
Cesil terdiam di kamar hotel tersebut entah sudah berapa lama. Sudah dua kali Beny mengatakan hal yang meremehkan kepergian calon anak mereka. Cesil menduga jika sebenarnya bukan salah Cesil atau Beny karena lalai menjaga buah hati mereka, tetapi calon anak mereka pintar sehingga memilih untuk meminta Tuhan untuk menunda kedatangannya ke Dunia.
Tetapi ditengah lamunannya tersebut, Cesil teringat akan rupa wajah kekawatiran Beny sebelum meninggalkannya sendirian. Tidak terlintas satupun alasan logis di otak Cesil mengenai hal itu. Bahkan Beny mengkhawatirkan dirinya yang ingin berendam, hal yang sangat konyol menurut Cesil.
Semakin lama pikiran Cesil semakin kosong, seakan otaknya sudah lelah berpikir akan kesedihan pernikahannya bersama Beny. Mata Cesil sudah lelah dan tidak bisa lagi menahan rasa kantuknya. Satu satunya pelarian termudah dan terbaik adalah dengan tidur. Selagi masalah itu tidak masuk ke dalam mimpi, tidur akan menjadi hal yang paling nikmat bagi Cesil.
***
Beny baru saja selesai melangsungkan rapatnya. Pembahasan yang cukup berat dan membuat Beny sangat lelah. Rasanya Beny ingin segera kembali ke kamar hotelnya, lalu membaringkan tubuhnya di kasur empuk yang ada didalamnya.
"Hai Beny! Udah lama ya kita engga ketemu." Seseorang dari arah belakang menyapa Beny. Beny langsung membalikan tubuhnya untuk mengetahui siapa wanita yang memiliki suara tersebut.
"Hai Camela" Beny terkejut melihat wanita dihadapannya. Sudah bertahun tahun silam dirinya tidak bertemu dengan Camela.
"Pujaan hati kita malah bersatu ya, Ben." Kata Camela dengan nada tidak percaya.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan." Kata Beny. Beny sedang malas berpikir karena dirinya sangat lelah akibat rapat tadi.
"Delfa seharusnya milik aku, begitupun Istrinya yang seharusnya menjadi istri kamu, Ben." Kata Camela menjelaskan dengan berbisik di telinga Beny.
"Bagaimana kamu bisa tau kalau aku menyukai istri Delfa?" Tanya Beny dengan bingung.
"Ben, aku tau kamu sangat tau bagaimana aku." Kata Camela dengan senyum yang berusaha meyakinkan Beny.
Beny terdiam. Camela adalah sekretaris Delfa untuk perusahaan yang berada di Jerman. Beny tau kalau Camela sangat amat menyukai Delfa, bahkan terobsesi untuk mendapatkan Delfa menjadi miliknya. Camela selalu mengetahui informasi lengkap mengenai kehidupan Delfa dan orang yang berada di dekat Delfa. Informasi tersebut Camela butuhkan untuk menjadi peluang menjalankan aksi pendekatan pada Delfa.
"Lalu apa yang kamu ingingkan?" Beny sudah mengetahui pasti perkataan Camela ada maksud dan tujuannya.
"Kita harus hancurkan rumah tangganya. Aku tau Ben kalau kamu juga terobsesi pada Via kan, jadi ini adalah kesempatan emas untuk kita berdua." Kata Camela.
"Menurutmu kita masih memiliki peluang untuk mendapatkan Delfa atau Via?" Tanya Beny untuk mengetahui seberapa yakin Camela terhadap misi yang akan mereka berdua lakukan.
"Peluang kita sangat besar Ben, tetapi kita harus memisahkan mereka berdua terlebih dulu." Kata Camela.
"Memisahkan mereka kan memang tujuan kita." Kata Beny.
"Tujuan kita adalah mendapatkan mereka Beny, memisahkan hanyalah tahap awal." Camela mengeluarkan seringai jahatnya.
"Aku tidak mau! Misi ini hanyalah akan menjadi hal yang sia sia. Mereka terlihat saling mencintai." Beny menolak penawaran Camela. Entah kenapa Beny seakan tidak yakin kalau misi yang akan dilakukan itu berhasil. Beny sadar diri kalau Delfa dan Via bukan hanya dipersatukan oleh cinta saja, tetapi juga kekuatan dari batin anak mereka.
"Kamu harus mau." Kata Camela dengan tegasnya.
Beny menangakap sinyal bahaya dari kalimat Camela. Beny sangat kesal sekali kenapa Ia harus bertemu dengan Camela yang menurutnya adalah wanita gila. Kepintaran dan keuletan Camela memang belum bisa tertandingi siapapun sehingga posisinya masih bertahan sampai saat ini.
"Itu tidak akan berhasil, Camela." Beny berusaha untuk memberitahu Camela.
"Ben, kamu sangat tau kalau aku akan melakukan apapun agar apa yang aku inginkan terkabul. Berhati hatilah untuk menolak permintaan aku." Kata Camela dengan nada mengancam.
***
Beny berjalan gontai saat menuju kamar hotelnya. Entah kenapa hari ini sangat melelahkan baginya. Dirinya yang terlalu berlebihan memikirkan keadaan Cesil dan juga malapetaka pertemuaannya dengan Camela.
Beny membuka pintu kamar hotelnya lalu melepaskan jas dan sepatu beserta kaos kakinya. lalu berjalan kearah Cesil yang masih tertidur di kasurnya.
Beny menidurkan dirinya di samping tubuh Cesil lalu memeluknya dari belakang seakan Beny menumpahkan rasa lelahnya pada Cesil yang sedang damai dalam tidurnya.
Cesil yang merasa terganggu pun akhirnya terbangun dari tidurnya. Cesil merasakan tangan berat Beny yang sedang memeluknya, lalu setelah itu Cesil membalikan tubuhnya kearah Beny.
"Kamu kenapa, Ben?" Cesil adalah sahabat Beny sejak kecil. Cesil sangat mengetahui kalau Beny sedang dalam suasana yang tidak baik saat ini
Cesil menelusuri wajah Beny yang terlihat lelah juga kerutan dahi yang tampak terlihat jelas saat ini. "Jangan tinggalin aku, Sil." Kata Beny dengan nada memohon.
Beny tersadar alasan dirinya takut akan kematian Cesil adalah karena dirinya merasa Cesil adalah teman hidup Beny selama ini. Cesil yang menemani Beny dalam pertumbuhan dan perkebangan seoranv Beny kecil hingga Beny yang sekarang.
Selama perjalanan menuju hotel Beny merenungkan kehidupannya selama ini dan disetiap masalahnya ada Cesil yang selalu membantunya.
Tanpa disadari oleh Beny sebelumnya, kalau tawaran kesepakatan dengan Camela sebenarnya tidak Ia inginkan dan alasan terbesarny adalah karena Cesil. Otaknya saat itu dipenuhi oleh Cesil.
"Ben, kamu kenapa?" Tanya Cesil sekali lagi.
"Kamu mau engga untuk percaya sama aku. Apapun yang aku lakukan setelah ini, semuanya demi kebaikan kamu. Aku janji Sil, aku akan berusaha jaga kamu mulai sekarang." Kata Beny pasa Cesil.
Kamu jangan pernah tinggalin aku, Sil. Aku engga butuh siapa pun lagi, yang aku butuh cuma kamu." Lanjut Beny.
Cesil hanya diam karena merasa bingung dengan perilaku Beny. Beny yang sangat berbeda dengan Beny sebelumnya. Jujur saja, tanpa Beny mengatakan hal itu, Cesil percaya kalau Beny akan selalu menjaga dirinya walaupun caranya kemungkinan salah.
Cesil menjadi bertanya tanya, sebenarnya apa yang terjadi selama Ia melakukan pertemuan tadi, bukankah hanya pertemuan bisnis? apakah Beny diambang kebangkrutan sampai dirinya tampak putus asa seperti ini?
"Udah ya, aku percaya semua yang kamu bilang. Sekarang kamu mending istirahatin diri kamu. aku bersihin tangan kaki kamu yaa." Cesil ingin beranjak dari kasur tersebut untuk mengambil air hangat dan handuk, tetapi di cegah oleh Beny.
"Kalau kamu sudah engga ngantuk lagi, kamu nonton film aja atau baca buku novel atau apapun setidaknya aku bisa peluk kamu." Kata Beny lalu mengeratkan pelulannya pada Cesil sebelum Ia memejamkan matanya.
________
Hello pembaca cerita Anster
Mulai ada titik terang ya sikap Beny ke Cesil di part ini.
semoga kalian sukaa dan terima kasih sudah baca yaaa
Salam sayang, Anster
#27/10/20