
Reza masuk ke dalam mobilnya. Melihat sebuah panggilan masuk dari Alisya, Reza memasangkan dua pasang earphone di telinganya mengangkat panggilan dari alisya.
" Ada apa.."
" Reza apa kau bisa ke mall xx.." Suara alisya tergesa gesa.
" Aku sibuk."
" Aku melihat seorang pria mirip sekali dengan Bima."
Reza berdecak mengerutkan keningnya, tiba tiba saja fikiran nya kembali mengingat ucapan Nadila jika Bima masih hidup.
" Aku akan segera kesana. Kau ikuti orang itu."
Reza langsung mematikan panggilan nya, menghidupkan mobil dan pergi meninggalkan area kafe.
Dirinya kini beranjak melepon seseorang menekan sebuah Nomer..
" Dimana kau, Cepat ke mall xx. Cari alisya kerakan semua anak buah mu."
"...."
" Alisya menemukan bima."
"...."
" Segera kabari aku jika kau menemaniku nya."
Reza Kembali mematikan panggilan suara, menginjak gas mobilnya lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Dia juga melewati Nadila yang sedang duduk menunggu bus di halte, Reza memandangi gadis itu hingga mobilnya terus melanju melewati nya.
Sekitar 20 menit akhirnya Reza tiba di mall xx, Gara gara macet ibukota Reza turun dengan wajah kesal, Membanting pintu mobilnya dan berlari masuk ke dalam mall.
Reza juga berusaha kembali menghubungi Alisya, Namun gadis itu tak menjawab panggilannya. Hingga akhirnya Reza bertemu dengan Bram dan ketiga anak buahnya.
" Bagaimana??"
" Kami sudah mencari nya tuan namun alisya tidak dapat di temukan."
" Kau sudah periksa Basemen atau toilet."
" Kami sudah memeriksa seluruh isi mall."
Reza memegang keningnya masih terus menatap sekeliling mall yang sangat penuh pengunjung itu.
" Kau bisa melacak lokasi alisya?" Tanya Reza kepada ketiga anak buah Bram.
" Kami sudah melacak ponselnya, Namun ponselnya mati 5 menit yang lalu."
Reza beranjak pergi dari mall namun masih menoleh ke arah bram " Kau terus awasi David aku akan meminta bantuan alex."
Keempat nya menganggukan kepala seraya kepergian Reza.
Mobilnya keluar dari area mall, Reza fokus mengendarai mobilnya, Namun matanya tertujuh kepada seorang wanita yang sedang duduk di kursi trotoar. Reza menatap terus gadis itu hingga melewati nya. Dia menyadari jika gadis itu adalah Alisya yang sedang duduk termenung bahkan menangis. Reza memutar mobilnya memarkirkan mobilnya di area sebelah mall. Berlari menghampiri Alisya
" Kau kenapa..."
Alisya menoleh kepada laki laki yang kini berdiri di hadapannya.
" Rezaaaaa....." Memeluk Reza.
Reza kaget dengan perbuatan alisya, berusaha menghindar namun upayanya sia sia Alisya memeluk tubuhnya dengan erat dan menangis. Reza menatap orang orang sekitar yang melewati mereka berdua. Pandang orang orang pun sangat lekat kepada mereka.
" Berhenti lah menangis. Kau membuat ku malu."
Namun alisya tetap menangis. Dengan posisi berdiri memeluk Reza.
Reza berusaha melepaskan pelukan gadis itu, Dan akhirnya alisya melepaskan nya. Alisya menghapus air matanya dengan kedua tangan. Kembali duduk di kursi panjang yang banyak sekali bejejer belanjaan alisya.
Reza jongkok di hadapan Alisya. Menatap gadis itu
" Kau kenapa ..."
Alisya membalas menatap Reza
" Bima masih hidup za. Dia .... dia di bawa seseorang aku tidak tau. Tapi Bima seperti ketakutan."
Reza mengerutkan dahinya masih dengan posisi sama dan terus menatap alisya.
" Kau tau di bawa kemana Bima.."
Menggeleng kan kepala " Tapi.... Aku melihat mobil berwarna hitam dengan plat nomer kota x."
Reza berdiri mengambil ponselnya, dan melakukan panggilan telpon.
" Bram segera lacak mobil yang meninggal mall ini dengan plat nomer kota x."
" Tuan... Nadila akan bertemu dengan David."
" Biarkan, Dia bahkan masih menjadi bosnya."
" Tapi, Seperti Nadila akan bertanya tentang hal yang sama kepada David."
" Suruh anak buah mu mengantarkan alisya pulang."
" Baik tuan."
" Aku akan pergi, Nadila mungkin dalam bahaya."
Alisya tertegun matanya membulat ketika Reza mengatakan Nadila dalam bahaya " Apa kenapa dengan nadila za..."
" Sudah tidak usah banyak bicara. Kau pulang bawa semua belanjaan mu itu."
Alisya Berdiri menatap wajah reza lekat " Kau akan menyelamatkan nya kan..."
" Tentu."
🌹🌹🌹🌹
Aku harus bertemu bang david, Mengharapkan Reza itu tidak akan mungkin.
Nadila menapaki kakinya masuk ke dalam bus, Duduk termenung di dekat jendela seperti biasanya. Dia menatap keluar jendela sesekali memajamkan matanya.
Sebuah panggilan masuk ke ponselnya membuat nadila tersadar dari lamunannya. Dia meraih ponselnya dan mengangkat telpon dari David itu
" Kau tak apa..."
" Aku baik baik saja..."
David menghela nafas " Kenapa kau tidak masuk bekerja."
" Aku sedang ada urusan mendadak bang."
David terdiam sesaat....
" Apa kau bertemu dengan Reza..."
Nadila sedikit Berdecak mendengar pertanyaan david. Buru buru dia menjawab
" Ahhh Mana mungkin aku bertemu dengannya."
" Baiklah. Jika ada apa apa segera hubungi ku ya."
" Bang..."
" Ada apa...."
" Aku boleh bertemu dengan mu..."
Tertawa " Tentu mengapa tidak."
" Aku akan ke kantor sekarang."
" Baik akan ku tunggu."
Nadila mematikan panggilan nya. Namun sebelum mematikan layar ponsel dia melihat begitu banyak pesan teks masuk dari Reza. Reza tidak mengijinkan Nadila bertemu dengan David. Namun seperti Nadila tidak memperdulikan Reza, Dia kembali menaruh ponselnya dan melanjutkan perjalanan menujuh kantornya.
Nadila tiba di kantor nya. Dia melangkah kaki masuk kedalam kantor. Seperti biasa semua mata tertujuh kepada Nadila, Terlebih dirinya baru masuk kerja di jam segini.
Nadila berjalan begitu saja melewati mereka, Tidak perduli dengan tatapan bahkan gunjingan yang keluar dari mulut mereka. Masuk kedalam lift dan melangkah kakinya ke dalam ruangan David.
Nadila mengetuk pintu ruangan david, Namun tak ada jawaban. Dia kembali mengetuk dan menunggu agak lama, Tetap tak ada jawaban. Hingga akhirnya Nadila memutuskan membuka pintu.
Tak ada orang di ruang itu, Sepi dan sunyi. Namun Jas David berada di kursinya, Itu berarti David berada disini. Nadila menatap sekeliling ruang, Matanya tertujuh kesebuah pintu kecil di ujung ruangan.
Nadila berlahan mendekati pintu itu dan memegang gagang pintu, Memberanikan diri nya Nadila membuka pintu berwarna coklat itu.
" Bang david..."
Nadila menemukan laki laki itu sedang duduk tergeletak dengan minuman keras di tangannya. Ada tempat tidur besar lengkap dengan lemari dan lain sebagainya di ruangan itu. Nadila berjalan mendekati david. Berjongkok mensejajarkan tubuhnya di hadapan david.
David menatap Kedatangan Nadila, Tersenyum lalu menaruh gelas yang masih berisi minuman di sebelahnya. Tiba tiba tangannya mencengkram rahang Nadila dengan kasar, Merubah tatapannya menjadi sangat menakutkan.
David menarik nadila untuk berdiri, menjatuhkan tubuh gadis itu di atas ranjang. Nadila yang melihat David seperti itu benar benar sangat ketakutan. Dia berusaha melepaskan diri dari david. Namun upayanya sia sia.
Nadila yang berusah kabur dari sebelah kanan ranjang, Dengan sigap david mengunci tubuh gadis itu. Membanting tubuh nadila ke atas kasur, Dan dirinya kini berada di atasnya
" Bang apa yang kau lakukan... Aku mohon sadar lah."
" Kau fikir aku mabuk. Bahkan meminum pun belum."
Benar saja, Nadila pun tidak mencium bau alkohol dari mulut david. itu berarti dirinya saat ini benar benar sadar dan tak berada di dalam pengaruh alkohol.
" Kau ingin apa, Tolong jangan seperti ini."
" Ingin apa??? Aku ingin tubuhmu."
Mata nadila membulat mendengar perkataan David, Dia kembali berusaha melepaskan diri david bahkan kini Nadila berani memukul tubuh david.
" Kau gila bang. Lepaskan aku. Bakan Reza pun tak akan pernah melakukan hal menjijikan seperti ini."
David terkekeh " Karena Reza pecundang yang terus menerus bertahan dengan nafsu untuk meniduri mu."
Menjambak rambut Nadila, Nadila tersentak meringis kesakitan " Ahhh sakitttt."
" Kau rindu bukan Reza mengasari mu seperti ini. Akan ku lakukan untukmu."
" Kau benar benar jahat."
\=\=\=\=\= \=\=\=\=\= \=\=\=\=\=