
Duduk termenung dengan koper besar di depan nya. Nadila menunggu David yang sedang membeli sesuatu di kafe bandara.
Seharus nya hari ini adalah hari istimewa nya, Namun sayang nasib nya begitu memilukan setelah di tinggal mati ayah dan kakak nya ibu nya yang tak waras dan melupakan diri nya kini Nadila harus menerima orang yang paling di cintai nya mengkhianati nya.
David berdiri dengan membawa dua kotak makanan, Melihat Nadila duduk termenung menghampiri gadis itu dan berkata
" Apa yang kau fikir kan?" David membuyarkan lamunan Nadila.
" Akhh tidak ada."
David memberikan satu kotak makanan yang dia bawa lalu duduk bersebelahan dengan Nadila.
" Makanan lah sedari malam tadi kau belum makan."
Nadila mengangguk menatap david dan tersenyum.
Sementara di aula gedung hotel xx di mana seharus nya menjadi tempat berlangsung nya pernikahan Reza dan Nadila, Semua tamu sudah mulai berdatangan menatap aneh dan heran satu sama lain.
Bukan tanpa sebab pasalnya sudah hampir tiga jam dari waktu yang di tentukan para tamu undangan tak melihat tanda keberadaan membelai wanita, Namun hingga sekarang tidak terlihat tanda tanda kedatangan nya juga.
Sementara Reza duduk frustasi di ruang tunggu bersama Alex. Mengerutkan kening nya sesekali meminum Vodka yang tersedia di hadapan nya. Alex berusaha menghentikan Reza yang sudah hampir mabuk
" Lepaskan." Ucap Reza
" Cukup za lo harus berfikir tenang bukan begini cara nya."
" Tenang lo bilang? Lo ga liat di bawah tamu sudah banyak dan sampai sekarang gw ga tau di mana keberadaan Nadila."
Reza berdiri berjalan ke balkon dan menatap nanar pemandangan dari atas balkon hotel.
Tok...tok...tok
Bram muncul dari luar mengangetkan kedua nya yang berada di dalam, Menganggukan kepala seraya menyapa Alex yang tengah duduk di sofa tak bergeming melihat kedatangan nya.
" Bagaimana kau menemukan nya?" Reza berjalan hendak mendekatin bram.
" Maafkan saya tuan muda."
Reza tiba tiba menarik kerah baju Bram " Apa maksud mu."
" Nona.... Nona Nadila baru saja terbang menujuh Ibukota bersama Tuan David."
Alex terlihat terkejut mendengar perkataan Bram menatap sekilas Bram dan langsung memalingkan wajah nya lagi. Tapi terlihat jelas Alex mengepalkan tangan nya kuat kuat.
Reza melepaskan cengkraman nya " Bereskan para tamu undangan."
Bram hanya mengangguk lalu segera pergi dari dalam ruangan.
Alex menatap Reza yang masih berdiri diam tak bergeming " Apa kau akan menyusul nya?"
" Jelas aku akan menyusul nya, dan membawa wanita ku kembali."
Alex tersenyum kecut " Lalu David apa yang akan kau lakukan kepada nya, Membunuh nya?"
Reza menatap alex " Haha laki laki itu, Bahkan kau tau dia menyembunyikan sesuatu kepada keluarga Nadila khususnya kematian Bima."
" Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?"
" Aku akan membiarkan nya bersama Nadila, Jika saat nya tiba akan ku bongkar kedok nya."
Alex berdiri menghampiri Reza dan menepuk bahu nya " Apa saat nya kini kau akan kembali ke ibu kota?"
\=\=\=\=\= \=\=\=\=\= \=\=\=\=\=
Masa kini.....
seorang wanita sedang berdiri dan menatap langit sesekali kaki nya menendang nendang Angin. Alisya menghebuskan nafas nya berat. Matanya terpejam sesaat dan kembali dia buka.
Hari ini benar benar hari yang sangat sial bagi nya, Dalam sehari dia sudah mendapat kan tiga musibah yang tak pernah dia bayangkan. Pertama Alisya harus kehilangan pekerjaan nya karena perusahaan tempat dia bekerja akan bangkrut, Kedua Cafe tempat biasa dia bernyanyi pun kini tidak ingin diri nya menyanyi lagi di sana, Dan Alisya baru saja mendapatkan kabar jika cerita yang dia buat lagi lagi di tolak oleh penerbit. Sebenar nya musibah yang terakhir itu bukan kali pertama yang dia rasakan, Alisya sudah sering ditolak oleh para penerbit walaupun cerita sangat laku di situs baca online namun entah kenapa jika diri nya mengajukan kontrak ke para penerbit selalu saja di tolak. Dan seperti beban diri nya akan bertambah kembali, Sebuah panggilan berdering di ponsel nya di lihatnya layar ponsel tersebut, Terpampang jelas bibinya nya memanggil.
" hallo bi?"
" Bagaimana uang ku apa kau sudah akan melunasi nya?" suara wanita terdengar tak bersahabat.
" Maafkan Alisya bi.... Alisya belum bisa melunasi hutang hutang alisya.. Tapi Alisya janji..."
" Heh anak sialan jika dalam 3 bulan kau tidak melunasi hutang hutang mu. Akan ku adukan kepada paman mu biarkan dia yang akan menagih kepadamu."
Tut...tut...tut
Alisya memasukan ponselnya ke dalam saku sweater yang dia gunakan. Mulai berjalan meninggalkan halte bus. Berjalan dengan lunglai tak bersemangat dengan wajah tertunduk menatap aspal keras jalanan.
Brukkkk.....
" Awwwww" Pekik Alisya memegang kening nya.
Tanpa dia sadari dia melamun sambil berjalan dan kini diri nya menabrak seseorang di hadapannya.
Seorang laki laki berpakaian santai dengan celana bahan dan jaket kulit berwarna coklat susu Berdiri membelakangin Alisya. Alisya segera membungkuk kan badan nya seraya meminta maaf
" Tuan maafkan sa...." Ucapan nya terhenti seraya laki laki di hadapan memutar tubuhnya menghadap tepat di depan Alisya.
Alisya tertegun mata nya membulat dan mulutnya sedikit terbuka melihat sosok laki laki yang dia tabrak. Buru buru dia menutup mulutnya menangkap sosok laki laki di hadapan.
Alex berdiri dan menatap seorang wanita mengenakan sweater pink lusuh celana jeans dan sepatu tali yang sudah terlihat sobek sobek.
" Apa kau buta?" Tanya alex.
" Tuan alex.... Maafkan saya." Ucap alisya
Alisya benar benar seperti tertimpah puing puing bangunan tinggi hari ini. Setelah penderita yang dia alami hari ini, Sekarang membawanya bertemu sosok laki laki yang sama sekali tidak ingin dia temui. Laki laki yang sangat di takuti di kota bahkan Antero negeri ini, Kini berdiri di hadapannya. Sialll!! gumam nya.
" Siapa nama mu?" Tanya Alex.
Alisya tak menjawab, dia terus menunduk kan kepala dalam dalam tak ingin alex melihat dan menatap wajah nya.
" Bukan hanya buta, tapi kau juga tuli." Nada suara alex kini terdengar tinggi.
" Maafkan saya tuan... saya benar benar tidak sengaja saya tadi hanya sedang melamun."
" Melamun lah di tempat lain. Kau menganggu perjalan kaki lain nya."
Alex berlalu meninggalkan alisya, melangkah kaki nya menujuh mobil yang terparkir tak jauh dari tempat nya berdiri.
Alisya menatapin kepergian Alex hingga alex masuk dan menjalankan mobilnya itu.
Hufffttt nyawa ku Selamat......
tanpa Alisya sadari, Alex yang duduk di bangku pengemudi juga memperhatikan alisya yang terus menatap ke arah nya. Dia menaikan kaca mobil menacap gas dan pergi meninggalkan tempat itu Namun sebuah senyuman devil tergambar jelas di wajah Alex.
\=\=\=\=\= \=\=\=\=\= \=\=\=\=\=