Lifeless Wedding

Lifeless Wedding
Hanya Drama



Beny menatap nanar undangan pernikahan yang berada dalam genggamannya saat ini. Bukan undangan pernikahannya, tetapi undangan pernikahan orang yang Ia cintai. Undangan yang bertuliskan Via dan Delfa.


Entah cinta atau obsesi yang Beny alami, dia tidak peduli. Via selalu saja mencuri perhatiannya, memikirkan tentang bagaimana cantiknya Via seringkali membuat Beny tidak fokus dengan hal yang sedang Ia lakukan atau kerjakan.


Beny teringat akan kejadian pada saat acara ulang tahunnya. Dimana saat itu adalah kali pertama Via berbicara dengan Beny, ditambah lagi dengan nama panggilan yang Via berikan berbeda dengan orang pada umumnya. Beny merasa spesial saat Via memanggilnya dengan sebutan Ny.


Beny mempunyai keinginan besar untuk menjadikan Via miliknya. Perbincangannya dengan Via tidak ingin disia-siakan begitu saja.Sampai pada kahirnya otak jahat Beny pun berkerja.


Beny memberikan obat perangsang pada minuman Via. Beny sangat ingin Via menjadi miliknya. Tetapi sayangnya, keinginan Beny pupus karena Via terselamatkan oleh seorang lelaki yang Beny tidak ketahui siapa.


Orang misterius itu memukul rahangnya dengan kepalan tangannya sehingga membuat Beny jatuh tersungkur. Saat Beny membalikan tubuhnya untuk melihat siapa orang yang berani menghalangi tindakannya, orang itu sudah hilang membawa Via dalam gendongannya.


Beny menonjok lantai untuk melampiaskan kekesalannya.


***


Cesil sudah tidak meratapi nasib hidupnya belakangan hari ini karena Ia disibuki dengan acara pernikahan sabatnya,Via, yang akan terlaksana dalam beberapa hari lagi.


Semenjak Cesil tau jika Via mengurus pernikahannya tanpa Delfa, Cesil bersedia membantu Via dalam hal apapun, bahkan seringkati pertemuan dengan WO dilakukan oleh nya. Cesil tau jika Via kerepotan mengurus kedua anaknya yang sedang pada masa manja-manjanya.


Saat ini Cesil sedang menikmati es krim vanila kesukaannya dan ditemani oleh drama komedi yang membuat dia tertawa terbahak-bahak. Seringkali es krim yang ia sendokan bukan mendarat pada mulutnya, tetapi pada hidungnya. Hal ini diakibatkan oleh tertawanya yang cukup ekstrim.


Berniat melupakan masalahnya dengan Beny, tetapi hasilnya tetep saja sama. Menonton drama komedi dan es krim dalam porsi besar biasanya tidak dilakukan seorang diri seperti ini, biasanya Ia melakannya dengan Beny.


Pemikirannya tentang Beny, benar-benar merusak suasana hatinya secara drastis. Cesil menutup dengan kasar laptopnya, menyendokan es krim kedalam mulutnya sangat cepat, setelah itu menangis tersedu-sedu. Memang bertingkah sedikit drama menurut Cesil adalah kebutuhan.


Ditengah tangisannya, ponselnya pun menunjukan adanya notifikasi pesan masuk.


Beny


"Buka atau engga ya chat dari dia, males banget nih gua, pasti nyakitin." Kata Cesil menimang tindakan yang akan Ia lakukan.


"Ah, gausah aja deh. Gua kan lagi marahan." Kata Cesil.


"Tapi penasaran banget." Kata Cesil semakin bingung.


"Oke, siapin hati dan pikiran." Kata Cesil yang setelah itu menarik napasnya dalam sebelum menekan ponselnya untuk membuka isi pesan itu.


Beny : kerumah gua sekarang.


"Ih apaansi, kan kemarin udah gua yang samperin kerumahnya, masa sekarang gua juga." Protes Cesil.


Cesil : Ngapain?


Beny : gua suruh lu kerumah gua bukan buat nanya-nanya.


Cesil : lu yang kesini lah, lu yang perlu.


Beny : kok lu nantang?


Cesil : biasanya jg lu yang kesini atau ga lu jemput gua dirumah


Beny : inget tamparan gua kemarin


Cesil : iya otw


Beny : that's my girl


Cesil langsung bergegas mengganti pakaian yang lebih layak untuk pergi kerumah Beny. Cesil cukup takut dengan sikap Beny yang sekarang. Jika dulu, saat Beny masih menjadi sahabatnya, ancaman apapun yang Beny lontarkan, hanya sebuah ancaman saja. Beny tidak akan berani dan tega untuk melakukan ancamannya itu.


"Sabar sil, semua pasti akan ada pelanginya." Kata Cesil meyakinkan dirinya di pantulan dirinya pada cermin.


***


"Oke, gua akan ngomong baik-baik sama lu untuk hari ini." Kata Beny. Saat melihat Cesil, ada sedikit rasa bersalah dalam diri Beny atas tindakannya pada Cesil pada pertemuan terakhir mereka.


"Tadi aja di chat udah begitu." Kata Cesil menyinyir.


"Gua lagi baik, nih." Kata Beny dengan nada memperingati.


"Perjodohan kita gausah lu umbar-umbar." Kata Beny.


"Emang selama ini gua ada umbar apaan?" Kata Cesil. Karena benar saja Cesil belum memberitahu ke siapapun mengnai perjodohan ini.


"Gua engga bilang lu udah umbar, kan?" Kata Beny berusaha menahan marahnya.


"Tapi pertanyaan lu tuh mengintimidasi gua." Jawab Cesil tidak mau kalah.


"Jangan gampang baper makanya." Kata Beny yang membuat wajah Cesil menjadi cemberut.


"Yaudah gua cuma mau ngomong itu, takutnya terlalu seneng lu mau nikah sama gua, mulut lu ember kemana-mana." Kata Beny lagi.


"Udah?" Tanya Cesil dengan heran.


"Ya emang yang lu harepin apa?" Kata Beny dengan nada yang sinis.


"Ben, gua mau nanya, tapi jangan marah atau emosi ya jawabnya." Kata Cesil dengan hati-hati. Cesil menarik napasnya dalam, memberanikan dirinya untuk mengutarakan pertanyaan yang terlintas di dalam otaknya saat ini.


Beny hanya menatap wajah Cesil untuk menunggu pertanyaan apa yang akan disampaikan oleh Cesil.


"Lu berubah kaya gini cuma buat ngerjain gua aja ya?" Tanya Cesil dengan hati-hati sambil mencuri-curi pandang pada Beny.


"Ha? Dari awal kita bahas tentang perjodohan ini, lu tuh pede banget ya sama diri lu sendiri. Gua tanya deh, lu tuh ngerasa dirilu sebagus apa sih, coba jelasin ke gua!" Kata Beny dengan nada sinis serta mencondongkan tubuhnya kepada Cesil.


"Gua tau lu banget,Ben. lu gausah drama kaya gini deh, basi banget, sumpah." Kata Cesil tanpa ada keraguan dan ketakutan.


"Lu pulang aja deh, sana! Cape banget gua ngeladenin lu yang engga jelas kaya gini." Kata Beny pada Cesil sambil menunjuk pintu kamarnya sebagai tanda mempersilahkan Cesil untuk keluar.


"Gua minta maaf kalau pertanyaan gua salah, lagian kan kita udah sepakat tadi buat jangan marah sama pertanyaan gua." Kata Cesil sambil menunduk.


"Gua aja ga jawab apa-apa tadi, kapan sepakatnya?" Kata Beny dengan santainya.


Cesil sangat geram dengan tanggapan Beny padanya. Perlakuan Beny semakin menjadi.


"Pulang sana!" Kata Beny dengan sedikit dorongan pada bahu Cesil.


"Engga mau." Kata Cesil sambil menatap kosong lurus kedepan.


Beny tidak menanggapi perkataan Cesil. Beny menjatuhkan tubuhnya di kasur empuk miliknya sambil memainkan ponselnya.


Cesil tidak tau apa yang harus dilakukan sekarang. Beny mendiaminya, bahkan sekarang Ia menggunakan earphone yang entah digunakan untuk apa. Yang Cesil tau Beny sudah asik sendiri dengan dunianya.


Kalau dihadapamnya adalah Beny-nya yang dulu, sudah dipastikan Cesil sudah menarik paksa earphone  tersebut dari telinga Beny dan Cesil juga akan melompat-lompat di kasur Beny sebagai protes kepada Beny yang mengacuhkannya. Kekanak-kanakan? itulah Cesil, dan Beny yang dulu sangat sabar menuruti semua keingannya.


Cesil dan Beny dalam beberapa menit yang sudah berlalu masih berpegang teguh pada egonya masing-masing. Cesil yang tetap diam memperhatikan setiap hal yang ada didepannya, dan Beny yang asik dengan ponsel pintarnya.


Baru saja Cesil menghadapkan tubuhnya kearah Beny, berusaha melawan egonya untuk memulai mengajak ngobrol Beny, Beny ternyata berkata padanya lebih dulu.


"Ojek online lu udah di luar tuh, namanya Pak Tomi. Oh iya, kalau lu keluar jangan lupa nanti pintu kamar gua ditutup." Kata Beny sambil menaruh ponselnya ke meja di samping tempat tidurnya, lalu menarik selimut menutupi tubuhnya sampai dada.


"Kan gua bilang gua engga mau pulang!" Kata Cesil tidak terima. Beny tidak bergeming atas perkataan Cesil.


"Cesil, ojeknya udah dateng tuh!" Terdengar suara dari luar kamar Beny dan sudah dipastikan itu adalah suara dari Mamanya Beny, Sinta.


"Gua benci banget sama lu Beny!" Kata Cesil dengan sangat kesal. Cesil langsung menyambar tasnya dengan kasar dan bergegas keluar dari kamar Beny.


----------------------------------------------------------


YEYA KALIAN PEMBACA ANSTER!


SENENG BANGET BISA UPDATE.


MAKASIH YA BUAT DUKUNGAN KALIAN SAMA CERITA AKU YANG BARU INI. MAAF BANGET KALAU UP NYA ENGGA CEPET YAAA


Salam sayang,


Anster