
Hari ini seharusnya menjadi Hari yang paling bahagia dan ditunggu- tunggu oleh sepasang kekasih yang melanjutkan kehidupan mereka dengan pernikahan. Tapi tidak berlaku bagi Beny dan Cesil. Tanpa melalui proses pingitan, mereka sudah tidak berkomunikasi dalam bentuk apapun sebelumnya.
Pertemuan Cesil dan Beny setelah lama tidak bertemu adalah pada saat pemberkatan pernikahan mereka. Beny dan Cesil sangat pintar dalam bermain drama. Menampilkan kepada semua orang, bahwa merekalah yang paling berbahagia.
Cesil menangis saat mengucapkan janji pernikahannya. Cesil mengatakan yang sejujurnya dari hati yang paling dalam bahwa Ia akan mencintai dan selalu bersama Beny dalam suka dan duka, untung dan malang.
Beny juga mengucapkan hal yang demikian adanya, hanya tidak ada yang tau dia mengucapkan dengan hati yang tulus atau sekadar sebagai formalitas saja.
Keluarga Cesil mengenal Beny sebagai pria yang baik, bertanggung jawa, mengerti dan menerima Cesil apa adanya. Hal itu tidak salah sepenuhnya, sebelum Beny berubah menjadi seperti sekarang, memang seperti itulah Beny.
Tangisan haru kebahagiaan terpancar pada keluarga dari kedua belah pihak, tetapi tidak pada Via. Via tau bagaiman tersiksanya Cesil bersanding dengan Beny. Ingin sekali Via memaksa Cesil untuk tidak melanjutkan pernikahannya, tetapi Cesil tidak memiliki pilihan jalan lainnya.
Setelah pengucapan janji pernikahan, Cesil merasa mual yang begitu hebat. Tetapi Cesil harus berusaha menahannya. Menutupi keringat dingin yang mulai mengucur menggantikan tetesan air mata yang tadi sudah dikeluarkan.
Sekarang saatnya Beny dan Cesil berciuman. Berciuman di depan pastor dan umat. Beny melakukannya dengan lembut, dan Cesil pun merasakan itu. Ntah bagaimana nanti kelanjutan pernikahannya, Cesil hanya berharap Ia sanggup menjalaninya.
Setelah ciuman itu, mual Cesil mereda. Walaupun masih terasa, tetapi tidak menyiksa.
***
Setelah acara pemberkatan selesai, Cesil dan Beny masuk kedalam ruang rias untuk berganti pakaiannya dan menata ulang riasan-riasan karena dilanjutkan resepsi pernikahan mereka.
Baru sampai di ruang ganti, Cesil merasa mual dan ingin segera memuntahkan isi perutnya. Cesil berlari kearah toilet namun sayangnya, satu langkah menuju wastafel ia sudah terlanjur memuntahkannya di lantai kamar mandi.
Tangan yang digunakan untuk menutup mulutnya terkena muntahannya begitupun gaun pernikahannya.
"Cesil!" Kata Beny dengan terkejut.
Huek
Huek
Huek
"Aduh, lu buat gua jijik tau ga! Mana bau lagi." Tanggapan Beny membuat Cesil semakin lemah, Cesil kira Beny mengampirinya untuk membantu, tetapi justru sebaliknya.
"Aku mual banget, Ben." Kata Cesil dengan nada lirih.
"Gausah ngeluh sama gua, lu sendiri yang milih pertahanin kandungan lu!" Jawab Beny dengan nada ketus.
Cesil hanya bisa mengambil napas dalam sambil merasakan perih di dalam hatinya.
Cesil menangis, dan rasa mual nya tidak kunjung reda.
"Pokoknya lu akalin deh harus gimana, jangan sampe pas resepsi gua harus nyium bau busuk kaya gini lagi!" Kata Beny.
"Iya, Ben." Kata Cesil dengan nada yang lemah.
"Untung mama gua maksa beli 2 gaun buat lu pake. Kalau engga, ih najis, mending gausah resepsi aja. Dibandingkan malu." Cesil berharap Beny segera pergi saja meninggalkan tempatnya. Semakin Beny berucap, semakin membuatnya ingin mati karena sakit hati.
"Sampein makasih aku buat mama kamu ya.." Kata Cesil memaksa tersenyum.
"Yaudah, gua siap-siap dulu. Nanti gua kebawa bau kaya lu lagi." Beny meninggalkan Cesil di dalam kamar mandi, tidak lupa menutup pintu kamar mandi tersebut.
Cesil menangis sejadi-jadinya meratapi nasib hidupnya. Cesil menahan sakit di hatinya yang tidak kunjung sembuh, bahkan lebih parah.
"Mama pertahanin kamu di dalam perut mama dengan harapan kamu bisa menjadi pemersatu Papa dan Mama. Tapi semakin hari, Papa kamu semakin benci sama kita."
"Kamu kenapa nyusahin mama di hari pernikahan mama dan papa?"
"Mama ngerti kamu cari perhatian Papa kamu, tapi kamu harus tau kalau yang kamu lakuin itu salah dan semakin buat Papa kamu semakin benci sama mama."
"Setelah acara ini, Mama akan hilangin kamu dari perut Mama. Kamu boleh bilang Mama adalah Ibu yang jahat, kamu boleh marah sama Mama. Lebih baik begitu, dibandingkan kamu merasakan sakit yang sama dengan mama."
Setelah itu Cesil meluruhkan tubuhkan hingga duduk dan bersandar pada dinding kamar mandi. Ia hanya menangis tersedu-sedu. Sesekali ingin muntah, tapi sudah tidak ada yang bisa Ia muntahkan dari dalam tubuhnya.
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dengan kasar dan membuat Cesil terkejut. Ternyata yang membukanya adalah Via.
Tampat raut wajah kawatir Via pada Cesil. Tatapan Via menyelidik pada Cesil dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan tidak percaya.
Via menenangkan Cesil dengan memberikan nasihat-nasihat pada Cesil. Via mengatakan jika Cesil harus tetap sabar dan tidak boleh menyalahkan kehamilannya serta Cesil hatus memberikan kasih sayang lebih ekstra karena Beny tidak mampu memberikan kasih sayangnya pada si janin.
Cesil tersadar akan kelakuannya kemarin semenjak Beny meninggalkannya. Cesil hanya merenung tentang mempertahankan atau melenyapkan kandungannya. Cesil sangat sayang pada calon anaknya, hanya saja keadaan yang membuatnya harus memilih diantara 2 keputusan besar.
Cesil mengelus perutnya yang rata dimana calon anaknya menginap di dalam sana. Cesil mengelus sambil menyalurkan kasih sayang yang berasal dari hatinya.
Mungkin kandungannya menyiksa Cesil bukan mencari perhatian kepada Beny, tetapi lebih kepada Cesil. Siapa sangka jika itu adalah cara janin itu menunjukan jika kehadirannya berhak dipertahankan.
Cesil tersenyum sambil menatap Via. Via selalu punya cara menyelesaikan masalahnya atapun masalah dirinya sendiri. Via selalu punya cara untuk bersyukur dan menerima apapun keadaan hidupnya.
Cesil mengucapkan terimakasih dari hati yang mendalam kepada Via. Via membantunya untuk bangkit dan mempersiapkan kondisi tubuhnya agar kuat menjalankan resepsi pernikahan.
Dan benar saja, mual sudah tidak begitu terasa. Via memberikannya buah pisang untuk memulihkan tenaga Cesil.
Setelah itu Via berpamitan dan menyampaikan permintaan maafnya karena tidak bisa hadir pada acara resepsi Cesil karena Via dan anak-anaknya hendak mengantar Delfa yang berencana pergi ke London.
Cesil sudah kembali pulih, Cesil dan Via sudah bisa tertawa lagi. Saatnya bagi Cesil untuk menujukan pada Beny bahwa Ia kuat.
***
Acara resepsi pernikahan Beny dan Cesil tidak dihadiri oleh banyak tamu undangan. Hanya keluarga besar dan beberapa tamu penting, kurangnya kerabat dari pihak Beny dan Cesil adalah faktor utamanya.
Beny cukup kagum dengan Cesil yang berada di sampingnya saat ini. Ia dengan hebatnya menutupi kesedihannya.
Beny hanya kagum, tidak lebih.
Karena tamu undangan tidak banyak, beruntung bagi Cesil karena Ia tidak perlu menahan lelahnya lebih lama lagi. Walaupun kondisi tubuhnya terlihat sehat dan bugar, tetapi tetap saja lelah itu pasti terasa.
"Ben, kan acaranya udah selesai, palingan tinggal ngobrol sama tamu aja, bawa Cesil ke kamar gih. Dia butuh istirahat. Inget, dia bawa anak kamu loh" Kata Mama nya Beny.
"Cesil masih kuat kok, ma." Kata Cesil menanggapi.
"Udah, kalian pasti cape. Butuh istirahat." Mamanya Beny lebih memaksa.
"Iya ma, lagian Cesil bohong tuh. Tadi aja nyender ke aku terus bilang cape." Kata Beny mengarang.
"Ih kamu buka kartu gitu. Yaudah ma, kita duluan ke kamar ya." Kata Cesil sambil menanggapi drama yang dibuat oleh Beny.
--------------------
Hai Halo pembaca Anster ❤
**Semoga kalian suka sama ceritanya yaa
makasih udah mau baca cerita ini
salam sayang,
Anster**