
Beny tidak bisa membohongi dirinya sendiri yang juga berduka atas kehilangan calon anaknya.
Cesil masih dalam perawatan untuk pemulihan dengan jarum infus yang bersumber dari kantung darah untuk melengkapi kebutuhan darahnya yang hilang.
Cesil bingung dengan sikap Beny yang tidak bisa Ia tebak. Beny tidak terlihat sedih karena keadaan saat ini dan Beny juga tidak terlihat senang jika dia bahagia karena kehilangan calon anak yang tidak pernah Ia harapkan.
Kalau kalian pikir Beny sering mengunjunginya, jawabannya adalah salah. Beny malah menyibukan dirinya dengan alasan kerjaan kantor. Tidak tau benar atau tidaknya, Cesil percaya saja.
Cesil selalu mengatakan pada orang tuanya atau pun orang tua Beny jika dirinya tidak perlu dijaga 24 jam oleh mereka karena Beny selalu menunggunya dan mengurusinya.
Padahal nyatanya tidak.
Cesil hanya tidak mau nama baik Beny di hadapan para orang tua dan keluarga besar menjadi tercoreng, lagi pula itu kan yang selama ini Beny jaga.
Cesil berpikir untuk berhenti mengharapkan Beny karena hasilnya adalah sia sia. Bahkan dirinya lemah tak berdaya seperti ini pun Beny tetap tidak peduli.
Mungkin Cesil hanya terbawa perasaan saja karena dilihat Beny yang tampak kawatir padanya pada hari dimana Ia bisa dikatakan sekarat.
Tetapi Cesil berpikir jika yang dilakukan Beny saat itu adalah manusiawi. Tanpa Beny harus jadi suami atau orang terdekatnya pun kalau hal itu terjadi di depan mata, pasti setiap ada rasa untuk menolong dan kawatir dengan keadaan kita.
Mungkin kawatir Beny saat itu hanya sebatas hal tersebut saja.
Dan terlebih pada saat itu, ada keluarga yang memperhatikan dan mengawasi gerak geriknya. Sosok suami siaga dalam diri Beny adalah harapan semua orang disana.
Cesil juga sadar jika dirinya lah yang memulai api ini. Cesil yang menerima perjodohan tersebut berarti dirinya juga harus menerima apapun konsekuensi yang ada.
Ya anggap saja ini adalah hukuman Tuhan karena sudah membuat Beny menderita karena menjadi suaminya.
Di sisi lain Beny hanya melamun di depan tumpukan berkas kantor. Beny sibuk. Sibuk dengan pikirannya sendiri dan tidak menyentuh berkas penting itu sedari tadi.
***
"Hay" Beny masuk ke dalam ruang rawat Cesil.
Cesil hanya tersenyum melihat kehadiran Beny. Cesil memang memikirkan kesedihan hidupnya sedari tadi, hanya saja jika sudah dihadapkan langsung dengan Beny, Cesil tidak bisa menolak Beny selagi dia bersikap baik.
Hanya keheningan dan tidak ada yang membuka obrolan. Sebenarnya Beny bisa saja menanyakan apa yang dilakukan Cesil selama Ia tidak ada dan nanti Cesil bertanya sebaliknya.
"Via sama Delfa katanya mau kesini jenguk kamu besok." Kata Beny yang akhirnya membuka obrolan.
"Seneng dong kamu disamperin pujaan hati." Cesil berkata dengan nada santai tetapi dalam hatinya cukup sakit mengatakan itu. Suaminya menyukai istri orang lain yang adalah sahabatnya sendiri.
Ayolah Tuhan, sebenarnya lebih baik Beny menyukai wanita lain yang Cesil tidak kenal– Cesil menggerutu dalam hati nya.
"Biasa aja ah." Kata Beny menanggapi.
"Udah deh, aku tau kamu." Cesil terus saja menggoda Beny.
Semenjak dulu Cesil bersahabat dengan Beny, Ia sering sekali menggoda Beny padahal dirinya sakit hati. Tetapi sekarang karena statusnya adalah istri, sakit hatinya bertambah besar.
"Biasa aja, kan dia sama suaminya." Jawab Beny sambil memainkan HP nya.
"Kalau Via sendirian baru kamu seneng ya. Terus nanti aku maksa kamu buat anterin Via pulang. Modus banget emang." Kata Cesil lagi.
"Beda cerita kalau itu." Jawaban Beny seakan menyetujui perkataan Cesil barusan.
Kalian tau tidak bagaimana rasanya?
Cemburu tapi hanya bisa diam.
"Bercanda, Sil." Timpa Beny lagi. Beny merasakan Cesil seperti berubah raut mukanya. Sepertinya Beny salah bicara.
"Apaan sih, biasa aja aku mah. Kaya engga pernah kenal aja." Cesil berusaha membuat dirinya se normal mungkin agar Beny percaya.
***
Hari sudah berganti dan malam ini Beny menjaganya dirumah sakit seperti malam biasanya. Beny akan bangun pagi setelah itu cuci muka dan pulang kerumah untuk mandi dan berangkat ke kantor.
Jangan dipikir kalau Ia tertidur sambil duduk memegang tangan Cesil disamping ranjang rawat Cesil. Sangat mustahil jika Beny merelakan posisi tidurnya menjadi tidak enak seperti itu.
Beny tidur di sofa rumah sakit yang berada di dalam kamar rawat Cesil dan untung saja, sofa itu empuk dan cukup panjang sehingga Beny tidak perlu meringkuk untuk tidur.
Beny juga tidak menunggu Cesil sampai Cesil tertidur lelap untuk masuk kedalam alam mimpinya sendiri. Kalau Ia sudah ngantuk dan Cesil belum, Ia akan tidur lebih dulu.
Lagi pula siapa Cesil sampai Beny harus memperlakukan Ia seperti kekasih pada umumnya.
Kekasih saja bukan.
Beny sengaja membuat janji datang Via dan Delfa sesuai dengan waktu Ia pulang kerja. Sekalian kesempatan emas bagi Beny untuk melihat Via.
Cesil tau jika Beny tidak akan mau melewatkan kesempatan itu jika Via datang saat dirinya sedang berkerja. Sangat menjijikan sekali memang.
Lagi pula untung saja Beny tidak mendapatkan Via. Karena bayangkan saja, mau jadi apa si kembar Fian dan Fina kalau punya papa seperti Beny.
Anak kandungnya saja dibuat meninggal olehnya, ya walaupun tidak sepenuhnya salah dia, tetapi sama saja, dia menolak kehadiran anak kandungnya– cibiran dari Cesil.
"Sil, bengong aja sih. Masih belum bisa relain kehilangan anak kita?" Kata Beny saat Ia keluar dari kamar mandi setelah cuci muka.
Cesil setiap memikirkan kelakuan Beny dan kepergok olehnya Ia sedang melamun, pasti Ia beralasan jika dirinya sedang berusaha merelakan anak mereka yang meninggal.
Untuk hal itu memang berat untuk Cesil ikhlaskan, tetapi kadang Ia berpikir jika lebih baik anaknya hidup tenang disana karena jika Ia hadir sekarang, orang tuanya saja tidak saling memberikan kenyamanan satu sama lain. Bagaimana nanti Ia akan nyaman di dalam hidupnya?
Apalagi menerima penolakan Beny seperti yang Ia rasakan. Aduh, kamu terlalu kecil untuk harus merasakan itu.
"Iya." Jawab Cesil.
"Kamu makannya cepetan sembuh dong, nanti aku buatin lagi." Kata Beny dengan nada bercanda.
Cesil tidak percaya jika mulut Beny bisa berkata semudah dan seringan itu. Seakan akan kehilangan anak mereka hanya hal kecil atau sebuah lelucon.
Cesil selalu berdoa untuk Tuhan jangan menghukum Beny atas semua yang di ucapkan atau lakukan karena Cesil yakin dia tidak tau kalau yang dia lakukan itu salah.
"Itu mulut bisa engga sih kalau engga nyakitin hati orang sehari aja?" Kata Cesil dengan nada ketus.
Beny baru sadar jika perkataannya memang menyakitkan. Sejujurnya tadi Ia hanya bercanda dan berniat menghibur Cesil yang bersedih di pagi harinya.
Beny tidak menanggapi dan langsung keluar dari ruang rawat Cesil tanpa berpamitan.
Kebiasaan Beny, bukannya minta maaf kalau tau salah. Tapi malah pergi.
------------------------------------
**halo pembaca cerita Anster
seneng banget akutuh bisa up
makasih ya udah baca cerita ini
semoga kalian selalu suka sama ceritanya
salam sayang,
Anster**.