
Nadila terus berusaha melepaskan cengkraman David. Namun David terus mempererat cengkraman nya bahkan dia juga tega menampar dan memukul gadis itu hingga hidungnya mengeluar darah.
Entah apa yang membuat David dengan tega mempelakukan Nadila Seperti itu, Dia benar benar sangat berubah bahkan tatapannya sangat menakutkan. Itu pun membuat Nadila mengingat apa yang pernah dulu di lakukan Reza. Nadila benar benar takut terlebih wajah David sekarang berubah menjadi wajah Reza menurut pengelihatan Nadila.
Nadila mendorong kuat kuat dada david mengigit tangannya, Hingga akhirnya Nadila dapat keluar dari cengkraman David.
David jatuh kebawah kasur, Setelah Nadila mendorong nya dengan kuat mengigit lengannya sampai dia memukul kepala david dengan gagang telpon. Setelah melihat david jatuh tersungkur ke tanah, Nadila buru buru melarikan diri dari ruangan david. Menekan tombol lift dengan tangan gemetar dan keringat terus mengalir.
Sementara Reza tiba di kantor Davison. memarkirkan mobilnya dan turun. Seluruh karyawan Davison menatap heran kedatangan Reza. Ya!! Pasalnya laki laki itu terkenal musuh besar bossnya, Bukan hanya soal bisnis tapi juga memperebutkan cinta dari Nadila.
Reza tidak memperdulikan tatapan semua orang kearahnya, Dia berlari mendekati lift. Menekan tombol lift dan berdiri menunggu pintu lift terbuka. Ketika pintu lift terbuka, Reza benar benar kaget matanya membulat dan airmukanya berubah. Menatap seorang wanita tersungkur di lift dengan keadaan kacau. Rambutnya acak acakan keringat terus mengalir deras, Dan yang membuat Reza naik vital pun nampak luka lebam di pipi dan darah dari hidung wanita itu.
" Nadila.. Kau kenapa..." Reza berjongkok memegang kedua tangan nadila dan berusaha membuat wanita itu menatap nya
Nadila menatap Reza, Wajahnya terkejut dan kaget melihat pria di depannya itu. Nadila langsung bangkit dan berusaha melepaskan genggaman tangan Reza.
" Lepaskan ... lepaskan" Suara Nadila parau tak terkendali.
Reza benar benar mengetahui apa yang terjadi dengan wanitanya itu. Dia sering melakukan itu ketika sedang marah dengan Nadila, Jadi dengan mudah Reza dapat mengetahui jika Nadila habis mendapatkan kekerasan fisik.
" Siapa yang mengasari mu."
Nadila berteriak, Membuat para pegawai perusahaan berkerumun menatap ke arah Reza dan Nadila. Itu pun membuat Nadila semakin menjadi jadi.
Dia terlihat ketakutan tatapan matanya kosong memandangi semua orang yang terus menatap nya bahkan ada yang memvideokan dan memotret nya.
Nadila mendorong tubuh Reza, Berlari keluar dari kantor David. Reza mencoba mengejar wanita itu hingga dia sampai di sebuah perkampungan pinggiran kota. Dia terus mengejar Nadila, Namun sayang dia kehilangan jejak Nadila ketika dirinya tidak sengaja menabrak orang.
Reza berteriak frustasi, Melepaskan jasnya dan melonggarkan dasinya. Dia kembali menatap sekeliling nya berharap dia menemukan Nadila. Namun Nadila tidak menampakkan dirinya.
Nadila mengumpat di balik gang kecil yang tak Reza liat, Namun nadila dapat melihat dengan jelas kemarahan dan rasa frustasi Reza. Nadila mengigit kukunya wajahnya masih terlihat pucat berkeringat dan ketakutan.
yakin Reza sudah pergi, Nadila Menyenderkan tubuh nya ketembok gang menghela nafas panjang. Dia mengatur nafasnya agar tetap tenang dan kembali seperti sedia kala. Merasa dirinya sudah agak tenangan Nadila membetulkan Rambutnya yang berantakan, Mengambil cermin kecil di dama tasnya dan membersihkan noda darah di wajahnya menggunakan jaket nya itu.
Setelah selesai membetulkan dirinya, Nadila berlahan Melangkah kaki berjalan menuju jalan Raya. Berdiri di halte bus diam tak bergeming, Sampai bus yang akan dia naiki tiba pun dia tetap diam duduk menatap jalanan dari balik jendela.
Hingga tiba kembali di kosan nya, Nadila tak bergeming ketika penghuni kosan lainnya menyapa dan bertanya ada apa dengan wajahnya. Nadila melewati mereka begitu saja, Membuka pintu kamar miliknya lalu mengunci kembali kamar itu.
Nadila menaruh tasnya di kursi kerjanya, Duduk diatas kasur dengan kaos kaki yang masih menempel di telapak kakinya. Tak dapat terbendung lagi air mata kini jatuh membasahi pipinya. Dia menangis cukup keras.
Dia duduk menyenderkan tubuhnya dan menarik selimut hingga lutut nya, Sekejap sebuah ingatan terlintas di dalam fikirannya, Membuat gadis itu menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Nadila mengigit kukunya menatap kosong kamarnya, Dia benar benar sangat ketakutan dan trauma. Terus terbayang bagaimana seorang laki laki pernah hampir merebut kesuciannya malam itu, Walaupun dia selamat hingga saat ini dirinya tidak mengetahui siapa laki laki yang pernah mau memperkosa nya.
🌹🌹🌹🌹
Tak jauh berbeda dengan Nadila, Alisya duduk termenung sendiri di kamar nya. Menatap layar laptop yang tak dia nyalahkan.
Fikirannya terus berterbangan mengingat kejadian yang dia lihat tadi siang. Bima!!! Apakah benar itu bima, Jika benar sedang apa dia di sana dan mengapa dia pura pura mati selama ini, Apa yang terjadi pada dirinya. Apa dia baik baik saja. Semua pertanyaan itu terus mengisi fikiran Alisya.
Alisya menghela nafas, Menempel kan kepalanya diatas senderan kursi dan menatap langit langit kamarnya. Dia Memejamkan matanya beberapa saat, Hingga sebuah pesan masuk ke dalam ponsel nya.
Dia meraih ponsel miliknya membuka pesan yang ternyata dari Chris mantan bosnya dulu.
Chris : Besok malam apa kau bisa bernyanyi disini. Besok adalah acarnya.
Alisya : baik ka.. Setelah pulang bekerja aku akan segera datang kesana.
Alisya menaruh kembali ponselnya, Memposisikan tubuhnya ke semula, Hingga dia beranjak untuk membaringkan tubuhnya di kasur.
Keesokan paginya Alisya telah bersiap memakai pakaian yang dia beli kemarin dan hendak pergi menujuh ke apartemen Alex. Persis seperti yang di pesankan oleh sekertaris bianca semalam.
Semalam Bianca, Mengirimkan surel ke email Alisya,. Menyuruh gadis jtu datang pukul set 7 pagi ke apartemen xx, Membangunkan alex membuatkan sarapan alex memberitahu semua jadwal alex, Serta menghendel pekerjaan yang mungkin tak bisa alex kerjakan seorang diri.
Seperti biasa Alisya pergi dengan mengunakan ojek online nya, Tak perduli bagaimana penampilan nya kini, Dia tetap memakai transportasi tersebut walaupun itu membuat rambut nya sedikit acak acakan.
Alisya tiba di depan pintu apartemen Alex. Menekan tombol pintu, Hingga alex membukakan pintu untuknya.
Alisya mengagunkan kepala menyapa bosnya itu. Tak lupa dia juga telah membawa sebuah goodie bag yang berisi Jaket milik alex yang dia tumpahkan minuman beberapa hari yang lalu.
Masih memakai baju tidur, Alex membuka pintu dan menatap dari bawah kaki hingga kepala kepada wanita di depannya itu. Dia Menyenderkan tubuhnya di pintu lalu menyeringai, Melihat penampilan alisya yang mengunakan setelan blazer hitam dan rok mini itu.
" Ternyata kau bisa berpenampilan seperti ini juga."
Alisya melirik alex " Ahhh... Tentu tuan saya kan Bekerja dengan tuan masa saya berpenampilan seperti ketika tuan pertama kali bertemu dengan saya."
Alex Tersenyum " Masuklah. Buatkan aku makanan."
" Baik tuan."
Alex memutar tubuhnya berjalan masuk ke dalam apartemen nya. Di susul alisya yang mengikuti alex dari belakang, Melepaskan sepatu pantofel nya dan beranjak menujuh dapur.
\=\=\=\=\=\=\= \=\=\=\=\=\= \=\=\=\=\=