LOVE AND REVENGE

LOVE AND REVENGE
Episode 17: Khawatir



🧡🧡🧡


Hari ini,


ku rangkai beberapa kata di hatiku,


mengurainya menjadi satu kata


'CINTA'~~


🧡🧡🧡


...Sam berjalan menelusuri sungai yang berada tak jauh dari rumah Jessiva. Hari ini, ia berniat menghabiskan waktunya untuk bersantai di pinggiran sungai itu. Sam menatap ke arah sungai tersebut. Matanya berkaca-kaca ia ingat sewaktu kecil ia pernah menghabiskan waktu bersama ayahnya yang kini telah tiada. Sam menguraikan senyum di bibirnya. Ia harap dengan begitu bisa lebih menenangkan hatinya....


...Sam beralih menatap ke arah semak-semak. Ia melihat siluet tubuh dari kejauhan. "Apa itu? apa itu manusia?" Sam menyipitkan matanya. Perlahan-lahan, ia mendekatkan tubuhnya ke arah semak belukar itu....


...Sampai akhirnya ia sadar bahwa yang dilihatnya memang benar-benar tubuh manusia. Lebih tepatnya tubuh seorang gadis....


...Sam menyentuh gadis tersebut, membalikkan tubuhnya agar ia bisa dengan jelas melihat wajahnya....


..."Nindya!" Sam terkejut saat ia melihat Nindya yang terkapar lemah dengan pakaian yang terkoyak-koyak dan luka yang memenuhi tubuhnya. Ia melirik ke arah kaki Nindya. Darah merembes keluar dari kakinya....


...Sam memangku tubuh kecil Nindya. Menaruhnya di atas ke-dua tangannya. "Nindya! apa yang terjadi?" Sam terlihat khawatir. Ia mengguncang-guncangkan tubuh Nindya....


...Nindya membuka matanya perlahan. Ia mencengkram pundak Sam. "Bawa aku ke rumah! aku mohon," Pinta Nindya dengan lemah. Sam mengalungkan lengan Nindya ke pundaknya. Ia mengangkat tubuh Nindya dengan setengah berlari. Ia mengusap lembut kepala Nindya yang mengeluarkan darah....


...****************...


...Sesampainya di rumah, Jessiva terkejut melihat tubuh Nindya yang berlumuran darah. "Di mana kamar Nindya?" Tanya Sam dengan raut wajah khawatir. Ia masih menggendong tubuh Nindya. Jessiva menuntun Sam ke kamar yang ditempati Nindya. Sam membaringkan Nindya di tempat tidurnya. Jessiva datang membawa sebuah nampan berisi air. Ia mengambil sebuah kain dan mencelupkan kain itu ke dalam nampan yang sudah terisi air....


...Jessiva kemudian menempelkan kain tersebut pada seluruh tubuh Nindya yang dipenuhi darah dan lebam di mana-mana. "Kenapa bisa jadi seperti ini?" Jessiva terlihat berusaha menghentikan darah yang terus mengalir dari kepala dan kaki Nindya. "Aku tidak tau. Tadi aku menemukannya terkapar di dekat sungai tadi," Terang Sam. Ia melihat Jessiva yang tengah berkaca-kaca. Membuat Sam tidak tega dibuatnya. Ia menyentuh pundak Jessiva dengan lembut. "Jangan menangis Jess! tenangkan dirimu dulu," Ujar Sam....


...Jessiva mengusap air matanya. "Maaf, aku jadi marah-marah tidak jelas," Sam hanya mengangguk. Jessiva mengambil nampan. "Aku akan menaruh nampan ini dulu," Jessiva mengundurkan diri, beranjak ke dapur....


..."Bunda..." Nindya menggerak-gerakkan kepalanya. Sam menatap Nindya yang masih memejamkan matanya. "Bunda... Nindya kangen," Nindya berkata masih dengan mata yang tertutup rapat....


..."Bunda..." Nindya mengigau, memanggil Bundanya sembari menangis dan menghentak-hentakan tangannya. Sam menggenggam tangan Nindya dan mengusapnya lembut. "Tidak apa-apa," Ucap Sam. Ia berusaha menenangkan Nindya yang masih mengigau. Ia membelai rambut Nindya dengan lembut. Dan menghapus air matanya yang masih menempel di ujung matanya....


...Jessiva kembali dari dapur dan melihat Sam yang sedang duduk di sudut tempat tidur Nindya. "Nindya belum sadar?" Tanya Jessiva ia menghampiri tempat tidur Nindya dan ikut duduk di samping tempat tidurnya. "Kenapa bisa seperti ini? Kenapa kamu keluar sendiri? Kamu bisa memintaku menemanimu," Jessiva mendekatkan wajahnya....


...Sam mengusap-usap pundak Jessiva, menenangkannya. Sam kemudian mengajak Jessiva keluar untuk membiarkan Nindya beristirahat. Jessiva yang semula merasa berat, akhirnya setuju untuk keluar dan membiarkan Nindya istirahat di kamarnya....


...Setelah keluar dari kamar, Jessiva menatap wajah Sam yang terlihat lelah. "Kamu mau aku buatkan teh? maaf aku lupa menawarkan mu minum," Tawar Jessiva. Sam balik menatapnya. "Tidak perlu repot-repot," Balasnya singkat. "Tidak apa-apa. Tidak merepotkan kok. Aku buatkan teh ya?" ...


...Jessiva hendak membalikkan tubuhnya. Namun, Sam menahannya dan menarik tangan Jessiva. Jessiva terkejut saat Sam tiba-tiba menarik tangannya, membuat ia kehilangan keseimbangan. Kakinya terpeleset, ia jatuh dengan pundak yang menghantam permukaan lantai. Sam yang masih menggenggam tangannya ikut tertarik dan ia terjatuh tepat di atas tubuh Jessiva. Sam menahan tubuhnya agar tidak menindih Jessiva dengan ke-dua tangannya yang menempel di lantai. Ia menatap wajah Jessiva. Jessiva yang gugup tidak tahu harus berbuat apa. Ia memilih tidak membalas tatapan Sam....


...Cukup lama mereka terdiam dengan posisi itu, hingga, "Jessiva!" Teriak seseorang dari dalam kamar. Jessiva segera mendorong dada Sam, mereka sama-sama bangkit dan berlari ke kamar Nindya. "Nindya, kamu sudah sadar?" Jessiva menghampiri Nindya yang masih terlihat pucat. Nindya meraih tangan Jessiva untuk membantunya duduk. Ia menatap wajah Jessiva dan Sam bergantian. "Aku ambilkan air putih ya," Setelah mengucapkan kalimat itu, Jessiva bergegas ke dapur. Ia menghindari tatapan Sam yang sedari tadi tertuju padanya....


...Kini, tinggal Nindya dan Sam di kamar. Ke-duanya sama-sama terdiam, tak bergeming sedikitpun. Nindya tidak tahu harus memulai percakapan. Ia merasa masih sangat lemah bahkan untuk sekedar berbicara....


...Nindya menatap Sam yang sudah menatapnya sedari tadi. Ia segera mengalihkan tatapannya. "Sejak kapan aku di sini?" Nindya akhirnya angkat bicara setelah mengumpulkan tenaganya. Belum sempat Sam menjawab, Jessiva datang membawakan segelas air putih untuk Nindya. Nindya meminumnya beberapa tegukan saja. Setelah itu, ia menaruh gelas itu di atas meja di samping ranjangnya....


...Nindya kembali menatap Sam dan Jessiva bergantian. Ia hendak membuka mulut, "Aku menemukanmu pingsan di dekat sungai tak jauh dari sini," Terang Sam sebelum Nindya sempat bertanya. Nindya mengangguk. "Lalu?" Tanyanya pelan. "Lalu kerena khawatir, aku membawamu ke sini," Terang Sam lagi. Nindya menganggukkan kepalanya. "Terimakasih," Ucapnya. Ia melemparkan senyum manisnya walau kini kondisi tubuhnya masih sangat lemah. Sam memeriksa keadaan Nindya. Ia juga meraba denyut nadi Nindya....


...Oh, kalian tidak lupa tentang Sam yang bisa memeriksa dan mengobati orang, kan?...




*❤❤❤*