
Perjalanan hanya memakan waktu lima belas menit, kebetulan jalanan juga tidak macet, jadi lancar menuju ke bandara. Sampai disana Nenek masih belum datang, Tiara dan pak Ujang menunggu di kursi penumpang, menunggu kedatangan Nenek.
Ingatan Tiara kembali mengenang waktu dimana tiba - tiba Papa mengatakan bahwa dia dan Dion sudah dijodohkan, dan mereka akhirnya menikah. Disitulah Tiara pertama kali bertemu Nenek, umur Nenek sekitar enam puluhan, Nenek tinggal di kota Solo. Disana tinggal bersama asisten rumah tangganya yang sudah ikut Nenek lama dari jaman dahulu. Tiara juga belum pernah diajak mengunjungi Nenek, Padahal ada keinginan ingin kesana, karena hanya Neneklah orangtua satu - satunya bagi Dion yang Tiara tahu.
" Non Tiara, itu Nenek sudah datang non!" Pak Ujang membuyarkan lamunan Tiara, bergegas Tiara berdiri untuk menyambut kedatangan Nenek yang masih kelihatan dari jauh.
" Nenek bagaimana kabarnya?" Tiara memeluk Nenek Dion hangat.
" Nenek sehat nak, gimana kabarmu? Apa kau dan suamimu sudah membuatkan Nenek cucu?" Pertanyaan itu membuat Tiara tergagap tidak menyangka Nenek akan bertanya seperti itu.
" Belum Nek, Tiara belum hamil, doain ya Nek, smoga Tiara cepat hamil."
Boro - boro hamil, mas Dion saja ngak pernah menyentuhnya, apalagi melakukan hubungan suami istri, batin Tiara.
Dan sesampainya di rumah Nenek mencari bik Minah. " Mana Minah, Nenek sudah lapar, kangen sama masakannya."
Nenek mengangguk setuju, dan langsung menuju ruang makan. " Itu Ujang suruh makan juga ya Cu." Kata Nenek tiba - tiba.
Alhasil Nenek, pak Ujang dan Tiara makan satu meja di ruang makan. Nenek sudah akrab sekali dengan Pak Ujang, mungkin karena pak Ujang dan bik Minah sudah lama ikut kelurga ini.
" Wah ternyata cucuku Dion pintar cari istri ya, Nenek suka denganmu Tiara, sudah cantik, sopan, pintar masak lagi, pasti ini Dion suka dengan masakanmu ini, lidahnya dari kecil sudah terbiasa sama masakan Minah. Dan ini masakan yang kau masak rasanya juga tak kalah dari masakan Minah."
" Ah Nenek, biasa saja kok Nek, ntar Tiara jadi besar kepala ni."
" Dulu saat baru ditinggal Papa Mamanya Dion itu benar - benar terpukul, sebenarnya Dion anaknya ceria, setelah orangtuanya meninggal dia jadi berubah menjadi pribadi yang pendiam. Nenek juga bingung, dia suka murung, menyediri di kamar, tapi syukurlah berkat usaha Nenek dia bisa bangkit, meneruskan usaha Papanya.
Dion biasanya pulang kantor sore, selain sibuk ngantor Dion juga kuliah yang satu fakultas dengan Tiara, Dion yang harusnya sudah semester akhir, karena saking seringnya membolos, bahkan kadang mengambil cuti, akhirnya kuliahnya sama sejajar dengan istrinya Tiara. Tapi memang si, Dion sengaja biar lebih mendekatkan dengan istrinya, mungkin memata - matai bagaimana sepak terjang Tiara di kampus. Tapi sebetulnya Dion itu sudah menyandang gelar Sarjana Teknik lho. Dan sekarang Dion mengambil Ilmu Akuntansi seperti Tiara.
Sekarang Nenek tiduran di sofa, Tiara duduk dibawahnya, sambil tangannya memijat - mijat kaki dan lengan Nenek. Televisi pun sudah menyala. Tiara sangat senang dengan kedatangan Nenek, karena Nenek juga sangat baik, Tiara tidak canggung - canggung berbicara dengan Nenek, meskipun sudah tua tetapi Nenek bisa mengikuti pergaulan anak muda, jiwanya jiwa muda.