
"Kamu ngapain berdiri doang?" Beny meilihat Cesil yang hanya berdiri sambil memandanginya.
Cesil terkejut. Bukan hanya karena lamunannya buyar, tetapi karena penggunakan kata panggilan untuknya tidak kembali kasar.
"Aku engga tau kamu bolehin Aku tidur dimana." Cesil mencuri-curi pandangan menatap Beny karena Ia merasa sedikit takut.
Cesil tidak ingin gegabah dan menjatuhkan dirinya di tempat yang salah. Cesil berusaha menjalin hubungan yang baik pada Beny di awal pernikahan mereka.
"Engga usah lebay, kamu udah pasti tidur di kasur." Ucap Beny malas.
"Terus kamu sendiri tidur dimana?" Tanya Cesil.
"Dikasur juga. Sebelum nikah aja udah seranjang, masa udah nikah malah pisah ranjang. Otak dipake Sil!" Kata Beny.
Lagi dan lagi Beny keluarkan kalimat yang menyakitkan. Cesil heran, apakah tidak bisa Beny mengakhiri kalimatnya sampai pada 2 kata terakhir–pisah ranjang–
"Iya-iya maaf." Cesil berjalan menghampiri Beny yang sedari tadi membaringkan tubuhnya di kasur.
Sebenarnya saat ini Cesil sangat menginginkan nasi goreng tektek. Sepertinya berasal dari keinginan calon anaknya. Tetapi sebisa mungkin Cesil harus manahan untuk mengabulkannya. Disamping Ia tidak ingin merepotkan Beny dan tidak yakin Beny akan mau menurutinya, Ia juga mengerti kalau sekarang mereka masih berada di hotel dan sulit sekali akses mencari pedagang nasi goreng.
"Kamu engga usah nunggu aku apa-apain. Jadi tidur gih!" Perintah Beny yang membuat Cesil malu.
'Mengapa Beny memojokannya seperti itu, sedangkan Ia tidak kepikiran akan hal itu sama sekali' Pikir Cesil
"Belum ngantuk." Jawab Cesil ketus. Sebenarnya jarang sekali Cesil mengeluarkan nada seperti itu setelah mereka resmi dijodohkan, tetapi sepertinya ini faktor dari kehamilannya.
"Jawaban nyolot banget tuh! mulai berani?" Beny yang sebelumnya hanya sibuk dengan laptopnya menoleh dengan tatapan tajam.
Seketika nyali Cesil menciut. Cesil tidak sengaja berkata semenyebalkan itu walaupun sebenarnya masih batas wajar.
"Maaf Ben, Aku kelepasan." Ucap Cesil.
"Nyolot lagi, gua hajar lu!" Beny mengancam Cesil.
Cesil hanya bisa bungkam. Tidak sadarkan Beny jika dirinya sedang mengandung, jika Beny membuatnya sakit hati otomatis janinnya akan merasakannya.
Cesil duduk membelakangi Beny. Menahan air matanya terjatuh karena ini bukanlah saat yang tepat untuk menangis. Cesil mengelus perutnya dengan sayang.
Berharap Ia dapat menenangkan anaknya.
Keinginan Cesil pada nasi goreng tektek semakin menjadi. Cesil berusaha memejamkan matanya untuk tidur namun tidak bisa.
Cesil menoleh perlahan untuk melihat Beny, memastikan apakah Beny sudah pulas atau belum.
Dan ternyata pandangannya dengan Beny bertemu.
"Belum tidur?" Nada Beny lebih lembut dari sebelumnya.
Sebenarnya Cesil sedikit bingung kenapa Beny dapat mengubah mood nya secepat itu sedangkan dirinya kalau boleh jujur masih sangat kesal dengan Beny.
"Ben, aku boleh keluar hotel ga?" Cesil sudah tidak bisa lagi menahan keinginan calon anaknya.
"Boleh." Kata Beny tanpa berpikir lama.
"Wah, makasih Mas Beny!" Cesil girang saat mendapatkan ijin dari suaminya.
"Jangan lupa bawa kartu akses nya!" Ucap Beny.
"Siap Bos." Cesil segera mengganti piyama nya menjadi dress panjang.
Cesil menyampirkan kardigan nya sebelum Ia meninggalakan kamar hotel.
***
"Aduh, kenapa kalau dicari tukang nasi goreng susah banget ya. Padahal biasanya ada dimana-mana." Kata Cesil sambil berjalan di sekitar hotel sambil beralaskan sendal jepit di kakinya.
"Sabar ya sayang, mama pasti dapet nasi gorengnya." Kata Cesil sambil mengusap perutnya.
Cesil sudah berkeliling cukup lama dan tidak mendapatkan nasi goreng itu. Akhirnya dengan berat hati Cesil memutuskan untuk bertanya pada warga sekitar.
"Permisi, Saya mau tanya, tukang nasi goreng tektek dimana ya, Pak?"
"Eh cantik, malem-malem gini nyari nasi goreng. Engga mau nyari abang aja?" Ternyata Cesil bertanya pada orang yang salah.
Jujur saja Cesil takut sekarang. Di pinggi jalanan yang sepi dan bertemu dengan orang seperti ini.
Tanpa mempedulikan orang itu, Cesil berbalik arah dan mempercepat langkahnya untuk menjauh dari orang itu.
Tangannya ditahan.
"Mau kemana? Kita ngobrol-ngobrol aja dulu."
Cesil berusaha melepaskan tangannya dari orang tersebut. Cesil berharap Beny datang menolongnya, tetapi itu adalah hal yang mustahil.
"Heh, ngapain lu berulah di wilayah gua!" tiba-tiba dari arah 1 meter berdirilah laki-laki lain dengan rambut gondrong dan tubuh yang kekar. Jelas lebih menyeramkan dibandingkan bapak-bapak yang menggoda Cesil.
Seperti bapak itu tidak berani melawan Si tubuh kekar , sehingga Ia mengendurkan pegangannya pada tangan Cesil.
Kesempatan itu Cesil gunakan untuk berlari kencang menuju hotel.
Cesil berlari hanya dengan satu tujuan tanpa mempedulikan sekitarnya sampai akhirnya Ia tersandung batu dan jatuh.
Cesil mengesampingkan keinginanya untuk melihat luka yang tercipta. Cesil segera bangkit dan kembali ke hotel.
***
Sesampainya di lift hotel Cesil deru napasnya masih tidak normal, tubuhnya dingin karena ketakutan. Cesil mengigit kuku nya berusaha menenangkan dirinya.
Cesil berusaha membuat tubuhnya normal. Ia takut Beny memarahinya.
Cesil mencari pintu kamar yang bertuliskan nomer kamarnya. Ia membuka pintu tersebut dan menemukan Beny yang masih terjaga sambil berdiri menatao keluar jendela kamar.
"Apa yang kamu dapet Sil?" Tanya Beny sambil menghadap kearahnya.
Cesil hanya tersenyum. Senyum yang dipaksakan, Beny sangat tau itu.
Dahi Beny menyerngit melihat jawaban Cesil. Perlahan Beny berjalan menghampiri Cesil perlahan. Sedangkan Cesil berjalan cepat dan menubrukan dirinya memeluk Beny.
"Sil, Hey, kenapa?" Tanya Beny bingung. Semakin lama Beny merasa tubuh Cesil semakin berat di tubuhnya.
Beny melihat Cesil dan ternyata Cesil memejamkan matanya.
"Cesil, Sil, jangan bercanda. Kamu kenapa?" Beny menepuk pipi Cesil berulang kali tetapi tidak ada jawaban dari empunya.
Pandangan Beny meneliti tubuh Cesil dan Beny terkejut mendapatkan memar pada siku dan lututnya. Tidak hanya siku, lengannya pun ada banyak baretan.
Tanpa berpikir panjang mengenai penyebab Cesil seperti ini, Beny membawa tubuh Cesil ala bridal style
Dan membawanya kerumah sakit.
Selama perjalanan Beny tidak tenang. Beny tidak lupa dengan kondisi Cesil yang sedang mengandung. Walaupun Ia tidak menerima kehamilan Cesil, tetapi Ia masih memiliki hati untuk mengkawatirkan hal itu.
***
"Syukurlah janin nya kuat didalam perut ibunya. Padahal kalau dilihat dari memar yang Ibu Cesil alami, jatuhnya lumayan parah." Kata Dokter pada Beny.
"Hanya saja, Ibu Cesil mengalami ketakutan parah yang mungkin bapak tau penyebabnya." Kata Dokter itu lagi.
"Iya dok, tadi memang sedikit ada masalah yang menimpa dia." Kata Beny mengada-ada.
Beny harus menjaga karisma nya sebagai suami siap siaga di depan dokter.
"Baiklah kalau begitu, mungkin pelukan akan meringankan ketakutan pada Ibu Cesil."
"Terima kasih dokter. Oh iya, apakah Istri saya boleh langsung pulang?" Tanya Beny.
"Boleh pak, nanti bapak bisa menggunakan kursi roda kami untuk membawa Ibu Cesil ke mobil." Dokter menjelaskan.
"Tidak perlu dok, terima kasih." ucap Beny.
"Dok, apakah boleh jika istri saya tidak diberikan obat apapun. Istri saya akan marah jika tau saya membawanya kerumah sakit." ucap Beny lagi yang membuat dokter tersebut sedikit bingung.
Bukan itu alasan sebenarnya. Beny terlalu gengsi jika Cesil tau bahwa Ia mengkawatirkannya. Dan juga Beny tidak ingin direpotkan untuk mengingatkan Cesil untuk meminum obat yang diberikan oleh dokter."
"Beruntungnya Ibu Cesil tidak membutuhkan obat konsumsi apapun. Saya hanya akan memberikan obat oles saja untuk luka nya. Tapi bapak juga tidak boleh lupa untuk mengingatkan Istrinya untuk minum susu hamil dan vitamin kehamilan"
"Baik dokter, terima kasih ya."
---------------------
Hello makasih udah baca cerita ini gesss
Makasih yaa masih tetep setia sama akuh
Salam sayang, Anster.