Love DiTi (Dion Tiara)

Love DiTi (Dion Tiara)
Bab 21



" Mas.. " Tiara protes suaminya pagi - pagi sudah iseng di dalam selimut.


" Mas, ngak enak kalau bangun kesiangan, ni ramai di rumah Nenek lho!"


" Nenek paling sudah paham Yang, kan Nenek pernah muda." Ucap Dion.


" Kamu tuh kayak candu bagi aku, kenapa ngak dari dulu aku kek gini, sampai tiga tahun begitu tersiksa batinku . Rugi aku Yang. Aku ngak mau memaksakanmu untuk menerima aku, lagian juga aku pikir ada Faiz, kalian sepertinya pasangan yang cocok, bahkan sekalipun dia pacaran sama Amel, tapi aku pikir sepertinya Faiz punya perasaan ke kamu deh."


" Ngak ada Mas, orang dia pacaran sama Amel bukan aku, oh iya aku janji, mau mengenalkan Mas pada mereka. Di kampus itu cuman mereka yang tahu aku sudah menikah, tapi aku belum menceritakan Mas suami aku." Hibur Tiara, tak mau menjelaskan bahwa Faiz memang ada perasaan ke dirinya.


" Ada hadiah, supraise, kejutan untukmu Mas, udah deh Faiz itu sudah bahagia dengan Amel, malah mereka akan bertunangan, dan sepertinya ngak lama - lama lagi akan menikah."


" Hadiah? Hadiah apa sayang?"


Tiara mengambil amplop di bawah bantalnya, kedunya sama - sama masih polos dari semalam, hanya ditutupi selimut saja.


" Inii.." Tiara mengacung - acungkan amplop putih kecil. Keduanya kemudian sama - sama duduk posisinya.


" Amplop apa ini Yang?" Dion membukanya.


" Kamu hamil ya?" Ternyata amplopnya berisi test pack 2 garis biru.


" Alhamdulillah.. " Dipeluknya Tiara, dielus - elus perut istrinya bahagia.


" Sehat - sehat ya Nak sampai kau lahir di perut Mama." Dion berbicara di depan perut Tiara sambil mengelus - ngelus perut istrinya yang masih rata.


Tepat jam sembilan Dion dan Tiara keluar kamar, Nenek masih sibuk di dapur, yang lain juga pada ngumpul di meja makan, cuma Alea dan Tom yang belum hadir.


" Mana si anak manja itu mbak?" Tanya Dion pada mbak Hesti.


" Baru aja mereka keluar, Alea ngajakin Tom jalan - jalan, katanya pingin ke pasar klewer cari batik si Alea." Kata mbak Hesti


" Habis gimana lagi Dion, wong dia anak bungsu, kakaknya laki - laki semua, papanya juga waktu itu pingin punya anak perempuan, ya udah dia dimanja sana - sini.


" Tapi Tiara suka kok sama Alea mbak, jadi rame kalau dia main ataupun menginep di rumah, kadang bisa buat temam kalau Mas Dion lembur belum pulang kerja, atau kadang pulangnya malam."


" Secepatnya kalian punya momongan, jangan ditunda - tunda, jadi rumah ngak sepi, ada suara anak - anak di rumah, punya anak banyak sekalian, empat atau lima."


" Umurmu berapa sekarang Tiara? Mumpung masih muda. Tanya mbak Hesti.


" Duapuluh mbak."


" Lha berarti masih muda ya, kayak Alea mau jalan dua puluh ya, tapi kok beda sekali kamu dengan Alea, kamu sudah matang, mbak kagum, kamu pintar apa aja, sekali - kali ajari Alea belajar dewasa, kalau masak apa bikin kue juga Alea diajarin, biar berkurang manjanya.


" Iyalah istrinya sapa dulu mbak?" Dion memeluk Tiara dari belakang, mencium pipinya juga.


" Doain Nek, Mba Hesti semoga Tiara benar - benar hamil, sudah di test pakai test pack, hasilnya positif garis dua biru. Tinggal memastikan di Dokter kandungan."


" Semoga Tiara benar - benar hamil, mba doain ya.."


DELAPAN BULAN KEMUDIAN


" Selamat ya bayinya kembar, laki - laki dan perempuan, mereka juga sehat." Kata Dokter yang membantu Tiara melahirkan di Rumah Sakit Ibu dan Anak.


Ada Papa dan Mama Tiara, Nenek, Mba Hesti juga Alea yang kini telah resmi bertunangan dengan Tom.


" Terima kasih sayang, telah melahirkan buah hati kita." Dion mengecup kening istrinya.


TAMAT