
" Tante ni acaranya mo kemana lagi?" Alea bertanya.
" Lha, kamu pingin aku temenin kemana lagi Al? "
" Udah cukuplah, next kita jalan bareng lagi ya Tan. Ni aku antar Tante ke tempat Om Dion.
Tiara menaiki anak tangga menuju ke tempat kost Dion suaminya, tapi sebelum mengetuk pintu, samar ada namanya disebut. Pintunya agak terbuka sedikit, jadi Tiara bisa mendengar percakapan Dion dan temannya.
" Tiara itu istri aku Tom, aku jatuh cinta pada pandangan pertama, saat itu aku mengadakan peresmian anak cabang perusahaanku yang baru, dia datang diajak Papa Mamanya alias mertuaku. Entahlah aku dah ngrasain hati yang berdebar - debar tak karuan, dan jantungku berdesir, setelah melihatnya memasuki gedung, dan senyumnya itu membekas di ingatanku."
Kebetulan Papa mertuaku, meminta tolong padaku, karena perusahaannya kena tipu, dah keuangannya sedang goncang, dia meminta pinjaman padaku dengan iming - iming bunga tinggi, dia memohon - mohon padaku, katanya kasihan anak istrinya tak tahu, dia juga bersedih karena Tiara bentar lagi naik kelas tiga dan hampir masuk perkuliahan. Mendengar nama Tiara aku jadi punya ide. Aku tak meminta bunga dan aku membebaskan hutang itu asal Tiara aku minta menjadi istri."
" Tapi aku tak sejahat itu, aku membebaskan Tiara untuk tidak tinggal bersama, mengingat Tiara masih kelas dua, kami tinggal bersama saat ada moment keluarga aku datang berkunjung ataupun mereka akan menginap, itulah kebersamaanku Tom, kami pulang ke rumah dan satu kamar."
" Dan tepat usia pernikahan tiga tahun jika tak ada kemajuan hubungan di dalam pernikahan kita, Tiara tidak hamil, tidak ada anak maka kita bercerai. Papa mertuaku orang baik, selama ini beliau banyak membantu aku dalam menghadapi masalah di perusahaan."
" Tunggu Dion, apakah kalian pernah melakukan hubungan suami istri?"
" Tom - tom, menyentuhnya pun aku tidak apalagi hubungan suami istri."
" Kau ini normal atau tidak si? Apa punyamu tak tegang? jika kalian tidur bersama, atau jangan - jangan kau melakukan **** bebas dengan cewek lain untuk melampiaskan nafsumu yang tak tersalurkan?"
" Enak saja bilang aku tak normal, ya mesti teganglah punyaku, kadang aku keluar kamar, atau sengaja berlama - lama, menunggu Tiara tertidur, aku juga tak pernah melakukan dengan siapapun, aku hanya ingin melakukannya dengan Tiara saja, ingin rasanya membuatnya hamil jadi tak akan mengajukan perceraian jika ada anak. Kau tahu Tom betapa tersiksanya aku menahan rasa cinta seperti ini. Menurutmu aku mesti bagaimana, dengan sisa waktu yang tak banyak. Kali saja kau ada ide."
" Kau gila Dion, kalau aku jadi kau, aku akan jujur mengatakannya, buat apa menyiksa diri seperti ini, tiga tahun waktu yang lama menurutku, aku apa bisa sepertimu?" Tom menggelengkan kepalanya.
" Justru aku tak bisa seberani dirimu Tom, aku takut ditolak dan takut bercerai dengan Tiara."
Tiara mematung diam, tiba - tiba kakinya menjauh dari kamar suaminya, rasanya sudah tak sanggup lagi menguping pembicaraan itu, bingung harus bagaimana, ternyata perasaannya selama ini dengan suaminya sama, mungkin kita sama - sama malu untuk berterus terang, tiba - tiba dia ada ide terlintas di kepalanya.