
Rumah Nenek sangat besar dan luas juga terlihat paling megah, nuansa perpaduan modern dan klasik. Tiara sangat suka, berasa nyaman dan terkesan damai, ditambah penghuni rumahnya semua welcome banget.
Ada mba Hesti yang sudah sampai disitu, Bik Minah, dan Pak Ujang dibawa serta, berjaga - jaga barangkali Nenek butuh bantuan mereka. Alea belum datang, dia bilang di messagenya datang malam hari.
" Nenek senang sekali kalian datang, rasanya rumah jadi ramai, suasananya hidup."
" Tiara juga suka berkunjung ke rumah Nenek, rumah Nenek besar dan nyaman. Oh iya Nek, ini pesanan brownies pesanan Nenek."
" Terimakasih Tiara, kau memang anak baik, bagaimana apakah kalian sudah membuatkan Nenek cucu. Nenek sudah tua, pingin sekali menimang cucu."
Dion memeluk Tiara dari belakang, tangannya mengelus - ngelus perut Tiara.
" Smoga saja Nek, di perut Tiara ada juniornya aku, doain ya Nek."
Tiara, jadi salah tingkah, diperlakukan seperti itu, wajahnya merona merah, kayak kepiting rebus. Tiba - tiba tangan Nenek ikut mengelus - ngelus perut Tiara, serius sekali raut muka Nenek. Tiara jadi tak mengerti.
" Sepertinya kamu hamil Cu, Nenek bisa merasakan waktu melihatmu pertama kali masuk, ada sedikit perubahan dari wajah dan bentuk tubuhmu. Auranya kalian akan dikaruniani anak kembar.
" Aamiin Nek..seandainya begitu." Spontan Dion dan Tiara kompak mengaminkan doa Nenek.
Tiara mengingat - ingat, kapan terakhir datang bulan ya, sepertinya waktu making love pertama kali itu, Tiara baru selesai datang bulan, berarti itu masa subur - suburnya.Dan berarti sudah lewat 1 bulan lebih sejak peristiwa making love, Tiara belum datang bulan. Apa mungkin ya, batin Tiara, akhir - akhir ini dia merasa sesak baju - baju yang biasa dipakai, bra nya pun sudah tidak enak dipakai.
" Ayo Yang, ke kamarku, kamar aku dulu di atas." Ajak suaminya Dion.
" Nek, Tiara ke kamar dulu ya.." Pamit Tiara pada Nenek.
Kamar Dion luas sekali, tempat tidurnya pun luasnya sama dengan yang di rumah, kamar mandi juga ada, tapi ini ada pemandangan indah yang bisa dilihat lewat balkon. Sejuk sekali udaranya, karena tempat Nenek berada di dekat kaki pegunungan.
" Nyaman sekali udaranya Mas." Tiara melihat - lihat pemandangan nun jauh disana. Hamparan sawah menghijau, kebun cabe dan kol juga banyak.
" Kamu suka Sayang disini? Bagaimana kalau kelak kita sudah tua, kita tinggal disini. Ini adalah rumah Papa dan Mama, rumah masa kecilku disini."
" Jadi ini rumah Papa Mamamu Mas?"
" Rumah Nenek itu, sebenarnya sudah dijual, karena Papa Mama meninggal akhirnya Nenek tinggal disini, daripada rumah ini kosong tidak ada yang menempati."
" Besok aku akan ajak kau ke makam Papa dan Mama, sekarang bersihkan badan dulu, trus kita istirahat, sepertinya kau kecapean, wajahmu pucat Sayang."
" Aku mungkin agak sedikit mengantuk saja Mas, aku bersihkan badan dulu Mas."
Dion keluar dari kamar mandi, dilihatnya Tiara di tempat tidur, masih belum tidur.
" Katanya mengantuk,kok belum tidur Yang?" Dion ikut merebahkan tubuhnya.
" Aku ngak bisa tidur Mas.."
" Sudah sini Mas peluk." Dion memeluknya, memberi kenyamanan, mengelus - ngelus rambut Tiara, bersenandung lirih, seperti menyanyikan lagu, layaknya ibu menidurkan bayinya. Dalam sekejap Tiara tertidur. Dion menatapnya lama, rasanya begitu bahagia, memiliki istri seperti Tiara.