
Dion bersiap - siap mengemasi barang - barangnya untuk perjalanan bisnisnya ke Negara Jiran Malaysia. Mungkin selama 2 Mingguan akan berada disana, Dion tak memberitahukan bahwa dia akan pergi jauh dan lama pada Tiara istrinya.
Sedih sebetulnya, dan sebenarnya Dion menginginkan kehidupan rumah tangga yang sebenarnya, hidup bersama satu rumah, setidaknya kehidupan seperti kemarin ketika Nenek berkunjung ke rumah, Tiara memainkan perannya sebagai istri, memasak, mencuci baju - bajunya, dan ketika Dion pulang kerja ada yang menunggu, terutama meladeni mengambilkan makanannya. Ah suatu yang mustahil, waktu berjalan cepat, lima bulan lagi mungkin umur pernikahannya akan segera berakhir, dan Dion tidak akan melepaskan Tiara, tapi bingung bagaimana caranya, dan semoga ada keajaiban, doa Dion.
Tiara sekarang berada di ruang kuliahnya, akan ada mata kuliah Kewiraan, biasanya di mata kuliah ini Tiara akan bertemu dengan suaminya Dion, tapi sudah beberapa hari ini Tiara tidak pernah melihat Dion pergi ke kampus, apa Tiara yang memang tak melihatnya waktu Dion di kampus atau memang benar suaminya memang lama tidak pergi ke kampus, seperti biasanya mengurusi perusahaannya.
Tiara bersyukur setidaknya Faiz bersikap biasa seolah - olah tidak ada apa - apa. Bersyukur sekali ternyata Faiz adalah cowok yang benar - benar sportif, dia juga banyak bertanya tentang Amel yang menaruh hati pada Faiz.
Rasanya sudah hampir tiga minggu Dion tak pernah muncul di kampus, padahal waktu terus berjalan, dan semakin berkurang saja usia pernikahannya, kemarin Tiara berpapasan dengan Alea, cewek manja yang dekat sekali dengan suaminya Dion. Sebenarnya ada keinginan bertanya tentang keberadaan suaminya yang ngak pernah masuk kuliah lagi. Kalau - kalau cewek itu tahu.
Pernikahan macam apa ya kalau seperti ini, berharap suaminya selalu memberi kabar dimana dia berada, setidaknya ada komunikasi intens, ah aku bermimpi, gumamnya benar - benar sedih.
Tiara tak tahu bingung melanda, ada kegalauan, pergi ke kampus pun tak ada semangatnya, jadi hampa terasa hidupnya, hatinya benar - banar sakit. Hari ini Tiara akan berencana pulang ke rumah Orangtuanya, sepertinya sudah lama tidak pulang ke rumah, kangen Papa Mamanya.
Tiara masuk ke rumah lewat pintu samping, karena motor yang dibawanya langsung dimasukan ke garasi kendaraan. Dilihatnya Papanya sedang asyik melihat berita di televisi.
" Ehmm belum Pa, eh maksud Tiara sudah." Ralat Tiara cepat, takut membuat Papanya bersedih, kalah tahu pernikahan seperti apa yang dijalani anaknya."
" Apa dia masih di Malaysia ya? Dion pamit Papa, sekitar dua atau tiga mingguan si."
Tiara menelan salivanya, jadi mas Dion pamitnya ke Papa ya, bukan dirinya yang telah resmi menjadi istrinya.
Dan Tiara menuju dapur, menemui Mamanya yang sedang memasak. Dipeluknya badan Mamanya dari belakang.
" Aku kangen mama deh.."
" Tiara... Mama juga kangen sayang.. Kapan kamu hamilnya? Papa dan Mama juga pingin menimang cucu nak."
" Nga tahu Ma, sedikasihnya aja, doain aja bisa cepat hamil." Ujar Tiara singkat, kemarin waktu Nenek datang juga ditagih cucu, sekarang pulang ke rumah juga ditagih cucu sama Mama. Hmhm, gimana aku mau hamil, sedangkan Mas Dion ngak pernah making love sama aku, batin Tiara sedih, apalagi waktunya sudah hampir habis masa pernikahan ini, runtuknya tambah sedih sekali.