
Cesilia Leticana Mera, Cesil panggilannya. Saat ini Cesil sedang merenung dikamarnya, memikirkan nasib kehidupannya setelah ini. Bisnis orang tuanya yang menjadi sumber penghasilan keluarga, memiliki penurunan dalam masalah keuangan.
Penurunan ini sebenarnya sudah terjadi semenjak Cesil baru saja ingin memulai dunia perkuliahannya. Akibatnya adalah Cesil harus berjuang mendapatkan beasiswa untuk meringankan tanggungan orang tuanya.
Pinjaman yang didapatkan tidak kunjung membuat perekonomian perusahaan Cesil membaik. Orang tua Cesil mencari pinjaman dari beberapa tempat dengan harapan dapat dikembalikan dalam beberapa tahun saja. Tetapi kenyataan adalah sebaliknya.
Semakin menurunnya pereekonomian perusahaan orang tua Cesil, membuat orang tua Cesil kewalahan untuk menutup hutang dari berbagai pihak.
Gaji Cesil yang dikatakan lumayan saat berkerja di Celior Corp pun hanya mampu untuk kecukupan dalam melansungkan hidup, tidak dapat berdampak apapun untuk melunasi hutang.
Hingga pada akhirnya, entah dikatakan kabar baik atau buruk saat keluarga Beny yang dimana merupakan pihak yang memberikan pinjaman terbesar, memberikan penawaran untuk membantu pelunasan hutang dari perusahaan keluarga Cesil.
Beny, Beny Morvano Celior. Beny adalah sahabat Cesil sejak mereka masih dalam kandungan. Dikatakan sejak dalam kandungan karena memang orang tua mereka bersahabat.
Dengan alasan memperat tali persahabatan antara keluarga Beny dan keluarga Cesil, Keluarga Beny memberikan penawaran yaitu menjodohkan Beny dan Cesil.
Perbincangan mengenai perjodohan Beny dan Cesil bukan hal yang asing untuk didengar oleh keduanya. Karena, sejak mereka masih TK pun orang tua mereka sering mengatakan mereka berjodoh hanya karena satu atau lebih kesamaan.
Contoh kesamaan mereka adalah pada saat mereka memakai baju yang sama. Bukan hanya warna yang sama, tetapi baju itu memang baju dengan motif dan model yang sama. Salahkan ibu mereka yang sering belanja pakaian bersama.
Tetapi sekarang beda dengan keadaan saat sebelumnya. Perjodohan yang dikatakan oleh keluarga Beny kali ini benar-benar serius. Dalam penawaran ini sifatnya tidak memaksa, karena semua keputusan ada pada Cesil. Hanya pada Cesil. Karena, Beny sudah pasti mengikuti semua suruhan orang tuanya dibandingkan dijauhkan oleh fasilitasnya.
Cesil semakin bingung dengan langkah apa yang harus dia ambil. Satu sisi dia ingin sekali menyelamatkan bisnis keluarga yang memang dirintis orang tuanya. Tetapi di sisi lain, Ia memikirkan perasaan Beny. Beny sangat amat menyukai Via, sejak awal ospek perkuliahannya. Persahabatan dengan Via pun diawali dengan niatan mengetahui Via lebih dalam dan memberikan infonya pada Beny.
Cesil tahu jika bagaimana pun cara yang dilakukan Beny tidak akan membuahkan hasil dalam mengambil hati Via. Apalagi setelah adanya kedua anaknya yaitu Fian dan Fina, tidak lupa juga Delfa, calon suaminya.
***
"Sil, lu tuh ga mikir apa gimana sih. Lu tau semua tentang gua, apa yang gua suka dan engga suka. Tapi kenapa jawaban lu kaya gini?" Kata Beny dengan nada yang tinggi.
"Gua mau bantu keluarga gua, Ben." Jawab Cesil.
"Gua udah bilang, gua akan bantuin bisnis keluarga lu. Gua yang bantu, bukan keluarga gua!" Kata Beny sambil menunjuk dirinya sendiri dengan geram.
"Mau sampe kapan,Ben? bokap gua udah mulai sakit-sakitan." Jawab Cesil frustasi.
"Lu emang engga pernah percaya ya sama gua dari dulu, sahabat macam apa lu? engga ada bergunanya dihidup gua!" Kata Beny sambil menunjuk Cesil.
Cesil menitihkan air matanya. Selama mereka bersahabat pertengkaran bukan hal asing untuk mereka lakukan. Namun, perkataan Beny kali ini sukses menyayat hatinya.
"Gausah nangis deh! gua udah bukan Beny yang akan ngalah setiap lu udah keluarin air mata!" Kata Beny. Sebenarnya Beny tetaplah Beny, air mata Cesil tetap menjadi kelemahannya. Tetapi emosinya kali ini mengalahkan segalanya.
"Lu ngertiin posisi gua dong, Ben." Kata Cesil dengan nada lirih dan suara bergetar.
"Gausah minta dingertiin, kalau lu sendiri aja engga mau ngerti posisi gua, ngerti?" Kata Beny sambil mendekatkan tubuh Cesil dan mata yang seakan memberi peringatan.
"Apa sih salahnya buat lu nerima aja. Toh, lu nikahnya sama gua, bukan orang yang engga lu kenal." Kata Cesil dengan nada yang tinggi tetapi tatapannya memohon.
"Heh, lu pikir lu sebagus apa buat jadi istri gua? ngaca, Sil." Kata Beny yang lagi-lagi mengeluarkan kata-kata menyakitkan.
"Jangan salahin gua yang berubah jadi kaya gini, keputusan lu sendiri kan yang mau gua kaya gini." Kata Beny.
"Lu bilang sayang lu ke gua engga akan mati. Lu bilang gua sahabat nomer satu. lu bilang gua prioritas atas apapun. Sekarang apa?" Kata Cesil.
Beni menampar Cesil.
"Biar lu sadar, gua yang sekarang bukan gua yang dulu." Kata Beny dan langsung meninggalkan Cesil dari ruang kamarnya sendiri.
"Pokoknya gua mau kita tetep nikah!" Kata Cesil berteriak sebelum Beny benar-benar keluar dari kamar itu.
Cesil dan Beny sudah menjadi hal biasa jika mereka bermain di kamar Beny. Sebelum saat ini, terakhir Cesil ke kamar ini adalah sebelum ia ngekost.
Dulu setiap selesai bermain di kamar Beny pasti mereka berantem, ada aja permasalahannya. Dan sekarang pun terulang lagi, dengan masalah yang berlipat-lipat beratnya dari yang dulu.
"Lu adalah alasan gua belum pernah pacaran sampe sekarang, Ben. Sekarang gua tau, gini ya rasanya ditinggalin orang yang kita sayang." Kata Cesil setelah Beny menutup pintu kamarnya dengan keras.
***
Cesil memutuskan untuk menelepon Via untuk memeberitahu kabarnya. Cesil tidak mengatakan yang sebenarnya, karena Ia tidak mau mengganggu pikiran Via.
Cesil mengatakan jika Ia harus kembali ke rumah orang tuanya untuk menengahkan pertengkaran orang tuanya. Via tidak ambil pusing tentang hal ini, karena selama Via berteman dengan Cesil, Cesil banyak menceritakan mengenai keluarganya.
Tetapi sayangnya cerita Cesil pada Via hanyalah sebagian kecil. Setiap ada masalah besar yang Cesil alami, dia akan mengatakan jika orang tuanya mengalami pertengkaran hebat hanya karena masalah kecil.
Cesil mengakui jika dirinya bangga dipertemukan dengan Via yang menjadi sahabatnya. Hidup besama Via membuatnya menghargai setiap masalah yang datang, mensyukuri hidup, dan juga berbahagia.
Setelah menutup panggilan telepon dengan Via, ponsel Cesil bergetar menandakan adanya notifikasi.
Beny.
Sebelum membuka isi pesan itu, Cesil menarik napasnya dalam. Berharap jika isi pesan itu tidak lagi menyakiti hatinya yang baru saja diobati.
Beny : Gausah ngadu tentang apa yang terjadi tadi, atau gua hajar lu abis-abisan.
Lagi, untuk kesekian kalinya hari ini Beny menyakiti hatinya.
--------------------------------------------------
YEYA PEMBACA ANSTER!
**semoga kalian suka ya sama ceritanya
salam sayang,
Anster**