
3 Tahun lalu...
Berdiri menghadap cermin seukuran tubuh nya, Nadila terlihat sangat cantik memakai gaun pengantin putih. Dia tersenyum lebar memikirkan besok adalah hari paling bahagia nya bersama orang yang amat dia cintai.
Seorang pelayan wanita menghampiri Nadila memberi tahu kepada nya bahwa David menunggu nya di luar. Nadila langsung menghampiri david masing dengan mengenakan gaun putih panjang.
Dia tersenyum tak kala David memutar tubuhnya mengahadap ke arah Nadila.
" Wahh kau sangat cantik dil." Ucap David
" Kau ini Bang... Hmmm tapi apa Reza akan memuji ku juga nanti?"
Wajah david yang semula tersenyum tiba tiba memudar berubah menjadi wajah serius yang dingin. Nadila mengamati perbedaan mimik wajah orang di hadapan nya itu, Menatap nya dengan heran sambil terus bertanya tanya di dalam hati nya.
" Apa yang salah?" Tanya Nadila.
David mengeluarkan ponsel milik nya dari dalam jaket kulit yang di kenakan. Memberikan nya kepada Nadila, Nadila menerima nya masih tetap tak bergeming menatap nanar wajah David
" Buka lah." Suruh David.
Nadila membuka kunci ponsel milik david.
Dia sangat terkejut melihat isi galeri di ponsel david, Matanya membulat dan tanpa sadar dia menjatuhkan ponsel yang berada di genggaman nya itu
" Reza bersama wanita lain sedang berada di hotel dekat sini. itu alasannya mengapa dirinya tak bisa menemani mu."
Nadila dia masih memandangi ponsel milik David yang sudah terjatuh.
" wanita itu " ucap Nadila
David hanya diam tak menjawab perkataan Nadila, Nadila menatap david mencengkeram kedua tangan david. David menatap balik Nadila terlihat kini wajah yang semula terlihat ceria dan bahagia berubah menjadi wajah marah dan mata yang siap memecahkan sebuah kristal.
" Aku tidak tau dil. Tenang kan diri mu." David berusaha menenangkan Nadila.
Nadila melepaskan cengkraman nya mulai mengeluarkan air mata namun tetap menatap nanar wajah David.
" Kau mengenal Reza bukan. Kau teman nya kan, Aku berusaha mencintai ******** itu bagaimana pun dirinya mempelakukan kan ku. Tapi ini di tega menyakiti ku dengan cara seperti ini?"
Nadila langsung meninggalkan david masuk ke dalam butik kembali, Menganti baju nya dengan baju yang semula dia gunakan.
Tanpa berkata apa pun dirinya langsung pergi meninggalkan butik dengan tatapan tak bersahabat.
" Dil biar aku antar." David berusaha menahan Nadila yang dalam keadaan Emosi.
Nadila masuk ke dalam mobil milik David, Berlahan mobil berwarna hitam itu meninggal kan area butik.
Hingga mereka tiba di sebuah hotel bintang lima tak jauh dari butik di mana nadila mencoba gaun pengantin nya. Nadila bergegas menuju lobby ketika mobil david berhenti. Berjalan sedikit cepat menuju informasi menanyakan kamar yang di pesan Reza.
Awalnya para staf hotel tak memberikan izin kepada Nadila yang mana membuat Nadila makin kesal dan menaikan notasi suara nya.
" Aku calon istri Reza. Jika kalian tidak memberi tahu ku, Jangan salahkan aku membuat keributan di sini."
Seketika para staf terlihat binggung. Bahkan salah satu dari mereka yang berdiri di hadapan nadila sampai memanggil manejer hotel itu.
" Baiklah. Kamar tuan Reza berada di lantai paling atas hotel ini, Di lantai itu hanya ada satu kamar."
Tanpa permisi Nadila langsung meninggalkan para staf yang masih menatap Nadila.
David Yang baru saja memarkirkan mobil nya tiba di dalam hotel menatap ke sekeliling nya, Menangkap semua orang yang seperti habis melihat sesuatu yang menarik. David terus menatap sekeliling nya hingga mata nya tertujuh kepada seorang wanita yang baru saja dia antar ke hotel itu sedang berdiri di depan lift.
David berlari menghampiri Nadila, Namun sayang langkah nya terlambat. Nadila sudah masuk ke dalam lift dan pintu lift pun tertutup dengan cepat. David menarik nafas sambil mata terus menatap lantai berapa yang akan nadila tujuh.
-----
Sementara Nadila berusaha tetap tenang dan tidak menangis di dalam lift, Sesekali diri nya menarik nafas dan mengatur pernafasan nya. Namun percayalah terlihat jelas mimik ketakutan dan marah tergambar dari wajah nya
Ting...
Pintu lift terbuka. Nadila melangkah kan kaki nya keluar dari dalam lift. Menatap lantai paling atas hotel mewah itu. Terlihat sepi dan sunyi hanya ada satu pintu kamar yang dia lihat percis seperti staf hotel tadi katakan.
Berlahan diri nya melangkah mendekati pintu hotel berwarna coklat kayu itu, Terdiam sesaat ketika dia tiba di depan pintu. Tangan nya yang semula baik baik saja tiba tiba secara tak sadar gemetar bukan kepalang, Mengangkat tangan nya hendak mengetuk pintu.
Namun tangan nya tertahan sejenak, Dia Memejam kan mata sesaat menghembuskan nafas dan mengumpulkan tenaga.
Tok...Tok...Tok
Nadila mengetuk pintu kamar. Namun tak ada jawaban, Dia kembali mengetuk nya kembali. Namun kali ini dengan ketukan yang sedikit lebih keras hingga akhir nya pintu kamar terbuka.
Mata Nadila membulat ketika melihat siapa yang membuka kan pintu untuk nya.
Seorang wanita yang hanya memakai handuk melingkar di tubuh nya, dengan rambut yang sedikit acak acakan. Berdiri di hadapan Nadila
" Siapa ya?" Tanya gadis yang berdiri di hadapan nadila
Nadila terdiam sesaat memandangi tubuh wanita di hadapannya itu penuh dengan tanda kepemilikan.
" Nona kau mau cari siapa?" Gadis itu melipat tangannya menyandarkan tubuh nya ke pintu kamar.
" Dimana Reza?" Ucap nadila dengan pandangan sinis.
" Aku bilang di mana Reza?" Nadila menaikan nada bicaranya yang mana membuat wanita di depan nya sedikit kaget.
Tiba tiba mata nya tertujuh menangkap sosok laki laki yang dia kenal berdiri di belakang wanita yang masih mengenakan handuk itu.
Nadila tertegun melihat Reza dalam keadaan setengah telanjang Berdiri mematung menatap nya. Nadila mendorong wanita di hadapannya hingga wanita itu terjatuh dan tersungkur ke tanah.
Nadila menghampiri Reza dan berdiri di tepat di depan laki laki bertubuh tegap itu, Menatap nya dengan tatapan api kemarahan
plakkkk....
Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Reza. Reza tak bergeming menatap nadila yang kini memecahkan kristal bening yang sedari tadi dia pendam di pelupuk mata nya itu.
" Kau brengsek za." Memukul tubuh Reza
Reza berusaha menenangkan nadila namun api kemarahan nadila tak dapat tertahankan lagi dia menghindar tak mau di pegang oleh tangan kotor Reza. Dan memundurkan posisi berdiri nya sedikit menjaug dari Reza.
" Dil saya benar benar minta maaf.." Ucap Reza.
Nadila tersenyum pilu menghapus air matanya dengan kasar dan kembali menatap Reza
" Aku akan membatalkan pernikahan kita."
Reza kaget mendengar perkataan Nadila. Menatap Nadila dengan tatapan mata mematikan nya.
Reza mencengkeram lengan Nadila, menempelkan tubuh gadis itu ketembok.
" kamu tidak akan pernah bisa membatalkan pernikahan kita." Reza menatap nadila seperti seekor singa yang siap menerkam mangsa nya.
Nadila merontak dan mendorong tubuh Reza
" Cukup dengan semua kekerasan yang kau lakukan kepada ku. Aku masih bisa menerima mu dan mencintai mu karena ku fikir itu cara mu mencintai ku. Tapi perselingkuhan ini?! dengan wanita itu, Sekertaris mu sendiri." Nadila berteriak membuat suara nya mengema di seluruh kamar.
Reza memegang tangan kanan Nadila menghentikan langkahnya yang hendak pergi " Sampai kapan pun kau tak akan pernah bisa pergi dari pelukan ku."
Nadila menghempas genggaman Reza menatap nanar laki laki di hadapannya " Sampai mati pun aku akan membenci dan mengingat apapun yang pernah kau lakukan kepadaku."
Melangkahkan kaki nya pergi meninggalkan kamar. Menatap sekilas wanita yang menjadi selingkuhan Reza dan langsung memalingkan wajahnya.
Sementara David tengah cemas menunggu Nadila di lobby hotel, Dia terus mondar mandir menunggu nadila turun sesekali dia melihat jam yang menempel di lengan kiri nya.
Hingga dia dapat bernafas sedikit lega ketika mendapati Nadila berjalan menujuh ke arah nya.
" Kau tak apa?" Tanya david.
Nadila tak menjawab diri nya hanya menunduk kan kepala tak ingin David melihat wajah nya yang kacau.
" Ayo kita bicara di luar."
David menggenggam bahu Nadila, Menuntut nya keluar dari dalam hotel.
Mereka duduk di kursi taman deket hotel, David memberikan sebotol air kepada Nadila, Namun Nadila menolak nya.
David menghembuskan nafas keras menatap pandangan yang ada di depannya " Maafkan aku..."
Nadila menatap nanar David
" Aku tidak bisa menjaga mu dan membuat mu bahagia seperti yang Bima harapkan."
Nadila diam tak bergeming kini pandangan juga memandang apa yang berada di depannya
" Dan..." David kembali menghela nafas " aku akan meninggalkan Kota ini."
Nadila terkejut mendengar perkataan David mata nya membulat menatap david yang masih terus memandangi apa yang dia lihat di depan nya
" Kenapa tiba tiba?"
" Hmmm .... Aku ada pekerjaan yang mendesak di ibukota."
" Apa boleh aku ikut dengan mu bang?" Tanya Nadila.
" Haha jangan bercanda dil. Aku akan mati jika membawa mu pergi dari kota ini."
Nadila Menggenggam telapak tangan David, David menatap nadila terlihat wajah gadis polos yang memancarkan tatapan mengiba.
" Aku akan mati juga menyusulmu dan bang Bima jika perlu. Aku tak memiliki keluarga lagi disini selain diri mu, Bahkan ibu ku tak dapat mengingat anak nya sendiri."
Berfikir frustasi David menepuk bahu Nadila mengelus rambut nya berlahan dengan hangat. Bukan jalan tepat jika dia membawa nadila pergi meninggalkan Reza, Bisa bisa bukan hanya dia yang terkena masalah tapi juga orang orang di sekitar nya. Tapi meninggalkan gadis ini sendiri bersama laki laki itu, akan lebih bahaya. apa pun yang di fikirkan dan di ambilnya semua harus dia pertanggung jawabkan nya.
" Jika itu mau mu baiklah ikutlah dengan ku. Aku akan membawa mu."
Nadila mengangguk berlahan.
Namun tanpa mereka sadari sedari tadi ada sosok pria yang berdiri bersembunyi dan menatap serta mendengar perkataan mereka berdua dengan tatapan marah dan mengepal kedua tangan nya.
\=\=\=\=\= \=\=\=\=\= \=\=\=\=\=