
"Kamu tanya apa mau aku? mau aku adalah menikah dengan Via. Via pasti jauh lebih bahagia sama aku, Sil." Kata Beny menjawab perkataan Cesil.
"Lagian kamu juga udah lama merasakan cinta bertepuk sebelah tangan padaku dan sepertinya kamu tidak masalah dengan itu. Jadi, aku rasa tidak ada masalah buat aku untuk tetap perjuangin Via." Kata Beny lagi.
"Terus kamu mau buat sedih Fian dan Fina?" Tanya Cesil dengan nada tidak percaya. Cesil sangat amat terkejut dengan pemikiran Beny. Baginya Beny hanya obsesi dengan Via bahkan tidak mempedulikan perasaan orang terdekat Via.
"Mereka punya Delfa. Selama Fian Fina hidup sama Via juga mereka malah mencari Delfa bukan Via dan kelihatannya juga Fian Fina lebih dekat dengan Delfa. Bukannya tidak masalah jika Via aku ambil?" Kata Beny tanpa ada merasa perkataannya mengandung banyak kesalahan pemikiran.
"Kamu pikir Via rela kehilangan kedua anaknya cuma demi pria seperti kamu?" Kata Cesil merendahkan Beny.
"Kamu saja bisa menerima kehilangan anak kamu yang masih di dalam kandungan, kenapa Via tidak bisa. Seharusnya Via bersyukur karena dia sudah menikmati masa-masa indah bersama kedua anaknya." Jawab Beny atas pertanyaan Cesil.
"Kamu serius membandingkannya sama aku? kehamilan aku masih trisemester awal dan dibandingkan dengan Via yang sudah bersama anaknya bertahun-tahun. Lagian, tentang kehamilanku, aku memang berdoa pada Tuhan supaya Ia mengambil nyawa calon anakku saja daripada dia mengalami sakit hati atas perilaku Papanya." Kata Cesil.
"Yasudah, memang seharusnya kita tidak bersama Sil. Untung kamu semakin menyadari hal itu jadi aku lebih mudah untuk meninggalkanmu." Kata Beny yang menohok hati Cesil.
Pemikiran Beny memang sangat luar biasa aneh bagi Cesil. Ambisinya untuk mendapatkan Via rasanya tidak boleh terhalang oleh apapun. Kehilangan calon anaknya juga tidak membuat dia menyesal, Ia hanya sedih sesaat dan setelahnya kobaran api semangat untuk mendapatkan Via semakin membara.
Cesil hanya bisa diam menikmati sakit hatinya. Sakit hati kehilangan calon anaknya dan sakit hati atas perkataan Beny. Entah dirinya yang memang tidak pantas di cintai atau selama ini Ia hanya terjebak pada orang yang salah.
Mencintai sahabat bukanlah kemauan Cesil sejak awal, rasa itu tumbuh dengan sendirinya. Kalau sudah seperti ini, Cesil pun bingung harus menyalahkan siapa.
"Sayang, jadilah penerangan untuk jalan Papamu itu. Berbahagia di surga dan jangan membenci Mama dan Papa." Kata Cesil di dalam hati untuk calon anaknya yang telah pergi.
Cesil sedih karena baru saja Ia ingin memfokuskan diri pada tumbuh kembang kehamilannya, tetapi doanya untuk Tuhan mengambil anaknya, dikabulkan pada waktu yang tidak tepat. Atau memang waktu yang tepat bagi Tuhan. Mungkin Tuhan tau kalau nantinya anak itu kemungkinan besar tersiksa di hidupnya karena lahir di dalam keluarga yang tidak normal.
"Kamu mau makan apa Sil?" Beny mengeluarkan suaranya lagi untuk menanyakan Cesil setelah mereka lama saling membungkam suara.
"Aku ingin mati, jadi tidak perlu makan." Jawab Cesil dengan nada datarnya.
Cesil sudah tidak memiliki semangat untuk melanjutkan hidupnya. Suara Beny mengingatkannya kembali pada semua perkataan menyakitkan yang keluar dengan nada yang sama dari mulut Beny. Ia pikir setelah pengungkapan isi hatinya dan perlakuan lembut Beny, mereka bisa merangkai jalan indah mereka dari awal. Ternyata memang tidak bisa.
"Dan membuat semua orang menyalahkan aku atas kematian kamu?" Kata Beny dengan nada kesalnya.
"Tidak, sudah cukup aku membuat mu tersiksa untuk menikah denganku. Kalaupun aku memang ingin menghilangkan nyawaku, aku akan melakukannya saat kamu tidak ada." Kata Cesil.
"Supaya kamu tidak menjadi tersangka atas kematianku. Teruslah ber-drama layaknya suami yang baik di depan semua orang sampai mereka percaya bahwa kamu bukan penyebab kematianku nanti." Kata Cesil lagi yang membuat Beny tercengang.
"Kita tidak perlu bercerai, cepat atau lambat aku akan pergi dari kamu dengan sendirinya." Cesil berkata lagi karena Beny diam.
Diamnya Beny membuat pikiran Cesil bercabang. Apakah permintaanya untuk ber-drama menjadi suami yang baik sangat membebani pikirannya sampai Ia diam tidak menjawab perkataan Cesil tentang dirinya yang ingin mengakhiri hidup.
Biarlah Ia berperan menjadi istri yang baik dan penyayang pada suaminya, entah sampai kapan. Mungkin sampai waktu yang tepat untuk dirinya mengakhiri hidupnya. Cesil sudah tidak memiliki harapan. Harapan untuk bahagia, rasanya sudah sangat kecil harapan itu terwujud.
Beny menghela napas dengan kasar, lalu setelah itu meninggalkan Cesil di dalam ruangan itu sendirian.
Beny pergi..
Mungkin Beny menghindari adanya perkataan Cesil yang dianggap hanya mencari perhatian saja. Apakah Cesil se-mengganggu itu di dalam hidup Beny? pikirian Cesil memang tidak pernah bahkan tidak bisa jernih kalau sudah memikirkan sikap Beny terhapanya.
Air mata Cesil mengalir membasahi pipinya. Ia benar benar sudah tidak kuat jika harus bertahan di posisinya saat ini. Mengharapkan suami yang jelas jelas tidak memcintai dirinya bahkan rasanya melihat dirinya saat membuka mata saja, malas. Beny memang hanyalah mantan sahabat saat ini bagi Cesil. Mantan teman kecil yang mengisi hari harinya sampai Ia tumbuh menjadi wanita dewasa.
Cesil sangat sedih karena sekarang dirinya sendirian. Ia tidak memiliki seseorang yang bisa dijadikan curahan hati dan wadah untuk menampung segala cerita hidupnya. Cesil tidak mungkin menceritakan keadaan yang sebenarnya pada orang tuanya, karena hal itu akan berdampak pada reputasi Beny. Menceritakannya pada Via juga tidak mungkin karena Cesil tidak mau membuat Via harus kepikiran atas beban hidup Cesil.
Sudah cukup selama ini Cesil memanfaatkan pertemanannya dengan Via untuk kepuasan Beny, sekarang Ia tidak mau memanfaatkan Via lagi sebagai penguat dirinya.
Ponsel Cesil bergetar, notifikasi pesan pun muncul di layar ponselnya.
From : Beny.
Aku ikutin mau kamu. Bukan ber-drama di depan banyak orang saja tapi aku juga akan ber-drama menjadi suami yang baik di depan kamu asal kamu mau menuruti semua perintahku.
Aku beliin kamu makanan, tunggu aku datang dan jangan tidur karena aku malas membangunkanmu nanti.
Entah Cesil harus bahagia karena Beny perhatian dengan dirinya yang belum makan atau harus sedih karena menerima kenyataan jika itu semua hanyalah drama yang dibuat olehnya.
Cesil menatap langit langit ruangan itu sambil terdiam merenungkan nasibnya. Bahkan untuk bertanya 'kenapa dirinya harus merasakan hidup seperti ini?' rasanya bosan. Sampai mulutnya berbuih pun Ia rasa tidak akan menemukan jawabannya.
____________
hello pembaca cerita Anster
makasih ya karena bersedia pindah lapak
makasih juga udah baca cerita ini dan semoga kalian suka
aku selalu rindu respon dari kalian
Salam sayang, Anster.
#17/10/20