
Tiba - tiba petir menggelegar keras, lampu pun padam. Tiara langsung memeluk sosok suaminya. Dari kecil memang Tiara takut petir dan lampu gelap. Biasanya Tiara akan berlari memeluk Papa atau Mamanya.
" Mas aku takut petir dan gelap."
Dion pun menenangkan Tiara, dia terkejut laptopnya dimatikan dan ditutup, dibawanya Tiara menuju ke tempat tidur, ngak menyangka istrinya takut petir dan gelap. Dion baru tahu kalau Tiara begitu ketakutan dengan petir dan gelap.
Jadilah Dion tidur sambil mendekap dan memeluk tubuh istrinya. Tubuh Tiara mungil meskipun perawakannya tinggi. Hujan deras, angin juga bertiup kencang dan petir pun bersaut - sautan. Padahal sudah dari sore, dari Tiara datang hujan belum menandakan akan berhenti malah bertambah deras. Semoga hujannya membawa berkah, hujannya hujan yang bermanfaat. Begitu doa Dion.
Dan memang dengan hujan petir mati lampu seperti ini membawa berkah bagi hubungan pernikahan Dion dan Tiara, disaat dirinya dilanda kebingungan memikirkan nasib pernikahannya yang sebentar lagi berakhir, dan Dion tak tahu bagaimana cara menyampaikan perasaan sayangnya kepada istrinya memang murni cinta. Mereka sekarang disatukan oleh hujan petir dan mati lampu dengan saling berpelukan, mendekap bicara dari hati ke hati.
Sesekali Dion mengusap rambut Tiara, menenangkannya, Tiara pun tak menolaknya, lama - lama mereka saling menyentuh, entah bagaimana tangan Dion sudah mengelus - ngelus punggung Tiara, menggosok - ngosokkan tangannya memberi kehangatan, Tiara diam menikmati, sesekali.tangannya meraba wajah suaminya.
" Mas..."
".Hm..." Sahut Dion. Tangannya sudah berada di atas puncak bukit mungil Tiara. Tiara mengerang nafasnya memburu.
" Sayang.. Punyaku sudah... Dion membawa tangan Tiara ke bagian bawahnya. Dan tangan Tiara bergetar menyentuhnya. Sementara Tiara sudah polos dibalik selimut dan Dion pun sama polosnya.
Di tengah dahsyatnya hujan petir. Tiba - tiba lampu menyala terang. Tiara jadi tersipu malu, tubuhnya sudah polos di bawah suaminya yang juga sama - sama polosnya.
" Aku akan melakukannya pelan sayang." Jadilah malam ini mereka menyatu, melebur jadi satu. " Aku mencintaimu Tiara." Ucap Dion ketika mereka menyatu. Tiara mengangguk mengiyakan. " I love you too" balas Tiara.
Keesokan paginya Tiara terbangun, Dion memeluknya erat, tangannya usil di bukit mungilnya.
" Mas.... Mas iseng sekali ya! Sudah pagi, kita sholat shubuh berjamaah dulu, ayo mandi dulu keburu habis waktunya."
Tiara turun dari tempat tidur, sambil tertatih - Ratih, rasanya sakit dan perih buat berjalan.
" Huff.. Ternyata sesakit ini ya?" Guman Tiara pelan.
Dan Dion langsung menggedong Tiara, ke kamar mandi, mereka mandi bersama.
Setelah mandi Tiara membereskan tempat tidur, dilihatnya ada bercak darah diatas sprei, Dion juga melihatnya.
" Makasih sayang." Sambil mencium bibir Tiara.
Tiara protes " Ih Mas ni mesum terus."
" Mesum sama istrinya nga boleh ya ?" Jawab Dion.
" Mas ni spreinya dilepas aja ya? "
" Bawa pulang ke rumah aja sayang, kita tempati rumah kita yuk, jadilah istriku selamanya Tiara, jadi ibu dari anak - anakku.
Pinta Dion memegang tangan Tiara membawa ke dadanya.
" Iya mas, apa Mas lupa aku kan udah jadi istri Mas kan ya? Semoga aku segera diberi kepercayaan untuk lekas diberi momongan ya Mas."
" Aamiin.. Semoga Allah mendengar dan memenuhi permintaan kita sayang." Dion memeluk tubuh Tiara dengan penuh kasih sayang dan sangat bahagia. Perasaan cintanya terwujudkan, betapa bersyukurnya Dion.