Lifeless Wedding

Lifeless Wedding
Mengajak ke Bandung



Cesil menatap langit langit ruangan itu sambil terdiam merenungkan nasibnya. Bahkan untuk bertanya 'kenapa dirinya harus merasakan hidup seperti ini?' rasanya bosan. Sampai mulutnya berbuih pun Ia rasa tidak akan menemukan jawabannya.


***


Setelah beberapa hari berlalu, waktu yang dinanti pun tiba. Hari ini Cesil sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya yang sudah membaik. Beny berhasil bermain peran layaknya suami yang baik dengan meluangkan banyak waktu untuk merawat Cesil.


Pada awalnya Cesil menolak perhatian yang Beny berikan. Bagaimana tidak? dirinya tau jika yang dilakukan Beny hanyalah drama semata, tidak tulus dari hatinya. Tetapi seiring berjalannya waktu, Cesil mulai berpasrah dan mengikuti permainan Beny.


Menurut Cesil, untuk apa dirinya harus menolak perhatian Beny karena bagaimana pun hasilnya tetap sama. Sama sama membuat hatinya sakit. Semua tingkah laku Beny sudah bukan lagi menjadi hal yang Ia cari sebagai pelampiasan masalah hidupnya, tetapi sekarang Beny lah yang menjadi sumber dari masalah hidup Cesil. Cesil berpikir apakah ini yang dinamakan dunia berputar? dan sepertinya jawabannya adalah iya.


Selama Ia di Rumah Sakit, Beny merawat Cesil dengan baik. Membelikan makanan yang Cesil mau, menyuapi Cesil, membersihkan tubuh Cesil, dan hal baik lainnya. Beny juga sesekali membawa pekerjaannya ke Rumah Sakit lalu setelah itu mengerjakan tugas kantor tersebut saat Cesil sedang tidur.


Orang tua Beny ataupun Orang tua Cesil bukan sekali dua kali meminta Beny untuk bergantian berjaga supaya Beny dapat istirahat, tetapi Beny terus menolak.


Cesil pun merasa jika Beny terlalu berlebihan dalam bermain perannya. Suami yang baik juga perlu istirahat, pikir Cesil. Cesil seringkali menyuruh Beny untuk tidur. Beny tidak menolak, kalau memang tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan, Beny menyetujui perkataan Cesil dengan syarat dirinya tidur di samping Cesil.


Bagi Cesil, syarat itu tidak merugikan dirinya sehingga Cesil menyetujui syarat Beny tersebut.


"Kamu katanya sudah bosan di Rumah Sakit, tapi kenapa malah diam saja seperti ini?" Kata Beny pada Cesil.


"Aku bantu kamu ganti baju ya, engga mungkin kan kamu pulang pakai baju pasien itu." Kata Beny lagi.


Cesil hanya berpasrah saja mengikuti alur yang Beny cipatakan dalam dramanya. Sekarang dirinya sudah menggunakan dress selututnya, rambutnya juga sudah tersisir rapi dan tak lupa memakai sedikit liptint untuk mewarnai bibirnya agar tidak terlihat pucat.


Beny mengangkat tubuh Cesil dan membawanya ke mobil karena Beny merasa tidak memerlukan kursi roda selagi dirinya mampu untuk menggendong Cesil.


***


"Perut kamu masih sakit ga?" Kata Beny saat menghampiri Cesil yang sedang berbaring kamar tidur.


"Udah tidak sakit, kamu tidak perlu kawatir lagi." Kata Cesil pada Beny.


"Bagus kalau gitu karena kamu harus ikut aku ke Bandung besok." Kata Beny.


"Ada acara apa kamu sampai harus ke Bandung? Kenapa mendadak sekali?" Cesil terkejut karena baru hari ini Ia diperbolehkan pulang dan Beny langsung mengajaknya ke Bandung.


Walaupun memang sudah tidak sakit, tetapi Beny sama sekali tidak terlihat peduli akan kondisi kesehatan Cesil.


"Ada kerjaan kantor yang mengharuskan aku kesana, sebenarnya kemarin, tapi aku tidak mungkin meninggalkanmu yang masih harus dirawat di Rumah Sakit dan beruntungnya hari ini kamu sudah boleh pulang." Kata Beny pada Cesil.


"Aku tidak mau ikut, aku masih sakit." Jawab Cesil sambil membalikan tubuhnya memunggungi Beny.


"Jangan menyusahkan aku, Sil" kata Beny dengan nada mengancam.


"Kalau aku ikut, aku akan menyusahkanmu Ben. Lebih baik aku tidak ikut." Kata Cesil sambil menatap Beny.


"Aku tidak menerima penolakan." Kata Beny.


"Kenapa kamu memaksaku seperti ini? kamu sudah sering melakukan perjalanan bisnis keluar kota tanpa aku dan itu tidak menjadi masalah. Tetapi kenapa sekarang kamu seperti ini." Cesil mengungkapkan kekesalannya. Cesil kesal dengan sikap pemaksa Beny yang menurutnya tidak masuk ke dalam nalarnya.


"Kamu memang hanya berdrama di hadapan semua orang. Pada kenyataannya kamu tidak mempedulikan kondisi kesehatanku sama sekali." Kata Cesil dengan nada tinggi.


"Kamu tidak punya hati Ben. Bahkan kehilangan anak kamu aja bukan buat kamu menjadi pribadi yang lebih baik, tetapi malah semakin mengubah seorang Beny menjadi buruk." Kata Cesil.


"Aku memang pribadi yang buruk, Sil. Tapi kamu juga tidak jauh beda. Kamu selalu egois menuntut kebahagiaan kamu dan selalu melihat kesedihan kamu, lalu menyalahkan orang lain." Kata Beny lagi.


"Memang itulah kenyataannya." Cesil sebenarnya merasa tertampar oleh perkataan Beny, tetapi Ia berusaha biasa aja seakan dirinya tidak melakukan kesalahan apapun.


Cesil hanya berusaha menjadi orang kuat di hadapan Beny setelah kehilangan calon anaknya. Cesil tau jika dirinya juga ikut andil dalam permasalahan yang terjadi di hidupnya.


"Sudahlah, kamu hanya membuang waktu saja. Aku hanya ingatkan besok kita berangkat pukul tiga pagi. Kalau barang kamu belum di kemas juga, jangan salahkan aku kalau kamu ke Bandung hanya membawa diri saja." Kata Beny sebelum melangkahkan dirinya meninggalkan kamar tersebut.


Cesil menatap punggung Beny dengan perasaan bersalah. Entah karena apa. Rasanya Cesil seperti sudah menyakiti hati Beny saat ini.


"Ben.." Panggil Cesil untuk menahan kepergian Beny sebelum Ia hilang dari pandangan Cesil.


"Kenapa lagi Sil?" Kata Beny dengan malas dan seperti lelah untuk memulai perdebatan lagi dengan Cesil.


Mau bagaimanapun mereka sudah pernah dekat seperti saudara, pasti rasa tidak nyaman untuk terus bertengkar itu ada.


"Kamu mau kemana?" Kata Cesil bertanya.


"Mau ke kamar sebelah untuk lanjutin kerjaan, Kenapa?" Tanya Beny lagi.


"Lebih baik kamu tidur, besok kan harus perjalanan ke Bandung." Kata Cesil mengingatkan.


"Iya aku tidur, selamat malam." Kata Beny.


Beny hendak melangkahkan kakinya untuk berjalan keluar kamar namun lagi lagi di tahan oleh Cesil.


"Ben.." Kata Cesil


"Iya?" Kata Beny sambil menghadapkan tubuhnya kearah Cesil.


"Tidurnya disini samping aku." Kata Cesil sambil menepuk tempat kosong di sampingnya.


Cesil sudah tidak peduli lagi tentang gengsinya untuk saat ini. Cesil tidak tega melihat wajah lelah Beny saat menatapnya. Beny sudah menghabiskan banyak tenaga saat menjaganya di Rumah Sakit. Walaupun itu hanya drama yang Ia buat, tetapi tenaga yang dikeluarkan sama saja, tetap lelah juga.


Beny berbalik dan berjalan menuju kearah Cesil lalu setelah itu membaringkan tubuhnya di samping tubuh Cesil. Setelah itu Cesil mendekatkan diri kearah Beny lalu memeluk Beny dengan erat sambil menyenderkan kepalanya pada dada bidang Beny.


Tanpa disangka sebelumnya, Beny mengusap rambut Cesil, merapikan anak rambutnya lalu setelah itu mengatakan sesuatu.


"Aku udah konsultasi ke dokter untuk bawa kamu ke Bandung besok, dan dokter kasih ijin asal kamu ga melakukan kegiatan yang sangat melelahkan." Kata Beny sebelum Ia menutup matanya untuk masuk ke alam mimpinya.


____________


Hello pembaca cerita Anster


SIKAP BENY BUAT BINGUNG BANGET YA KADANG JAHAT KADANG BAIK.


Terima kasih ya udah mau baca dan semoga sukaa


Salam sayang, Anster


#19/10/20