LOVE AND REVENGE

LOVE AND REVENGE
Love & Revenge Eps 12



Nadila sudah bersiap, Namun dirinya malah termenung di meja rias menatap dirinya di cermin.


Dirinya masih berkecamuk dengan fikiran. Apa yang di lakukan dia benar bertemu dengan Reza dan menanyakan perihal masalah ini. Tak dapat di pungkiri juga jika Nadila sebenarnya Takut bertemu dengan laki laki itu. Masih tergambar jelas dalam ingatan nya bagaimana perilaku Reza kepadanya, Menampar memukul bahkan menyiksanya jadi makanan sehari-hari hubungan mereka.


Tetapi jika dirinya bertanya langsung dengan david, Dirinya tahu jika david tidak akan pernah mau mengatakan sejujurnya, terlebih lagi laki laki yang mengaku sahabat Mendiang abangnya itu selalu tertutup dengan masalah pribadinya.


Nadila menarik nafas keras, mengambil sisir di sudut meja rias dan menyisir rambutnya dengan halus. Sambil terus menatap cermin dengan pandangan kosong. Dia benar benar binggung tapi juga dia sangat penasaran, Apalagi ini menyangkut kematian abangnya. Laki laki satu satunya yang dia amat sayangi setelah kepergian ayahnya.


Setelah beberapa lama diam berfikir di depan meja rias, akhirnya wanita itu keluar dari kamar kosnya. Berpakaian rapih dan simple dengan kaos putih polos di padukan jaket jeans warna pastel serta celana levis putih dan sepasang sepatu kets, Tak lupa tas punggung kecil yang dia pakai untuk menyimpan laptop nya.


Nadila memesan sebuah ojek online, Menanti kedatangan ojek online sambil bermain ponsel dan bercengkrama dengan penghuni kos lainnya. Sesampai nya tukang ojek online di depan kosan Nadila, Nadila berpamitan lalu berjalan menghampiri abang ojek online yang memakai jaket hijau hitam.


Memakan waktu sekitar 15 menit, Akhirnya nadila tiba di kafe XX. Tempat dimana Nadila janji bertemu dengan Reza.


Nampak sepi kafe itu, Memang karena ini masih pagi sekitar pukul sepuluh, Kafe pun nampaknya baru saja buka. Nadila melangkahkan kakinya masuk ke kafe yang tak terlalu besar dengan teman clasik itu.


Menatap sekeliling kafe ketika dirinya menapaki masuk ke dalam kafe, Namun dirinya tak melihat Reza. Seperti memang Reza akan datang terlambat.


Nadila duduk di kursi ujung kafe, Memesan segelas milk shake dan sepiring kentang goreng, Sambil dirinya menunggu kedatangan mantan kekasihnya itu. Dia membuka laptop miliknya, Mencari lowongan pekerjaan di internet. Entah apa yang difikirkan wanita itu, Mencari pekerjaan baru dan berhenti bekerja dengan david atau hanya sekedar iseng membaca baca lowongan pekerjaan.


Hingga pukul setengah sebelas Reza nampak belum juga datang. Bahkan kini minuman dan makanan nadila pun sudah ludes habis. Nadila beranjak dari kursinya, Menuju meja pesanan dan kembali memesan sesuatu. Kali ini dia memesan ice cream vanila dan sepiring kentang goreng lagi.


Namun ketika dirinya hendak berbalik dan berjalan menujuh ke kursinya lagi. Dia Nampak melihat laki laki gagah tampan duduk di kursi hadapan nya.


Nadila terdiam sesaat, Jantungnya kini benar benar berdebar cukup keras, dan malah kedua kaki serta tangannya pun ikut bergemtar menatap laki laki tampan nan rupawan duduk di kursi, Meja tempat nadila tadi berada.


Itu Reza sedang duduk diam menatap laptop yang di bawa Nadila. Sementara Nadila cepat cepat memasukan uangnya kedalam dompet berjalan cepat menujuh kursinya.


Nadila berdehem ketika berada di dekat Reza, Memberikan kode jika ada seseorang di dekatnya.


Reza menoleh ke arah Nadila, Menatap gadis yang sekarang sedang tersenyum kecil kepada nya. Bukan di balas dengan senyuman Reza kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca.


Melihat Reaksi Reza yang masih sama dengan dulu begitu dingin dan arogan, Nadila menghapus senyum nya kembali duduk dan sekarang berhadapan langsung dengan Reza.


Reza Melonggarkan tubuhnya menyenderkan tubuhnya ke kursi dan melipat tangan di dada menatap Nadila


" Sudah tiga tahun, Kau tidak mungkin menghubungi jika tidak ada sesuatu yang mendesak."


Nadila gugup, Menaruh kedua tangannya di atas paha tak ingin menatap wajah Reza.


" Hmm ada sesuatu yang ingin ku tanyakan kepada mu..."


" Soal apa?"


Seorang pelayan datang dengan membawa makanan dan ice cream untuk Nadila, Yang mana membuat keduanya memberhentikan pembicaraan mereka sebentar. Sebelum pelayanan wanita pergi Reza juga memesan secangkir kopi.


" Kau mau ..." Menawarkan ice cream kepada Reza.


" Tidak."


Nadila menyuap ice cream dengan berlahan ke dalam mulutnya. Sementara Reza kembali memalingkan wajahnya menatap jendela kaca.


" Ini tentang Bima za."


Reza sedikit Berdecak ketika Nadila menyebutkan nama kakanya


" Kenapa bukannya kau percaya jika Bima telah mati."


Nadila menaruh sendok ice creamnya dan tangan nya kembali ditaruh di atas paha. Namun kali ini tangannya sangat gemetar.


" Kemarin aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Bang David di ruangan nya dengan seseorang."


" Aku Awal hanya ingin mengucapkan selamat kepada dirinya Karena telah mendapatkan seorang wanita. Namun aku kaget ketika di dalam ruangan kerjanya ada benda jatuh yang sangat keras, Bahkan Bang David pun memaki dengan kata kata kasar."


Reza Tersenyum kecut.


" Yang membuat ku kaget dia menyebutkan nama mu dan Bang Bima."


Nadila benar benar sangat yakin dengan keputusan nya bercerita dengan Reza. Pasalnya tak ada lagi yang bisa dia percaya selain laki laki di hadapannya ini, Dan bagaimana pun juga Nadila benar benar yakin jika Reza tidak pernah mengkhianati dirinya kecuali cinta.


Reza Menatap binggung nadila, Dia mengerutkan dahinya. Dan kini Nadila memberanikan diri menatap Reza.


" Dia juga menyebutkan seseorang akan meminta bantuan mu. Jika itu terjadi rencana yang di buat 4 tahun lalu akan hancur."


" Apa maksudmu..."


" Aku juga tidak tahu za. Aku hanya mendengar nya seperti itu. Dan..." Perkataan Nadila terhenti dia kembali menunduk kepala.


" Apa...."


" Dia juga menyuruh orang yang ada di dalam ruangan itu mencari Bima hingga ketemu jika tidak orang itu akan di bunuh oleh Bang David."


Reza Berdecak mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Nadila.


" Apa kau menceritakan kepada orang lain."


Menggelengkan kepala berlahan.


" Lalu kau mau aku berbuat apa..."


Nadila menatap Reza " Apa kau bisa menyelidiki nya.."


Reza menyeringai " Hal gampang untuk ku.. Tapi itu tidak gratis."


Nadila tertegun, Tahu dengan apa yang di katakan Reza.


" Kau ingin aku membayar mu.."


" Kau punya uang? Bahkan uangmu hanya cukup untuk membayar rumah sakit jiwa ibumu."


Nadila menundukan kepalanya, Dan lagi lagi tangan bahkan kakinya kini bergemetar sangat keras.


" Lalu apa yang harus ku lakukan."


" Kau tau jawabannya."


Nadila menutup Laptopnya memasukannya ke dalam tas dan memakai tasnya.


" Aku permisi. Maaf membuang buang waktu mu."


Nadila hendak berjalan meninggalkan Reza namun dengan sigap Reza meraih tangan nya. Nadila menoleh Reza


" Kau sudah tidak punya tempat bercerita dan meminta bantuan bukan."


" Aku bisa melakukan nya sendiri."


Reza Tersenyum kecut " Mari kita lihat apa yang akan kau temukan. Dan apa yang akan kau dapatkan setelah ini."


\=\=\=\=\=\= \=\=\=\=\= \=\=\=\=\=