Love DiTi (Dion Tiara)

Love DiTi (Dion Tiara)
Bab 6



Dion masuk ke dalam rumah, dilihatnya Nenek dan Tiara sedang di ruang keluarga, Tiara sedang memijat kaki dan tangan Nenek, mereka tak menyadari Dion sudah pulang. Rasanya Dion senang sekali melihat istrinya begitu perhatian pada Neneknya.


" Waduh enak sekali Nenek, dimanjain sama istri aku.." Dion berucap, Nenek dan Tiara menoleh mencari empunya suara.


" Kamu dah pulang mas, gimana mas mau makan atau mau mandi dulu?" Ujar Tiara menawarkan sesuatu yang tidak biasa, setidaknya ada Nenek dia harus berbasa - basi, ngak enak juga kalau keliahatan cuek.


" Aku makan dulu deh, sepertinya aku lapar sayang." Dion menjawab dengan lembut, ah Tiara jadi serba salah, wajahnya bersemu merah.


" Sudah sana urus suamimu dulu, Nenek sudah cukup dipijatnya, makasih ya, enak sekali pijatan istrimu Dion." Kata Nenek.


Tiara mengambil piring, serta nasi. Di meja makan, Dion makan dengan lahap dan memang dia kelaparan juga. Tiara membatin, hmhmhm bilang sayang hanya terpaksa karena ada Nenek ya. Betapa sedihnya Tiara.


Malamnya Tiara menemani Nenek setelah makan malam di kamar Nenek. Dilihatnya suaminya sibuk dengan laptopnya, biasa urusan kantor. Nenek bercerita tentang dulu awal mulanya berpacaran dengan suaminya yang tak lain adalah Kakek Dion. Kakek Dion adalah Om dari temannya Nenek, mereka kemudian dijodohkan.


" Sudah malam Tiara, temani suamimu sana, Nenek biasa tidur sendiri, lagian ada televisi, ni sudah di timer televisinya, kalau - kalau Nenek mengantuk."


" Kalau ada apa - apa Nenek bangunin Tiara ya Nek, jangan sungkan - sungkan ya Nek."


Sejurus kemudian Tiara masuk ke kamar, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, sampai kamar dilihatnya suaminya Dion masih sibuk dengan laptopnya. Huff betapa dinginnya kau mas.. batin Tiara.


Keesokan harinya, Tiara bangun menyiapkan makanan, membuat sarapan. Sreng - sreng nasi gorengnya sudah matang dari tadi, dilihatnya suaminya sudah rapi. Biasa menyiapkan piring untuk suaminya. Tadi Nenek sudah mencicipi nasi gorengnya, sekarang Nenek ada di taman samping rumah.


Tiara mengangguk, dilihatnya kerah baju Dion ada yang tak rapi.


" Bentar mas." Set - set Tiara membetulkan krah baju suaminya, Dion menahan nafas, ingin sekali memeluk tubuh mungil istrinya, yang jaraknya dekat sekali dengan dirinya.


" Terimakasih ya." Hanya itu yang mampu Dion ucapkan.


Siangnya, Tiara mencoba berkreasi dengan membuat brownies kesukaan Nenek, bahkan Nenek menemaninya di dapur, mengamati dan memperhatikan keahlian Tiara di dapur.


Tiara juga memasak untuk siang yaitu membuat pepes ikan, menu yang diminta Nenek, itupun Nenek berpesan kalau bisa memasaknya, kalau tidak Nenek tidak memaksa, dan Tiara ternyata bisa,jadi dengan senang hati Tiara membuatnya.


Dan sudah genap lima hari Nenek di rumah, besok hari Minggu Nenek minta pulang. Padahal keberadaan Nenek dirumah lebih mendekatkan Tiara dengan Dion suaminya. Selama beberapa hari ini Tiara benar - benar memainkan perannya sebagai istri, Nenek juga sudah cocok dengan masakannya, Tiara sebenarnya suka dengan peran seperti ini.


Tepat pukul sepuluh siang, Tiara dan Dion mengantar Nenek ke Bandara. Nenek pulang kampung ke Solo.


" Kalian berdua, lekas Nenek diberi cucu, kalian kan tahu Nenek sudah tua." Dion dan Tiara tersenyum mengiyakan.


" Hati - Hati Nek, selamat sampai tujuan, kapan - kapan kalau ada kesempatan Tiara ingin deh mengujungi kota nenek. Iya ngak Mas? " Ujar Tiara meminta dukungan suaminya.


" Iya, InsyaAllah." Jawab suaminya.