Lifeless Wedding

Lifeless Wedding
Pelayan Hotel Ganteng



"Aku tinggal kerja, kamu jangan melakukan hal yang tidak perlu!" Kata Beny dengan nada memerintah.


"Kalau menurutmu tidak perlu tapi menurutku perlu, boleh aku lakukan berarti." Jawab Cesil.


Pikiran Beny tidak pernah jernih jika perkataan Cesil seperti itu. Beny berpikir bagaimana jika hal yang diperlukan oleh Cesil adalah hal yang bersangkut pautan dengan kematian secara bunuh diri.


Astaga Beny tidak bisa membayangkan bagaimana nanti dirinya saat selesai urusan pekerjaan dan menemukan Cesil terkapar berlumuran darah disekelilingnya.


Beny pasti akan menjadi saksi atau bahkan tersangka dan sudah dipastikan itu bukanlah urusan yang mudah untuk ditangani.


Oh iya, jangan lupa dengan status Dudanya itu. Entah mau ditaruh dimana nanti mukanya jika menjadi Duda yang ditinggal mati setelah satu minggu pernikahan. Malu sekali pasti.


"Jangan membuatku ingin memborgol kedua tanganmu di pinggir ranjang supaya kamu tidak bisa melakukan apa apa, Sil!" Kata Beny dengan geram.


"Sebenarnya yang ada di otak kamu tentang aku itu apa? kenapa kamu seperti takut sakali aku melakukan hal buruk?" Tanya Cesil dengan nada bingung.


Cesil berpikiran hanya sebatas menonton film dengan makanan yang berserakan tanpa Ia mau membersihkannya, atau Ia karaoke sambil berloncatan di atas kasur, atau hanya tidur tetapi tanpa busana. Cesil memerlukan waktu yang bisa dibilang gila untuk dirinya sendiri. Tetapi mengapa Beny rasanya terlihat begitu kawatir pada Cesil. Bahkan hanya masalah mandi pun bisa menjadi satu part di dalam sebuah novel.


'Apakah anaknya yang berada di surga menghukum papanya menjadi gila? gila dengan tingkah over protektifnya pada Cesil.' Pikir Cesil.


"Sudahlah kamu ganti baju sana, baju resmi. Karena kamu akan ikut aku untuk menghadiri pertemuan." Kata Beny.


"Tidak mau. Enak saja, aku tidak mau ikut dalam perbincangan yang aku tidak tau maksud dan tujuannya." Kata Cesil menolak.


"Sekarang!" Beny tetap pada pendiriannya untuk memerintah Cesil.


"Kamu belum jawab aku. Kenapa kamu jadi takutan kaya gini untuk ninggalin aku sendiri?" Cesil sudah mulai berkata dengan nada kesalnya.


"Kamu takut aku terlarut dalam kesedihan kalau aku sendiri? Ben, sadarlah, apa peduli kamu kalau aku sedih sih?" Kata Cesil lagi.


"Sil, ayolah! aku tidak memiliki banyak waktu." Kata Beny dengan geram karena menurutnya Cesil terlalu banyak melontarkan pertanyaan pada Cesil.


"Ben, cepat kamu berangkat dan aku tetap di kamar ini. Aku janji aku hanya tidur sampai kamu selesai rapat." Kata Cesil dengan nada lebih halus.


"Aku lelah Ben, aku ingin tidur." Kata Cesil lagi.


"Bagaimana aku bisa percaya kalau kamu sedang tidur?" Tanya Beny pada Cesil.


Cesil memikirkan cara apa yang akan dilakukan untuk membuktikan Beny bahwa dirinya benar akan tertidur nanti. Saat ini mereka sedang berbicara di daun pintu kamar hotel, sehingga Cesil mencari caranya dengan melihat lihat ke sekelilingnya.


"Oh! Mas, boleh kesini sebentar?" Cesil melihat ada lelaki muda dengan muka yang termasuk tampan dengan setelah pakaian hotel jadi sudah dipastikan itu adalah pelayan hotel disitu.


"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?" Kata Pelayan tersebut yang tertulis nama di dadanya bernama Romi.


"Mas Romi, jadi gini, maaf merepotkan ya sebelumnya. Suami saya ini kan mau berangkat kerja sedangkan saya mau tidur. Boleh ga kalau kamu temani saya di dalam lalu kalau kamu melihat saya sudah pulas, kamu Videoin saya dan kasih video itu ke suami saya." Kata Cesil.


"Eh, tidak ada seperti itu." Kata Beny menolak perkataan Cesil.


"Loh, kamu bilang tadi perlu bukti kalau aku benar benar tidur." Kata Cesil.


"Yasudah, aku percaya kamu benar benar akan tidur nanti." Kata Beny.


"Nah kalau gitu kan enak." Kata Cesil.


"Hati hati." Kata Cesil.


Beny tidak juga beranjak dari tempatnya berdiri.


"Terus kenapa masih diam disini kalau mau berangkat sekarang?" Tanya Cesil pada Beny.


"Dia aja masih disini." Kata Beny menyindir Romi.


"Maaf Bu, untuk yang Ibu bilang tadi jadi atau tidak ya?" Kata Romi pada Cesil.


"Apakah kamu tidak mendengar kalau itu tidak jadi?" Kata Beny dengan ketus.


"Maaf Pak, Bu, kalau begitu saya permisi." Kata Romi melangkah menjauh dari Beny dan Cesil.


"Yah padahal ganteng tuh tadi dia, harusnya kamu setuju aja kalau dia temani aku tidur." Kata Cesil tanpa sadar.


"Iya, sekalian saja kamu membuat anak baru bersama dia." Kata Beny dengan nada tidak suka.


"Udah deh ya, mendingan kamu berangkat sekarang daripada perkataan kamu semakin bikin aku sakit hati." Kata Cesil sambil mendorong perlahan tubuh Beny.


Apakah Beny masih belum sadar kalau percakapan yang membahas tentang anak adalah percakapan yang sensitif untuk Cesil saat ini. Menurut Cesil, Beny benar benar tidak memiliki hati.


Tanpa melihat kepergian Beny, Cesil langsung berbalik badan dan jalan ke arah kasur lalu membaringkan tubuhnya disana. Biarlah Beny yang menutup pintunya, lagi pula sebelumnya Beny sudah berpamintan dengan Cesil.


***


Cesil yang meninggalkan dirinya di daun pintu kamar hotelembuat Beny berpikir, sebelumnya Cesil hanya ingin tidur dan kemungkinan besar hal itu benar. Tetapi, Beny yang memperkeruh suasana hingga akhirnya Ia harus meninggalkan Cesil sendirian di kamar dengan hati yang terluka akibat perkataannya.


Jujur saja, Beny sudah terbawa emosi karena Beny tidak suka cara Cesil memanggil pelayan hotel tersebut lalu setelah itu memuni pelayan itu. Beny sangat kesal dengan pemikiran Cesil.


Beny menolak jika julukan Beny cemburu terngiang di dalam otaknya. Beny tidak cemburu, Beny hanya takut jika ternyata orang itu adalah orang jahat yang bisa dengan mudahnya merampok atau melalukan tindakan kriminal pada Cesil. Beny kesal dengan Cesil karena Cesil dengan mudahnya mempercayakan keamanan diriny pada orang asing dan lagi untuk alasan yang tidak jelas.


Menurut Beny, Cesil bisa saja melakukan cara lain seperti contohnya video call dengan Beny sampai dirinya benar benar tidur pulas. Tetapi Cesil lebih memilih cara yang ribet, tidak praktis, dan sangat amat membahayakan.


Beny memikirkan itu semua sembari jalan menuju pintu keluar hotel dan mencari taksi untuk menghantarkannya ke kantor rekan kerjanya.


"Kalau dipikir, kenapa aku sangat takut akan kematian Cesil ya? Ya memang, aku tau jawabannya. Jawabannya adalah karena aku sudah terlanjut sayang dengannya sebagai sahabat sejak kecil. Rasa sayang itu tidak akan pernah hilang dan tergantikan dengan sayang dalam bentuk yang lain." Kata Beny bermonolog.


"Biarlah aku menunjukan sisi sayangku pada Cesil untuk sementara waktu ini. Dengan harapan Cesil kembali pulih total dan aku tidak perlu terlalu kawatir lagi dengan kondisi kesehatannya. Dengan begitu, aku biaa kembali melakukan hal apapun padanya." Kata Beny ambigu—entah maksud baik atau buruk.


----------


Okey guys update malem malem lagi nih.


Terima kasih yang masih setia baca


semoga selalu suka yaa


Salam sayang, Anster.


#21/10/20