
Di sebuah bar/Club malam
Reza duduk dengan dua orang wanita di sebelahnya. Hari ini dia benar benar kacau, Dia ingin melepaskan amarahnya malam ini. Bersenang senang dengan wanita disini.
Reza menjentikkan tangannya menyuruh wanita berbaju merah di sebelahnya menuangkan wiski untuknya. Sedangkan satu wanita berbaju biru sedang sibuk terus bermanja-manja padanya.
Tok..Tok...Tok
Bram muncul dari balik pintu, Membungkuk kan tubuhnya.
" Tuan wanita yang anda inginkan telah siap melayani anda."
Reza bangkit dari tempat nya, Mengeluarkan dompet dan mengambil semua uang yang berada di dalamnya. Dia menaruh uang itu di atas meja, Seraya berkata
" Jika kalian kurang. Kalian bisa meminta kepada dia." Menunjuk kepada Bram.
Reza melangkah kakinya pergi dari ruangan itu. Menaiki lift yang berada di dalam bar miliknya itu, Lalu menujuh ke sebuah kamar private yang di khususkan memang untuk dirinya.
Bram berdiri di depan Reza, Lalu membuka pintu untuk Reza, Tiba tiba seorang wanita bertubuh mungil berparas cantik keluar dan meronta-ronta. Bram dengan sigap menangkap wanita begaun hitam itu dengan tangannya. Mengunci tubuh wanita berambut panjang dengan kuat.
Dia terus merontak memukul tubuh Bram, Namun Bram tak bergeming. Gadis itu kemudian menatap Reza dengan tatapan marah
" Kau memang iblis."
Bram mencengkeram tubuh wanita itu dan hendak menampar nya. Namun Reza langsung menghetikan Bram.
" Biarkan. Biar aku yang memberi pelajaran wanita ****** ini." Ucap Reza.
" baik tuan."
Reza mencengkeram rahangnya, Tubuhnya masih tetap dikunci dengan kuat oleh Bram. Menatap lekat lekat tubuh wanita itu.
" Siapa nama nya? Dan berapa usianya."
" Amelia. Dia berusia 17 tahun."
Reza menyeringai, Masih dengan tatapan devil mematikan nya.
Sementara amel terus merontak berteriak memukul dan menendang Bram. Tapi sepertinya laki laki itu tidak merasakan sakit sedikit pun, Dirinya tetap diam tak bergeming mengunci pergerakan amel.
" Bawa dia masuk. Kau bisa pergi setelahnya."
Bram dengan kasar menarik amelia masuk ke dalam kamar, Menjatuhkan tubuh gadis remaja itu ke ranjang lalu dengan sigap gadis itu berusaha berdiri, Yang mana kali ini membuat Bram sedikit kewalahan.
Reza yang melihat itu, Langsung menghampiri Amelia menarik lengannya dengan sangat kasar dan menjatuhkannya tamparannya Tepat di pipi amel, Hingga gadis itu tak berdaya jatuh ke ranjang dengan ujung bibir yang mengeluarkan darah.
Reza melepaskan dasinya, Menyuruh Bram segera meninggalkan mereka berdua.
Setelah Bram pergi Reza mengunci kamarnya. Melemparkan dasi yang telah terlepas itu ke sembarang tempat, Dan menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh amel.
Amel terbelalak kaget, Dia terus berusaha melepaskan diri, Namun Reza kini sudah dapat mencengkeram kedua tangan amel.
Amel menatap laki laki di atasnya itu dengan penuh kebencian, Sementara Reza menatap gadis itu dengan rasa merendahkan nya. Dia menyeringai seraya amel memalingkan pandangannya.
" Kau fikir aku membelimu dengan harga murah.."
" Aku tidak perduli."
Reza mendekati wajahnya ke telinga ameli membisikan sesuatu kepada gadis itu hingga membuat nya kaget, Dan matanya berkaca kaca
" Kau fikir jika kau menolak melayani ku hidupmu akan berakhir begitu saja di tangan ku seperti gadis lainnya?" Reza Tersenyum " Tidak. Adik mu duluan yang akan merasakan akibatnya bukan."
Amel tertegun, Melirik Reza sekilas. Kini air matanya benar benar tak dapat lagi di bendung. Dia menjatuhkan butiran butiran kristal ke pelupuk pipi nya.
" Kalian benar benar ********. Kalian bahkan tega menjual anak berusia 15 tahun untuk di jadikan budak nafsu kalian."
Reza tertawa " aku tidak sebajingan itu. Aku hanya pelanggan, Bukan orang yang menjualmu seperti ayahmu sendiri."
Reza melepaskan jambakanya, Berdiri dan berjalan ke arah jendela kamar. Berdiri di depan jendela dengan sebotol wiski di tangannya. Sementara Amel terdiam menagis
" Layani aku selagi aku masih bersikap lembut kepadamu. Jika kau terus menolak adikmu yang akan menggantikan mu."
Amel menatap nanar tubuh laki laki yang sekarang membelakangin itu. Wajahnya benar benar amat menyedihkan, Airmatanya terus mengalir seiring dirinya mengingat wajah polos adiknya.
Reza membalikan tubuhnya, Meletakan wiski di atas meja, Lalu kembali menghampiri Amel. Dia berjalan mendekati amel seraya membuka satu demi satu kancing kemejanya. Berdiri di hadapan amel lalu melepaskan kemejanya membuangnya ke sembarang tempat.
Reza Berdiri di hadapan amel, Gadis itu menundukkan kepala tak bergeming. Reza dengan kasar mendorong tubuh mungil amel jatuh keranjang dan memposisikan tubuhnya di atas tubuh gadis itu.
Amel tersentak gelagapan ketika Reza mulai mencumbu bibirnya, Berlahan mulai melumuti nya. Kali ini tidak ada kekerasan. Amel awalnya menolak Namun berlahan Reza mengunci tubuh Amel dan membuat nya pasrah.
Gadis itu memejamkan matanya, Masih terlihat butiran kristal jatuh di pelupuk pipinya. Sementara Reza terus bermain dengan bibir amel, Berlahan menjalar ke leher amel yang mana membuatnya mengerang, Mencengkeram sprei berwarna putih kuat kuat seraya Reza menarik sleting gaun hitamnya.
Dengan satu tarikan gaun amel kini terlepas hanya menyisakan Bra dan dalamnya saja. Amel tertegun ketika tangan Reza memulai menelusuri setiap inci tubuhnya.
Reza kembali mencium bibir amel dengan ganas, Tangannya kini mulai membuka pengait bra. Amel membuka matanya melihat Reza mulai menelusuri leher hingga bagian dadanya. Dirinya bergemetar tak kala Reza mulai memberikan tanda kepemilikan di leher amel.
Reza Berdiri menatap jendela dengan hanya mengenakan handuk putih. Di sisi Ranjang terdapat Amel yang tak mengenakan sehelai benang pun tidur terlelap dengan di tutupi selimut yang terlihat pula
bercakan darah.
Reza menuangkan wiski ke dalam gelas, Menengguk nya hingga habis dan meletakan kembali gelas ketempat semula.
Dia membalikkan tubuhnya menatap Amel yang terlelap di atas Ranjang. Berlahan berjalan melewati amel mengambil pakaian miliknya yang terserakan di lantai, Kemudian berjalan menujuh kamar mandi.
Jam menunjukkan pukul 3 pagi. Reza sudah selesai mandi dan telah berpakaian kembali. Dia duduk di bangku yang berada di tepat di depan Ranjang. Memakai sepatu hitamnya lalu bercermin. Reza diam tak bergeming sesaat sambil terus melihat pantulan tubuh wanita yang baru saja dia rengut kehormatan itu sedang terlelap.
Reza mengambil secarik kertas dan sebuah cek. Menuliskan sesuatu di dalam kertas itu dan nominal uang lalu berlahan pergi meninggalkan kamar.
Pagi telah tiba, Sinar matahari membangun amel yang terlelap di bawah selimut putih yang tebal. Dia membuka matanya menatap sekeliling kamar, Namun dia tidak menemukan siapa siapa termasuk Reza. Gadis itu bangkit duduk dengan terus mencoba menutupi tubuhnya dengan selimut.
Masih menatap dan mencari cari Reza, Namun seperti amel menyadari jika Reza telah meninggalkan dirinya. Amel mengehela nafas panjang Menundukkan kepalanya lalu menangis.
Tak berapa lama amel berusaha bangkit dari Ranjang, Berjalan berlahan menujuh kamar mandi. Dia benar benar merasakan sakit yang amat sangat di bagian organ intimnya. Namun dengan sekuat tenaga Amel terus berjalan ke kamar mandi membersihkan dirinya.
Setelah dia selesai, Amel keluar hanya mengenakan handuk putih. Matanya tertujuh kepada secarik kertas yang tergeletak di atas meja rias depan Ranjang. Amel segera mengambil kertas itu dan membacanya.
Matanya membulat ketika Reza dengan sengaja menaruh cek untuknya dengan jumlah uang mencapai 150 juta, Dia juga menuliskan surat kepada amel yang mana membuat gadis itu tersungkur duduk di bangku dan menangis.
Pergi sejauh mungkin untuk lindungi adikmu. Jangan khawatir aku akan melunaskan semua hutang hutang mu kepada Guntur.
\=\=\=\=\= \=\=\=\=\= \=\=\=\=\=\=