna lo ga bisa berenti bawel dan...."
"Apa sih gajelas lo."
"Iya iya gue kangen sama lo sa.. Ya palingan dua hari sebelum masuk sekolah gue udah balik tenang aja nanti gue kabarin ko."
"Awas lo kalo ga balik gue jadiin prekedel!. Oh ya jangan lupa oleh olehnya ya."
"Siap mimi peri."
"Hoamm.. Yaudah ya Frans gue mau tidur lagi ngantuk banget." Seketika dia pun terlelap tanpa peduli ponsel yang masih terhubung dengan sipenelpon.
"Padahal masih kangen tapi yaudah tidur lagi sana."
Tidak ada jawaban dari gadis itu
"Allesa??"
"Udah molor??"
"cepet banget tidurnya."
"Night My pretty girls."
*****
Suara gadis cempreng seketika menghentikan aktivitas diruang makan kediaman keluarga Brata Wijayaa
"Selamat pagi mama Rani selamat pagii papa Brat." Sapa gadis itu dengan senyum sumringahnya seperti biasa
"Ehhh.. Pagi juga Maya." balas tante Rani sedangkan om brat hanya tersenyum hangat menyambut kedatangan Maya.
"Maaf ya mama papa, Pasti Maya ganggu acara makan mama dan papa deh." Sahutnya lagi dengan rasa bersalah telah mengganggu acara makan mereka
"Engga ko Maya. Kamu udah makan? Kalo belum sini makan dulu bareng mama dan papa." Ajak tante Rani
"Maya udah makan maa, maya kesini mau ketemu Allesa. Allesa ada ?"
"Bener udah makan? Hemm llesa ada Kamu kekamarnya aja kayanya Lesa lagi mandi."
"Bener mama Maya udah makan. Yaudah kalo gitu Maya izin kesana ya maa." Izin Maya kepada Tante Rani, dan dibalas dengan anggukan tanda mengiyakan. Karna kedekatan Maya dengan Allesa yang sudah begitu erat bagai sodara kandung Maya memanggil kedua orang tua Allesa dengan sebutan Mama papa, Dan sudah tidak asing lagi bagi kedua orang tua Allesa jika maya memanggilnya dengan sebutan sama seperti Allesa mereka tidak keberatan bahkan kedua orang tua Allesa pun menganggap Maya seperti anak kandung sendiri.
Tanpa mengetuk pintu, Maya langsung memasuki kamar Allesa
"ARGHHHHH SIAL!!! kalo masuk ketuk pintu dulu" Reflek suara Allesa karna kaget. Bisa bisanya sahabat sintingnya itu masuk tanpa mengetuk pintu. Sedangkan sahabatnya hanya cengegesan dan melangkah duduk ditepi ranjang
"Ya elah selaw bos."
"Selaw selaw pala lo selaw! Untung gue udah pake baju. Kalo belum kan berabeh." Grutu Allesa
"Idih lagian siapa juga yang mau liat lo."
"Sapa tau aja lo dateng sama si Frans, bisa ga suci lagi body seksi gue diliat Fran!" kesal Allesa sambil menyisir rambutnya
"Ya elah body macem papan triplek aja mana mau Frans ngeliat lo." Ledek Maya
Mendengar itu Allesa pun berbalik badan menatap Maya bagai banteng yang ingin menyeruduk. "Gue kerjain lo!" kata Allesa dalam hati. Sedangkan yang ditatap menelan saliva nya dengan susah payah dan mengutuk kebodohannya.
"Lo..!!" Allesa pun mengepalkan tangannya dan perlahan mendekati Maya
"Hehe.. Ga saa becandaa." Maya pun mulai mundur dari tempat duduknya siap siap agar bisa kabur dari Allesa namun Maya tidak menyadari jika dia mundur sampai ketengah ranjang. Sedangkan Allesa semakin gencar mendekati Maya dan tersenyum maut kearah maya
"Bilang apa lo tadi."
Maya hanya bisa menggeleng gelengkan kepala maya semakin memundurkan diri terus mundur mundur sampe ketepi ranjang sebelah kanan
"Bilang apa lo tadi Mayong??" tangan Allesa mulai siap menarik kaki maya
"Beneran sa tadi bercanda." Maya semakin mundur. Mundur
Allesa pun mendekati Maya bermaksud untuk menarik kaki Maya namun yang terjadi
"kyaaaaaaaaaa......bruggghhh"
"Hahahha. Gurih lo may!!" suara Allesa pun mengglegar dengan tawa yang tidak ada hentinya melihat sahabatnya itu terjengkang jatuh kebelakang
"Sakit anying malah diketawain." Maya pun bangun mengusap bokongnya yang terasa sakit
"Hahaha. Makanya kalo punya mulut dijaga kena azab kan lo." Allesa tertawa terpingkal pingkal melihat ekpresi wajah Maya. Maya mengrucutkan bibirnya tanda kesal.
"Iya iya gue salah. Udah bilang body Lo kaya papan triplek."
"Haha padahal niat gue tuh mau narik kaki lo doang ehh lo mundur terus yaudah jatoh kan lo."
"Sakit tau iih Allesa!"
"Haha bodo amat."
"Kok lo ngeselin."
"Bodo..." Allesa pun lari dan menjulurkan lidah kearah Maya
"Ihhh Allesaa!!!!!!!!!!!!!!"
*****