
Tiara sibuk di dapur memasukkan bahan kue satu persatu, tadi pagi Nenek telpon, Nenek akan mengadakan acara syukuran ulang tahun ke enam puluh dan Nenek menyuruh untuk semuanya hadir berkumpul di rumah Nenek. Rencananya Tiara dan Dion akan pergi besok. Nenek berpesan untuk membawa oleh - oleh brownies buatan Tiara.
Tiba - tiba sesorang memeluknya dari belakang.
" Mas.. Kapan pulang? Aku ngak denger Mas pulang, tahu - tahu udah mandi segar kek gini."
" Kamu aja yang sibuk di dapur, jadi ngak denger sayang." Dion masih sibuk memeluknya dari belakang, sambil menciumi pipi istrinya.
" Kangen sayang.. " Ucapnya di dekat bibirnya.
" Mas, klo kek gini nga selesai - selesai kerjaanku. Ni pegang dulu, aku mau ambil coklat dulu." Tiara tersenyum, menyerahkan pekerjaannya pada suaminya, kalau ngak kayak gitu bisa lama ngak - ngak selesai - selesai.
" Kamu curang ya sayang, awas ya ntar malam, aku kasih hukuman lho! Kemarin kan batal, kamu malah nemenin Alea ngobrol lama sampai malam."
" Bukan salahku kan Mas, aku masuk kamar Mas sudah lelap.". Elak Tiara berkelit.
" Habisnya anak itu manja sekali, aku kecapean, kesana - kesini aku ditarik -tarik dikenalin sama teman - temannya, udah kayak pemain sinetron aku, berpura - pura mesra jadi pacarnya. Kamu kenapa senyum - senyum si, ngak cemburu gitu? Suami diperlakukan seperti itu."
" Lha Mas ni lucu, masak sama keponakan sendiri dicemburuin."
" Ngomong - ngomong apa si yang diobrolin, kayaknya seru banget, aku ngak boleh denger lagi, sebel aku lama - lama sama ponakanku itu, kalau tiap tidur disini selalu monopoliin kamu. Coba deh Yang kamu tanyain Alea dah punya pacar apa belum?"
" Udah gi critain aja, ntar aku pura - pura ngak tau, lagian dia juga keponakanku kalau ada apa - apa ntar aku yang repot sayang."
" Bener lho, Mas janji, pura - pura ngak tau lho ya, sepertinya ni Mas, dia lagi penasaran sama anak kampus, aku juga ngak begitu jelas anaknya, dia juga ngak paham, cowok itu jurusan apa, yang jelas Alea bilang dia berbeda dari cowok - cowok lain, he is cool katanya Mas."
Dion manggut - manggut mendengarkan penjelasan istrinya.
" Awalnya Alea mau ke perpustakaan, dia tu tergesa - gesa naik tangga, ngak sengaja terpeleset, untung tubuhnya ditangkap sama cowok di belakangnya.Tapi si cowok cuma menganggukan kepalanya saja ketika Alea mengucapkan terimakasih, dan langsung berlalu pergi, padahal Alea tu sudah berdesir - desir jantungnya. Merasakan cinta pada pandangan pertama, begitu katanya."
Dion jadi nyengir sendiri mendengar penuturan istrinya, kok bisa ponakan yang manja itu kayak dirinya, merasakan cinta pada pandangan pertama pada pasangannya. Besok dia akan meminta bantuan pada Pak Hasan untuk melihat cctv di perpustakaan, karena Pak Hasan adalah Direktur Utama di kampus, beliau juga teman pebisnis Dion.
" Eh Mas ni, diceritain malah melamun sendiri kek gitu, emangnya enak dicuekin, kayak ngomong sama patung aja. Sebel deh dicuekin, awas aku ngak cerita apa - apa lagi sama Mas."
" Eh, sapa yang nglamun si, orang Mas ndengerin kamu ngomong kok! Alea itu meniru aku deh sayang."
" Maksud Mas?"
" Iyalah Mas itu juga jatuh cinta pada pertama sama kamu." Tiba - tiba Dion mencium kening istrinya " Cup"
" Makasih ya mau menerima cinta Mas."