
" Tiara.. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan, dan ini aku sudah simpan lama, aku tahan- tahan untuk tidak mengutarakannya kepadamu. Tapi aku tidak mau menyerah, dan aku akan menyampaikannya sekarang. Aku rasa, aku aku.. akan melamarmu, besok Orangtuaku akan berkunjung ke rumah Orangtuamu Tiara."
Tira kaget, tak disangka - sangka ternyata Faiz merecanakan akan melamarnya besok bersama Orangtuanya, diusapnya keningnya untuk kedua kalinya, dan tiba - tiba berkeringat dingin, masalah dengan suaminya aja belum terselesaikan, ditambah masalah seperti ini, apakah dirinya akan jujur bahwa dirinya sudah menikah, atau jujur saja sebenarnya tidak ada sedikitpun perasaan cinta pada Faiz. Tapikan Faiz seharusnya sudah tau kalau selama ini Tiara hanya menganggapnya teman.
" Maaf faiz, aku tak bisa menerima lamaranmu, begitu juga kedua Orangtuaku, kamu kan tahu bahwa selama ini aku menganggapmu hanya sebatas teman tidak lebih, pertemanan kita kan sudah lama Iz.. Sejak Sekolah Menengah Pertamakan?"
Faiz mengangguk, mengiyakan.
" Dan mengapa tiba - tiba kau dan Orangtuamu berencana datang akan melamar? Padahal aku tak pernah memberimu harapan palsu, aku slalu menegaskan kita hanya sebatas teman dan tak bisa lebih, aku menghargai persahabatan kita, karena memang aku tak memiliki perasaan cinta kepadamu Faiz.."
" Aku tahu Tiara, kau memang sudah menolakku, berapa kali, tapi aku ingin penjelasan yang sejelas - jelasnya, aku lihat kau selalu sendiri, tak ada pacar atau semacamnya, jadi aku punya inisiatif melamarmu langsung, karena kalau aku nyatakan cinta sudah basi Tiara." Ungkap Faiz tegas.
" Maaf Faiz, aku wanita yang sudah tidak bebas lagi, aku wanita yang sudah bersuami. Dan aku sangat mencintai, menyayangi suamiku. Mohon mengertilah, itulah alasanku sebenarnya, dan bukannya aku mau menyembunyikan status pernikahanku, aku rasa aku butuh waktu yang tepat untuk menjelaskan bahwa aku sudah menikah."
" Aku tak percaya Tiara, kau sudah menikah, kenapa kau tinggal disini,kenapa tak tinggal dengan suamimu?"
Faiz, aku sudah mengatakan sejelas - jelasnya, kau bilang butuh penjelasan, tapi kenapa kau masih ngotot tidak percaya, kalaupun sekarang aku tidak tinggal dengan suamiku, itu urusan pribadiku sendiri, berhentilah mengharapkan aku, sudah kukatakan sejak dari awalkan, aku menganggapmu teman, tetapi kenapa sekarang kau seperti ini hah? Sebenarnya Iz.. Ada seorang cewek yang benar - benar mengharapkanmu, mencintaimu, menyayangimu, dan cewek itulah yang harus kau datangi besok untuk kau lamar bersama Orangtuamu, bukan aku.."
Tiara menghembuskan nafasnya, lega rasanya sudah mengungkapkan semua alasannya. Tiba - tiba keberaniannya muncul seketika, dia tak peduli status pernikahannya sudah dia ungkapkan sendiri, entahlah Dion akan marah atau tidak, toh dia tak masih merahasiakan suaminya, tak menyebutkan namanya.
" Dekatilah Amel Faizz.. Selama ini dia memendam perasaannya terhadapmu, Amel gadis baik, dia sangat serasi untukmu."
Faiz terdiam dan lama termenung sambil berpikir, ada benarnya juga Tiara, selama ini mereka memang sudah saling mengenal. Dan memang Tiara selalu menampik untuk berpacaran, baginya dia hanya menganggapnya teman.
" Ok Tiara, aku minta maaf, mungkin aku sudah memaksamu untuk menerima aku, bahkan aku berencana melamarmu besok, aku sunguh egois, padahal kita berteman sudah lama dan kau selalu menganggap ku teman dari dulu, maafkan aku ya, dan satu lagi aku juga tak ingin mencampuri urusan pernikahanmu dengan suamimu, mungkin itu masih privasi bagimu Tiara, cuma yang aku minta kabari aku ya, jika kau telah siap untuk mengenalkan aku pada suamimu."