Lifeless Wedding

Lifeless Wedding
Beny Peduli?



"Kalau kamu sudah engga ngantuk lagi, kamu nonton film aja atau baca buku novel atau apapun setidaknya aku bisa peluk kamu." Kata Beny lalu mengeratkan pelukannya pada Cesil sebelum Ia memejamkan matanya.


Cesil merasa perilaku Beny sangat aneh karena berbeda dari biasanya. Bahkan Beny yang dulu adalah sahabatnya pun kalau berkeluh kesah tidak sampai seperti ini.


Cesil yakin Beny mengalami masalah lain selain masalah pekerjaannya. Cesil tau kalau masalah pekerjaan tidak punya andil keras dalam perubahaan mood seorang Beny.


Disamping hal itu, Cesil senang dengan keinginan Beny yang akan selalu menjaga dirinya dan juga larangan bagi Cesil untuk pergi dari sisi Beny. Seperti ada kebahagiaan yang mulai terlihat dalam pernikahannya dengan Beny.


Aku ikutin mau kamu. Bukan ber-drama di depan banyak orang saja tapi aku juga akan ber-drama menjadi suami yang baik di depan kamu asal kamu mau menuruti semua perintahku.


Harapan akan kebahagiaan itu sirna saat mengingat pesan yang diberikan Beny saat itu. Cesil berusaha menyadarkan dirinya jika semua perlakuan baik Beny hanyalah drama yang dibuat dengan sengaja.


Air mata Cesil kembali menetes, sedih sekali harus mengingat kenyataan itu. Pelukan dan perkataan manis Beny hari ini mungkin sebenarnya bukan ditujukan kepada Cesil. Betapa menyakitkan fakta itu untuk di terima.


Melihat Beny yang sudah tertidur lelap dengan wajah yang terlihat tenang dan damai, membuat Cesil mengingat hari pernikahan dirinya.


Hari terakhir Cesil mengandung.


Hari dimana Cesil dengan kesedihannya di kamar mandi sambil mengatakan dirinya akan menghilangkan janin di dalam rahimnya.


Dan ternyata, setelah hari itu, Cesil benar-benar kehilangan calon buah hatinya.


Betapa menyesalnya Cesil mengatakan hal itu, kejadian itu membuat Cesil percaya bahwa saat seorang wanita sudah menjadi Ibu atau calon Ibu, perkataan yang keluar dari mulutnya adalah sebuah doa.


***


"Sil, kayanya aku perpanjang waktu disini deh. Soalnya kerjaan aku belum selesai." Kata Beny disela makan malam bersama Cesil di restoran seberang Hotel.


"Oke." Kata Cesil dengan singkat.


Cesil rasanya tidak mau menaruh harapan tinggi pada Beny lagi. Saat Beny tertidur dengan pulasnya, Ia sempat memanggil nama Via dengan nada berbisik tetapi Cesil jelas mendengarnya.


Beny merasa heran dengan sikap Cesil, tetapi dia memilih untuk tidak memusingkan sikap Cesil tersebut karena dirinya menghindari pertengkaran dengan Cesil.


Masalah pekerjaan dan masalah Camela sudah cukup menguras emosi dan pikiran Beny, dan tidak muna Beny membutuhkan Cesil sebagai sandaran saat ini.


"Nanti pas sampe Hotel kita langsung kemas barang ya." Kata Beny.


Cesil berhenti memotong daging karena terkejut dengan perkataan Beny. "Kamu bilang diperpanjang." Tanya Cesil.


"Kita pindah ke apartemen aja, kayanya lebih nyaman dan biar kamu bisa masak juga." Kata Beny.


"Bener sih." Jawab Cesil.


"Engga ada yang mau kamu tanyain, Sil?" Beny menanyakan itu karena biasanya Cesil banyak sekali mengeluarkan pertanyaan di kepalanya, tetapi sekarang tidak.


"Engga ada." Kata Cesil tanpa melihat kearah Beny.


Tidak ada lagi perbincangan antara Beny dan Cesil. Mereka menyantap makanan masing-masing. Beny bukan orang yang penyabar, Ia tidak mau membuat topik lagi untuk berbicara dengan Cesil yang akhirnya tidak mendapat tanggapan positif dari Cesil.


Makanan Beny sudah habis, tetapi makanan Cesil masih ada setengah porsi lagi. Beny hanya diam sambil sesekali memperhatikan meja lain yang disekitarnya.


Tatapan mata Beny terhenti pada satu pemandangan dimana memperlihatkan satu pasangan yang tampak bahagia. Wanita hamil yang tersenyum bahagia melihat Suaminya berkomunikasi dengan perut buncit istrinya.


Beny tetaplah manusia yang memiliki hati. Beny sedih melihat kebahagiaan dari keluarga kecil tersebut. Beny juga merasakan rasa kehilangan calon anaknya, bukan hanya Cesil.


Rasa itu timbul saat pertama kali Ia membawa Cesil yang pingsan di malam pertamanya. Beny sangat panik dan berharap calon anaknya baik baik saja, tetapi takdir mengatakan yang sebalinya.


Beny merasa sangat menyesal saat kehilangan calon anaknya. Beny menyesal sudah menolak-nya sejak awal. Beny menyesal belum merasakan tangannya mengelus perut rata Cesil.


Terlalu banyak penyesalan yang hanya Ia pendam sendiri. Ia membentengi dirinya dengan berusaha seperti Beny yang kejam pada Cesil untuk menutupi kesedihannya. Beny sangat kehilangan.


"Ah, kenyang banget." Desah Cesil setelah menyelesaikan suapan terakhirnya.


Lamunan Beny buyar akibat perkataan Cesil dan Beny tidak menyadari kalau sepasang suami dan istri tadi sudah tidak berada di meja makannya.


"Kamu ngeliatin apa sih Ben, kayanya seru banget, sampe kaget gitu." Tanya Cesil sambil melihat ke sekeliling Restoran.


"Ah, engga kok." Kata Beny.


"Masih mau nambah makanan?" Tanya Beny untuk mengalihkan pembicaraan.


"Kan aku bilang aku kenyang, masa mau nambah lagi." Kata Cesil menjawab pertanyaan Beny.


Beny menggaruk tenguk kepalanya yang tidak gatal.


"Kayanya kamu cape deh, kita balik ke Hotel, yuk!" Cesil berdiri dan setelah itu menarik tangan Beny untuk ikut berdiri juga sehingga mereka bisa cepat kembali ke Hotel.


***


Beny dan Cesil berjalan kaki di trotoar menuju ke jembatan penyebrangan untuk ke Hotel tempat mereka menginap.


Beny dan Cesil saling bungkam sambil menikmati angin malam yang disertai bunyi mesin kendaraan yang berlalu lalang.


"Kamu udah engga marah?" Tanya Beny untuk menghancurkan keheningan antara dirinya dan Cesil.


"Engga ada yang marah." Jawab Cesil dengan nada dingin. Sejujurnya Cesil hampir lupa jika tadi dirinya marah atas kelakuan Beny memanggil nama Via itu.


"Maafin aku ya. Walaupun aku engga tau sih aku salah apa." Kata Beny dengan nada lembut.


"Kalau kamu engga merasa ngelakuin kesalahan, kenapa minta maaf?" Tanya Cesil yang membuat Beny bingung ingin menjawab apa.


Beny diam cukup lama memikirkan kesalahan apa yang sudah Ia lakukan. Beny melebarkan kedua matanya karena terkejut akan ingatan yang terlintas di otaknya.


"Aku pas tidur bikin sakit perut kamu ya?" Tanya Beny dengan terkejut.


"Engga. Udahlah Ben, aku gapapa. Engga ada yang salah juga." Cesil menatap Beny berusaha meyakinkan Beny sambil memberikan senyum terpaksanya.


Cesil harus sadar diri, dirinya hanya sebatas sahabat masa kecil bagi Beny dan cinta Beny hanya untuk Via. Percuma jika Beny tau penyebab Cesil marah, kemungkinan nanti Beny hanya menertawakan Cesil, merendahkan Cesil, atau hal lainnya yang membuat Cesil semakin sakit hati.


"Kalau aku engga salah, seharusnya kan kamu engga kaya gini sikapnya." Kata Beny


"Sejak kapan sih kamu peduli sama perasaan aku? Udah ya, engga usah dipikirin lagi akunya." Kata Cesil sambil tertawa kecil.


-------------------


**Halo semuanya


makasih ya udah mau bacaa


maaf up nya lamaa


semoga sukaaa


Salam sayang, Anster


#09/11/20**