Lifeless Wedding

Lifeless Wedding
Perihal Mandi



Cesil dan Beny sudah tiba di Bandung. Selama di perjalanan Cesil hanya tertidur dengan bantal leher di kepalanya. Sebenarnya tidak masalah juga kalau bersandar ke Beny, tetapi Cesil cukup gengsi untuk bersandar sebelum Beny menawarkan.


Saat di perjalanan sebenarnya Cesil sedikit merasakan sakit di perutnya tetapi Ia tahan saja karena tidak terlalu menganggu menurutny. Lagi pula Beny sudah berkonsultasi dengan dokter berarti sakit itu paling hanya efek samping kecil saja.


Mereka sedang berjalan untuk masuk ke penginapan yang akan menjadi tempat tinggal Beny dan Cesil dalam beberapa hari ke depan.


Tiba-tiba saja melihat Hotel membuat Cesil teringat akan peristiwa saat detik-detik dirinya harus kehilangan calon anaknya. Sedih dan merasa bersalah selalu menghantui Cesil jika mengingat kejadian tersebut.


Semakin sedih dan merasa bersalah, semakin tinggi pula keinginan Cesil untuk berdoa untuk Tuhan segera mengambil nyawanya.


"Kamu jangan mikir macam macam Sil, kalau sedih terus kapan mau pulih totalnya? Kamu mau selalu merepotkan aku untuk mengurusmu?" Kata Beny berkata dengan nada datar dan pandangan lurus ke depan tanpa melihat kearah Cesil.


"Sudahlah, lagipula aku juga mulai untuk membiasakan diri tidak mengandalkan kamu dalam hidupku." Kata Cesil.


Beny tidak menganggapi jawaban Cesil yang ketus padanya. Jika dulu dia akan memarahi Cesil karena berani melawan dirinya, sekarang rasanya sudah sulit melakukan itu, tidak tau apa alasannya. Mungkin karena Beny tau bagaimana kondisi kesehatan Cesil saat ini.


Kondisi tubuh Cesil saat ini sangat lemah sebenarnya, lemah dari segi fisik maupun psikis. Dokter pun mengatakan hal tersebut dan alasan kenapa dokter mengijinkan kepeegian mereka adalah karena Beny berkata pada dokter mau membawa Cesil ke tempat yang bisa membuat relaksasi dari tekanan dirinya dan tentu saja Dokter tersebut mengijinkannya.


Dokter itu mengatakan bahwa kondisi kesehatan mental yang sehat sangat berpengaruh juga pada proses penyembuhan kesehatan fisik Cesil.


Beny mengakui jika Cesil banyak melakukan perubahan setelah kehilangan calon anak mereka. Cesil yang penurut dan mengharapkan Beny memperlakukannya dengan baik, rasanya sudah jarang sekali Beny temui. Cesil yang sekarang tampak lebih acuh padanya dan bahkan pada dirinya sendiri.


Kini mereka telah sampai di kamar yang sudah dipesan sebelumnya. kamar yang tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar untuk mereka berdua. Beny memang mencari kamar yang Ia rasa nyaman karena akan digunakan dalam beberapa hari.


"Kamu istirahat saja, biar aku yang merapikan barang barang." Kata Beny pada Cesil.


"Memangnya boleh seperti itu?" Tanya Cesil dengan bingung.


"Sangat boleh untuk saat ini." Kata Beny pada Cesil.


"Baiklah, aku memang harus melanjutkan tidurku." Kata Cesil.


Cesil ingin menjatuhkan dengan kasar tubuhnya ke kasur tapi Beny segera mencegah Cesil melakukan itu. "Baringkan tubuh kamu dengan perlahan, Sil." Kata Beny memperingati.


"Kamu bilang ke orang tua kita apa Ben? Kamu bilang kita lagi honeymoon ya?" Tanya Cesil sambil membaringkan tubuhnya.


"Ya, aku bilang saja sejujurnya kalau aku ada kerjaan penting." Beny menjawab pertanyaan Cesil sambil nata perlengkapan mereka yang ada di dalam tas untuk diletakan pada lemari atau meja.


"Tapi kan kamu baru menikah Ben, masa tidak ada cuti setelah pernikahan, sih?" Kata Cesil dengan heran.


"Pertemuan dengan orang penting dan kedatanganku tidak bisa diwakilkan." Jawab Beny.


"Kapan?" Tanya Cesil lagi.


"Nanti Sore." Jawab Beny.


"Sil, sepertinya lebih baik kamu tidur supaya tidak mengangguku dengan banyak pertanyaanmu seperti ini dan bodohnya aku menjawab pertanyaan kamu." Kata Beny geram.


"Pertanyaanku masih batas wajar Ben, kenapa kamu menjadi marah seperti ini?" Kata Cesil.


"Aku mengenal kamu itu sudah lama Sil, pertanyaan yang kamu berikan itu akan terus bercabang sampai buat aku lelah menjawabnya." Kata Beny dengan kesal.


Dulu pada saat hubungan persahabatan Cesil dan Beny masih baik baik saja, Beny jarang sekali bisa berbohong atau tidak mengatakan kegiatan yang sudah Ia lakukan pada Cesil karena pertanyaan yang Cesil ajukan sangat banyak padanya saat mereka bertemu.


"Memangnya kamu masih menggunakan infus?" Kata Beny.


"Aku sangat malas beranjak untuk mandi Ben." Kata Cesil dengan nada merengek.


"Sil, aku tidak suka ya kamu manja seperti itu." Kata Beny dengan nada dingin yang mengancam.


"Yasudahlah, nanti aku berendam saat kamu pergi kerja." Kata Cesil.


"Tidak boleh." Jawab Beny menolak keinginan Cesil.


"Saat berangkat tadi aku tidak mandi Ben, masa aku tidak boleh mandi?" Kata Cesil.


"Aku tidak melarang kamu mandi." Jawab Beny.


"Ayo sekarang kita mandi bersama." ajak Beny pada Cesil.


"Aku tidak mau. Aku lelah Ben, tidak mungkin kita hanya mandi kan nanti?" Jawab Cesil.


"Kamu pikir aku gila mengajak mu untuk melakukan itu disaat kondisi tubuhmu yang baru keluar dari Rumah Sakit?" Sanggah Beny pada pertanyaan menyudutkan yang Cesil berilan.


"Kamu yang bilang tadi minta aku mandikan, yasudah aku setuju, sekalian aku ingin mandi juga." Kata Beny.


"Tidak jadi Ben. Aku bisa mandi sendiri nanti." Kata Cesil.


"Mandi bersamaku dan tidak ada bantahan." Kata Beny.


"Dasar tidak jelas." Cesil berkata dengan suara kecil kekesalannya tersebut.


Beny yang mendengar perkataan Cesil hanya bisa diam. Cesil tidak tau bagaimana cabang pikirannya mendengar keinginan Cesil untuk berendam. Kondisi Cesil masih terbilang belum pulih benar dan menurutnya berendam bukanlah pilihan yang tepat untuk Cesil.


Beny memikirkan bagaimana jadinya kalau Cesil terlalu terbawa suasana nyaman dari air hangat yang merendam tubuhnya sampai akhirnya Ia tertidur pulas dan tanpa sadar dirinya tenggelam dalam air lalu setelah itu kemungkinan terburuk seperti kematian akan semakin dekat dengan diri Cesil.


Anggaplah Beny memang terlalu berpikir keras tentang Cesil saat ini. Pemikirannya tersebut adalah kemungkinan kecil terjadi dan Beny berusaha mencegahnya.


Bagaimana pun juga Cesil adalah seseorang yang sudah tidak menginginkan kehidupannya lagi, apalagi baru kehilangan calon anaknya yang sering buat dia sedih. Beny tidak menjamin pemikiran Cesil akan jernih nanti saat dirinya hanya sendirian di dalam kamar, dan kemungkinan akan kematian Cesil akibat tenggelam dalam bathup bisa saja terjadi.


Bukan tentang kawatir, tapi dirinya juga tidak mau dianggap suami tidak berguna yang hanya bisa membawa istrinya pada keadaan sakratul maut secara berurutan. Tidak mungkin kan kalau hari pertama pernikahan sudah dikejutkan oleh kondisi Cesil yang seperti berada diujung masa hidupnya dan setelah itu seminggu kemudian Beny harus menghadapi Cesil yang kehilangan nyawa karena berendam. Beny sangat malu jika itu terjadi, maka dari itu Ia berusaha untuk mencegah segala kemungkinan yang ada.


_______


Halo pembaca cerita Anster


Seneng banget bisa update akunya


Terima kasih yang udah mau baca dan semoga selalu suka ya


Salam sayang, Anster.


#20/10/20


ihiw tanggalnya bagus amat.