LOVE AND REVENGE

LOVE AND REVENGE
Love & Revenge Eps 7



" Bang, Kau tak apa?"


Alex melirik sekilas Nadila dan langsung memalingkan Kembali wajahnya dari Nadila


" Tak perduli dia mantan bima atau bukan. Aku akan membuat hatinya terbuka kembali."


Nadila menghela nafas melihat malam ibukota dari balik jendela di sebelah nya.


" Aku hanya bisa mendukung mu jika kau memang benar benar mencintai nya."


Alex menatap Nadila dengan tatapan dingin " Bagaimana jika Bima masih hidup?"


" jangan gila bang."


Alex mendesah " Bahkan jasadnya pun kau tak lihat, Hanya peti mati yang entah di dalamnya jasad siapa."


" Bang cukup sudahi semuanya aku ingin pulang."


Nadila bangkit dari bangkunya dan beranjak pergi, Namun alex dengan sigap menggenggam tangan nya. Menarik tubuh mungil gadis itu hingga jatuh ke pangkuan nya.


Nadila kaget dan berusaha merontak, Namun alex mempererat dekapannya yang membuat nadila mau tak mau menerima nya.


" Sebentar saja. Akan ku lepaskan dirimu setelah ini."


Nadila terdiam mendengar perkataan Alex, Dia biarkan laki laki itu mendekapnya untuk beberapa saat.


🌹🌹🌹


Nadila duduk di halte bus melamun menatap sekitar nya. Dia masih memikirkan apa yang di ucapkan alex di restoran tadi. Bukan tanpa sebab Alex berkata Bima masih hidup itu pun karena memang benar adanya jika dia dan kedua orangtuanya belum pernah melihat jasad bima secara langsung.


David yang saat itu mengantarkan pemulangan jasad yang di yakini Bima hanya membawa sebuah peti yang tak tau benar atuh tidak isinya jasad bima. David mengatakan jika Bima mati karena di bunuh wajahnya bahkan rusak hingga tak di kenalin, Namun entah hanya perasaan Nadila saja hingga saat ini dirinya belum sepenuhnya percaya jika bima kakanya benar benar mati. Terlebih lagi setiap Nadila bertanya kepada David tentang kematian Bima, David selalu mengelak bahkan terkadang marah.


Nadila tersadar dari lamunannya ketika bus yang dia nantikan tiba, Dirinya langsung masuk ke dalam bus berwarna biru dan duduk di dekat jendela.


Pagi telah tiba matahari belum sepenuhnya naik ke atas langit, Namun alisya sudah selesai bersiap siap memakai baju rapih dan terlihat dia mempoles wajahnya sedikit.


Alisya turun dari rumah susun nya, Berjalan menelusuri gang satu arah menujuh jalan utama. Dia menaikin Sebuah tangga penyebrangan orang dan berhenti di halte busway.


Akhirnya alisya sampai di depan gedung tinggi yang bertuliskan KKF media sebuah perusahaan penerbit buku yang cukup terkenal di ibukota. Alisya tersenyum sumringah sambil kakinya melangkah masuk ke dalam gedung itu.


Nadila menyapa seorang wanita yang berdiri di belakang meja informasi.


" Selamat pagi mba."


Wanita yang memakai blaze hitam dan rok mini itu tersenyum kembali menyapa Alisya dengan ramah.


" Pagi nona. Ada yang bisa saya bantu?"


" Saya Alisya beberapa waktu lalu saya pernah mengirimkan naskah cerita saya ke sini dan kemarin saya di telpon untuk datang kesini."


" Sebentar saya cek dulu ya Nona."


Alisya tersenyum mengangguk, Sementara wanita di hadapan Alisya sedang menelepon seseorang.


" Nona anda akan bertemu seseorang untuk mulai bekerja disini, Namun orang tersebut baru akan tiba pukul 9 pagi."


" Tidak apa apa aku bisa menunggu."


" Baiklah, Kau bisa pergi ke lantai paling atas gedung ini kemudian datanglah ke ruangan paling ujung di lantai tersebut."


" Terimakasih ya."


" Baik."


Alisya keluar dari gedung KKF Media, Memutuskan untuk mencari sarapan, Alisya berjalan santai sekitar gedung, Hingga akhirnya pilihan nya tertujuh kepada gerobak yang berada di di sebrang gedung.


Alisya menghampiri gerobak yang menjual bubur ayam serta berbagai macam sate itu, Memasan satu mangkuk bubur dan segelas teh hangat. Alisya kemudian duduk di bangku yang di sediakan penjualan. Sambil menunggu alisya membuka ponselnya melihat lihat isi surai yang masuk ke dalam emailnya.


Tak butuh waktu lama bubur yang di pesan alisya pun sudah siap, Alisya melahap bubur dihadapannya dengan sangat lahap sambil terus matanya tertujuh kepada ponsel di genggaman nya.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh dua menit, Alisya sudah duduk di ruang tunggu lantai paling atas gedung KKF Media. Nampak sangat sepi di lantai itu, Hanya ada beberapa pegawai saja yang berlalu lalang melewati alisya, Bahkan alisya dapat menghitung para pegawai itu. Sangat berbeda ketika dirinya berada di lantai lantai lain.


" Nona kau di perbolehkan masuk."


Sebuah suara mengangetkan Alisya yang sedang duduk termenung. Alisya segera bangkit dari sofa dan mengikuti seorang wanita berparas cantik menujuh ke sebuah ruangan.


Wanita berjabatan sekertaris itu mengetuk pintu berwarna coklat kayu, Berlahan membukanya ketika seorang laki laki memperbolehkan nya masuk. Namun bukan melangkah masuk kedalam Sekertaris wanita itu berdiri di ambang pintu memutar tubuhnya bertatap dengan alisya lalu menyuruh alisya masuk.


" Silahkan nona."


Sekertaris yang membawanya ke dalam ruangan itu sudah menutup pintu dan pergi meninggalkan Alisya seorang diri.


Alisya berdiri di dekat pintu memandangi dengan takjub isi di dalam ruangan itu. Dia belum pernah melihat ruangan mewah dengan barang barang mahal di dalam nya. Mata nya tertujuh dan langsung menunduk kan kepala Melihat seorang pria berdiri menatap jendela kaca super besar di hadapannya.


" Duduklah." Pria berjas abu abu itu menyuruh alisya duduk di sofa.


" Terima kas..... Hah..."


Alisya tertegun benar benar kaget melihat laki laki yang berdiri di hadapannya. Bukan laki laki yang ingin dia temui atau bayangkan. Namun seorang laki laki yang benar benar dia benci walaupun dia pernah sekali bertemu di taman kala itu.


" Kenapa? Kau kaget melihat ku?" Ucap Reza melangkah mendekati Alisya.


" Ti...Tidak juga."


Alisya menyelipkan rambutnya di belakang telinga, Memalingkan pandangan dari Reza dan segera duduk di sofa. Reza pun duduk di sofa mengahadap ke tubuh alisya yang terlihat gugup sambil terus mencengkeram erat tas selempang nya.


Reza mengambil gagang telpon di yang terletak di meja sebelahnya, Menyuruh seseorang membawakan segelas kopi dan teh hangat ke ruangan.


Setelah selesai, Reza meleparkan setumpuk berkas ke hadapan Alisya. Alisya menatap berkas yang di sodorkan Reza.


" Bukalah, Dan baca itu."


sesaat alisya melirik Reza yang duduk dengan akuh menatap nya dendam tatapan devil khasnya. Namun buru buru dia langsung memalingkan Kembali pandangan nya dari Reza Berlahan membuka map yang berisikan setumpuk kertas yang entah isi nya apa.


Belum lama Alisya membaca berkas yang di berika alisya, Sebuah ketukan menghentikan aktivitas nya. Menoleh ke arah pintu dan melihat seorang OB membawakan pesanan yang di pesan Reza.


Alisya menganggukan kepala, Seraya OB itu tersenyum kepada nya. Setelah OB yang membawa minuman itu pergi alisya kembali membaca Berkas berkas satu demi satu dengan teliti.


Hampir 15 menit Alisya membaca hingga matanya membulat ketika membaca akhir dari isi berkas berkas di tangan nya. Mengembalikan berkas yang sudah selesai dia baca ke dalam map, Lalu Meletakannya Kembali di meja.


Alisya menatap nanar Reza yang sedang menyeruput kopi nya " Aku ini seorang penulis bukan asisten pribadi mu. Memang kemana Bram pulang ke utara?"


Reza terkekeh mendengar perkataan Alisya, Menaruh cangkir yang masih berisi kopi ke tempat semula dan menatap alisya " Terserah mu. Jika kau masih mengandalkan pekerjaan mu sebagai penulis online apa mungkin kau akan dapat melunasi hutang hutang mu kepada Guntur (Paman alisya)"


Alisya menghela nafas " Apa mau mu za?"


" Kau lebih pintar dari dugaan ku."


" Kau Reza yang punya seribu cara untuk mendapatkan yang kau mau. Semua orang mengenalmu."


Reza bertepuk tangan mendengar perkataan Alisya lalu Tertawa. Menatap kembali kepada gadis di hadapannya.


" Aku tidak menginginkan apa apa hanya perlu kau mendekati alex dan mencari tahu kelemahan."


" Alex?"


" Orang yang pernah kau tabrak dan melemparkan mu jaket kulit miliknya."


Alisya tertegun ketika teringat sosok laki laki angkuh yang terkenal kasar itu " Kau gila."


" Kenapa..."


" Kau Bahkan temannya bersama Bima dulu. Mengapa kau menyuruhku ?"


" Tak perlu banyak bertanya aku akan membayar mu 30 juta dalam satu bulan."


Alisya Terdiam menatap mata Reza lekat lekat ketika laki laki di hadapannya itu menyebutkan nominal gaji untuknya.


Apa 30 juta dia bercanda ya. Bagaimana aku bisa mendekati alex dan mencari kelemahan nya tapi 30 juta itu bahkan bisa mencicil hutang hutang ku.


" Kau hanya harus mengikuti perintah ku."


" Hah perintah mu." Alisya mengerutkan dahi.


" Aku tahu jika alex mulai menyukai mu. Pergilah untuk sedikit menggoda nya kau akan tau kelemahan nya."


" menggoda alex.. Kau benar benar tidak waras ya Za."


Reza Kembali terkekeh mendengar perkataan Alisya, Dia menyilang kan tangannya di dada lalu bersender.


" Terserah jika kau menginginkan dijual sebagai ******* oleh paman mu."


Alisya memejam kan mata sesaat, Menghembuskan nafas berlahan dan berkata dengan hati yang berat


" Bagiamana caranya aku bisa mendekati laki laki itu?"


\=\=\=\=\=\= \=\=\=\=\=\= \=\=\=\=\=\=