
Nadila terdiam mendengar perkataan David termenung sendiri melamun entah memikirkan apa.
David yang melihat nya menyenggol lengan Nadila menatap gadis itu dengan hangat
" Ada apa kau merindukan laki laki itu?"
" Tidak...."
David tersenyum memberikan sepiring nasi goreng yang baru saja dia masak kepada nadila.
" Makanlah aku akan naik ke atas sebentar."
Nadila hanya mengangguk kan kepala, mengambil sendok dan menyuap nasi goreng yang di buat kan david.
David Berdiri di depan lemari pakaiannya, Mengambil baju santai dan celana pendek miliknya. Berjalan menujuh kamar mandi.
Sementara Nadila yang sudah selesai makan membersihkan bekas piring dan peralatan masak yang kotor. Setelah nya, dia berjalan menaiki tangga, Berlahan mendekati pintu kamar David, Namun langkah nya terhenti ketika nadila mendengar teriakkan David yang sangat menyeramkan itu bahkan belum Pernah dia dengar selama dirinya mengenal David.
" Apa kau tuli? Aku bilang kurung dia jika sampai dia kabur aku akan mencabik-cabik mu."
" Aku tidak perduli kalau pun dia mati itu akan lebih baik. Bakar saja jangan sampai meninggalkan jejak."
Nadila tertegun mendengar perkataan yang keluar dari mulut David, Jika Reza yang mengucapkan Nadila tak akan kaget. Namun ini berbeda david orang yang Nadila kenal laki laki hangat baik dan tulus dapat berucap seperti itu, membunuh seseorang? Benar benar tidak pernah Nadila percaya.
Nadila memundurkan tubuh nya menjauh dari kamar David, Kembali ke lantai bawah dan duduk di sofa. Entah apa yang di fikirkan wanita itu, Dia hanya duduk termenung tak berbicara sepatah kata pun hanya sesekali nafasnya terdengar begitu keras.
Drrrtttt.... Drrrtttt..... Drrtttt
Nadila terkejut dirinya tersadar dari lamunan ketika ponsel miliknya yang dia gengam berdering, Terlihat sebuah panggilan dari nomer yang tak dia kenal. Nadila langsung mengangkat panggilan itu dengan cepat
" Hallo..."
"......"
" Kau...."
"....."
Nadila mematikan panggilan nya buru buru mengambil tas selempang yang tadi dia pakai dan meninggalkan apartemen David. David yang mendengar pintu apartemen terbuka langsung turun dan memanggil nadila, Namun tak ada jawaban. Dia menatap seluruh ruangan mencari cari keberadaan wanita itu namun tetap tidak menemukan nya. Dia justru menemukan secarik kertas kecil yang tergeletak di atas meja
" Bang aku ada urusan mendesak. Aku akan segera mengabarimu."
David berdecak menghembuskan nafas berlahan.
Reza Berdiri di balkon apartemen nya sambil menenguk segelas alkohol di genggamannya, Dia terus menatap langit langit ibukota di malam hari, Hingga mata nya tertujuh kepada seorang gadis berpakaian blazer berwarna pastel tengah berdiri memberhentikan sebuah taksi tampak terlihat langkah nya yang tergesa gesa. Reza menyeringai ketika gadis itu masuk ke dalam taksi meminum kembali minuman di tangannya.
\=\=\=\=\=\= \=\=\=\=\= \=\=\=\=
Alisya duduk di depan laptop nya terus berkutat dengan naskah cerita nya, Disebelah terdapat semangkuk cemilan yang setia menemani nya. Terus mengunyah sambil tangannya tak berhenti mengetik.
Namun dia memberhentikan aktivitas nya itu tak kala suara telpon mengangetkan nya. Alisya mengambilnya ponselnya tanpa melihat siapa yang menelepon dia mengangkat nya
" Halloo...."
"....."
" Iya saya sendiri."
" ......"
Alisya berdiri karena terkejut matanya berbinar-binar
" Baik pak baik. Terimakasih."
Alisya berteriak seraya mematikan panggilan nya dia mengangkat kedua tanganya sambil terus berteriak kecil. Tapi tiba tiba dia berhenti mengingat sesuatu, Dia beranjak mencari cari sesuatu di dalam dompet nya, Kemudian mengeluarkan kartu nama yang di berikan alex tadi.
Alisya duduk di kasurnya melonggarkan tubuhnya dan menarik nafas
Syukur lah ku fikir aku menerima pekerjaan dari perusahaan nya. Hanya nama perusahaan nya saja yang sama.
--------
Setelah menerima telpon entah dari siapa Nadila dengan tergesa gesa pergi meninggalkan kediaman David tanpa berpamitan, Menaiki lift dan berjalan agak cepat memberhentikan taksi. Sampai dirinya pun tak menyadari jika ada seorang pria yang berdiri di atas balkon memperhatikan nya.
Nadila menaiki taksi memberikan alamat dari ponselnya ke supir taksi. Menyenderkan tubuhnya dan menatap keluar jendela mobil, Sesekali matanya terpejam dan menarik nafas berlahan.
Setelah menempuh perjalanan kurang dari 30 menit Nadila sampai di sebuah restoran bintang lima. Dirinya turun dari taksi Berdiri sesaat memandangi restoran yang mewah di depan nya.
Nadila berjalan memasuki restoran dengan nuansa klasik itu, Menatap sekeliling ketika sampai di ambang pintu masuk. Seorang pelayan wanita mendekatin nya tersenyum dan menyapa Nadila dengan ramah.
Nadila mengangguk kan kepala kikuk
" Baik Nona silahkan ikut saya."
Pelayan dengan seragam putih hitam itu menyuruh Nadila mengikuti nya, Dia mengarahkan Nadila ke lantai paling atas restoran itu.
Terlihat seorang laki laki berjas duduk sendiri di ruangan VIP menatap malam ibukota dari balik jendela kaca. Nadila mendekati nya membungkuk kan tubuhnya menyapa laki laki yang sedang duduk dengan sebotol wine.
" Kau sudah datang."
Alex duduk dan menatap kedatangan Nadila.
" Duduklah. Kau mau pesan sesuatu?"
" Aku sudah makan bang.."
" Dimana?" menuangkan wine kedalam gelas.
" hmm rumah bang David."
Alex berdecak dan menaruh botol wine nya menatap lekat wajah wanita di hadapannya itu.
" Kau mau minum?" Mengangkat gelasnya.
Nadila hanya menggelengkan kepalanya. Alex menenguk habis isi di dalam gelas nya Meletak gelas kosong di atas meja.
" Kenapa restoran ini sangat sepi. Apa mereka baru buka?" Nadila menatap sekeliling restoran.
" Aku menyewa seluruh restoran ini."
"Akhhhh... Lalu apa yang membuat mu menghubungi ku dan mengatakan ada hal penting?"
Nadila menatap wajah alex yang tanpa berekspresi itu. Alex Menggenggam tangan Nadila, Nadila hanya menatapnya dengan tatapan tersipu.
" Aku ingin bertanya untuk sekian kalinya dan mungkin untuk terakhir kalinya kepadamu."
Nadila hanya diam kikuk tertunduk tak berani menatap wajah alex.
" Jadilah milikku. Lupakan Reza dan menikah denganku."
Nadila langsung melepaskan genggaman alex dan menatap alex lekat lekat
" Bang, Aku tidak bisa. Aku masih mencintai..."
Nadila menghetikan perkataan nya ketika melihat Alex tersenyum kecut tak menatap nya.
Alex Melemparkan sebuah foto dari dalam jasnya ke hadapan Nadila.
Nadila terkejut menatap foto dihadapannya. memegang foto tersebut dan menatap alex yang masih memalingkan pandangan nya kepada Nadila.
" Aku menyukainya. Jika kau tak mau menikah denganku tak apa, Mungkin aku akan berpindah hati mulai sekarang."
" Bagiamana kau mengenal alisya bang?"
Melipat tangannya ke dada, Alex menatap Nadila.
" Mungkin dewi cinta sudah mengariskanya."
Nadila menatap foto Alisya dengan ekspresi terkejut dan sedikit takut. Menatap kembali ke arah Alex
" Kau tidak akan segampang itu bisa mendapatkan hatinya bang..."
" Mengapa? Aku tampan kaya apapun bisa ku dapatkan...."
" Kecuali hatinya."
" Apa maksudmu?"
Nadila menarik nafas berlahan " Dia mantan kekasih bang bima..."
Mata alex membulat mendengar perkataan Nadila.
" Kau bercanda?"
" Aku serius. Dia wanita yang selalu di bicarakan bang bima kepada kalian."
\=\=\=\=\=\= \=\=\=\=\= \=\=\=\=\=