
Alisya menghela nafas menyenderkan tubuhnya
maafkan aku Dil bukan aku tak mengkhianati mu aku benar benar butuh sekali uang itu.
Alisya bangkit dari duduknya berjalan tergesa gesa memanggil ojek pengkolan.
" Abang ke kafe xx ya agak cepetan saya buru buru."
" baik neng."
Tak butuh waktu lama Alisya sampai di kafe xx tempat Reza berada. Dia melangkah kakinya cepat cepat masuk ke dalam kafe, Melihat sekeliling kafe mencari Reza.
Namun bukan hanya Reza yang dia lihat tapi seorang laki laki yang tak asing baginya. Alisya terdiam menatap laki laki yang tak lain David, Wajah benar benar ingin sekali mengetahui apa yang kedua orang itu lakukan di sana. Terlebih lagi David dan Reza terkenal bermusuhan karena telah dengan lancang membawa Nadila.
Alisya memutuskan untuk menunggu mereka berdua selesai bicara. Dia duduk di kursi yang tak jauh dari keduanya namun juga tak mudah di lihat baik Reza atau pun David. Memesan segelas ice thai tea alisya duduk menunggu sambil terus mendengarkan perkataan mereka berdua.
Namun nampaknya Reza mengetahui jika alisya ada di dekatnya. Reza menghela nafas meminum secangkir kopi dan memanggil alisya
" Kau mau sampai kapan duduk di sana...." Alisya terkejut dengan perkataan Reza. Dia buru buru tak melihat Reza dan mendengarnya.
" Alisya kau tuli?"
Ikhh kenapa dia bisa tau aku disini si.
Alisya menoleh kearah kedua laki laki yang kini sudah menatapnya. Reza menjentikkan tangan memberikan kode supaya Alisya mendekat.
Sementara David sedikit terkejut melihat Alisya berada di sana. Dia langsung berdiri dan berpamitan kepada Reza.
" Ada apa kenapa kau buru buru..." Ucap Reza.
" Aku ada pekerjaan."
David menatap Alisya sementara alisya melambaikan tangan menyapa David.
" Kemana saja kau selama 2 tahun ini..." David bertanya kepada Alisya.
Alisya tersenyum " Hmmm cerita nya panjang mungkin sampai besok tak akan selesai."
" Apa yang panjang." Reza memotong perkataan Alisya " Kau datang ke Jakarta tiba tiba kau dijambret semua uang dan barang barangmu raib dan kau mulai bekerja membeli laptop bekas untuk memulai menulis cerita mu yang aneh itu."
Alisya Menoleh ke arah Reza mengerucutkan bibirnya. Namun Reza tak memperdulikan nya dia menyeruput kembali kopi di cangkir nya.
Sementara David menghela nafas menatap alisya dengan tatapan sedikit iba " Ini kau bisa menghubungi kapanpun" Memberikan kartu namanya kepada Alisya.
" Aku pergi.." David melangkah kakinya namun langkah nya terhenti ketika Alisya menggenggam tanganya, David Kembali menoleh memandangi alisya.
" Hmmm apa kau tau..." Melirik Reza dan sedikit berbisik " Bagaimana kabar Nadila."
Reza berdehem yang mana membuat alisya Kembali mengerucutkan bibirnya.
" Dia baik baik saja. Jangan khawatir."
" Baiklah."
David mengangguk kepala seraya alisya melepaskan genggaman tangannya.
" Apa yang harus kulakukan.." Alisya bertanya
" Tidak ada."
" Apa yang tidak ada si..." Alisya mengerutkan dahinya
" Alex akan menghubungi mu untuk bekerja kepada nya. Pura pura lah kau tidak tau jika perusahaan itu milik alex."
" Bahkan dia memberikan ku ini." Memperlihatkan kartu nama dari Alex.
Reza tersenyum " Bukan perusahaan kapal pesiar nya."
" Apa alex orang kaya? Lebih kaya darimu kah?"
Reza menatap jengah wanita di hadapannya " kenapa kau mau menjadi perempuan nya"
" Mengapa tidak jika benar dia menyukai ku. Lebih baik aku terkurung oleh cinta dia daripada aku harus menjual diriku demi melunasi hutang hutang."
Reza berdecak mendengarkan perkataan Alisya " Baik lah jika kau ingin nya seperti itu. Kau akan tau bagaimana dia mencoba mendominasi hidupmu."
" Kau pun sama mempelakukan Nadila."
" Kau.... Beluk pernah melihat ku membunuh orang."
Alisya menyilangkan tanganya ke dada lalu meledek Reza " Woahhh aku takut."
🌹🌹🌹🌹🌹
Nadila masih sibuk dengan beberapa berkas di atas meja kerjanya. Dia sesekali menatap Jam yang melingkari lengan putihnya.
Dia benar benar lelah bahkan di jam yang telah menunjuk kan pukul tiga sore, Diri nya belum makan siang. Akhirnya dia memutuskan untuk menunda pekerjaan nya, Beranjak pergi dari mejanya untuk mencari makanan.
Seperti biasa semua orang di perusahaan Davison selalu menatap sinis ke arah Nadila. Bukan hanya karena dirinya memiliki paras cantik, Namun rumor yang sudah lama tersebar di seluruh penjuru perusahaan tentang kisah cintanya dengan CEO FW corp dan bagaimana bossnya itu memperlakukan Nadila bak seorang Ratu. Tapi sepertinya Nadila sudah terbiasa dengan tatapan atau cibiran dari orang orang di dalam perusahaan tempatnya bekerja, Dengan cuek dia berjalan begitu saja melewati mereka yang terkadang terdengar jelas sedang bergunjing tentangnya.
Nadila duduk di kafe dekat kantor nya menyantap semangkuk mie dan segelas thai tea, Dia benar benar sangat kelaparan bahkan mie di dalam mangkuk saja habis dalam hitungan menit.
Setelah selesai menghabiskan makanannya, Nadila duduk sambil menatap kearah luar jendela. Matanya tertujuh kepada seorang laki laki yang baru saja turun dari mobil SUV.
Dia david yang baru saja tiba, Entah laki laki dengan perawakan tegap itu dari mana. Namun sepertinya wajah nya terlebih sangat kesal. Nadila menatap aneh laki laki itu, Pasalnya akhir akhir ini David benar benar berbeda tidak seperti orang yang Nadila kenal. Bahkan Nadila pun pernah melihat ny memarahi hingga menampar karyawan nya yang mana itu baru pertama kali Nadila lihat.
Nadila memalingkan wajahnya tak kala tiga orang wanita mendekati Nadila
" Ya ampun segitunya amat liatin pak dav."
" Ga jadi sama CEO FW eh pak dav di deketin."
" Iya ga tau diri banget ya padahal udah 3 tahun nempel sama pak dev eh tapi sampai sekarang ga du aku akui juga."
Mereka bertiga Tertawa setelah puas mengatai Nadila. Namun lagi lagi Nadila sama sekali tidak memperdulikan Orang orang yang mengatai bahkan menghina dirinya, Nadila kembali menatap ke arah david namun sayang david sudah tidak ada di tempat.
\=\=\=\=\=\= \=\=\=\=\=\= \=\=\=\=\=\=