
2 minggu kemudian..
Seminggu pertama Beny tinggal bersama Cesil di apartemen Cesil, setiap harinya membuat Cesil bahagia. Beny nya sudah kembali, Beny yang sangat mengerti dirinya, Beny yang selalu sabar menghadapi sifatnya yang kekanak-kanakan.
Tinggal bersama sebagai calon suami dan istri tidak mungkin hanya melakukan aktivitas seperti biasa saja dan tidak lebih.
Sejak malam pertama Beny menginap, mereka sudah melakukan hubungan suami dan istri. Dimulai ketika mereka sedang menonton film bersama di kasur Cesil dan tangan nakal Beny mulai beraksi sehingga terjadilah kegiatan tersebut.
Tetapi seminggu setelahnya, Beny menghilang tanpa memberinya kabar. Beny juga tidak berpamitan kepada Cesil dia akan pergi kemana. Saat Cesil bangun dari tidur dan tidak menemukan Beny di sampingnya.
Cesil tiap harinya menunggu kepulangan Beny. Berharap Beny kembali dan mengatakan jika menghilangnya dia dikarenakan Ia akan memberikan kejutan kepada Cesil. Namun, semakin hari dan semakin lama Cesil menunggu, Cesil yakin jika pemikiran tersebut adalah mustahil.
Karena Cesil stres memikirkan Beny, napsu makannya pun bertambah. Apapun makanan yang Ia inginkan, langsung Ia beli dengan porsi yang cukup besar. Tubuh Cesil yang kelewat kurus pun berangsung menjadi ideal atau bahkan sedikit berlebih.
Sebenarnya Cesil sedikit heran dengan perubahan di tubunya karena selama ini Ia sangat sulit sekali untuk menambah berat badannya.
"Pasti gua mau datang bulan deh makan gua jadi banyak gini." Kata Cesil saat melihat pantulan tubuhnya di kaca.
"Eh, kok tumben sin datang bulan gua jaraknya lama banget." Cesil heran dan langsung mengambil ponsel nya untuk memeriksa kembali kapan terakhir jadwal datang bulannya.
"Hah gila, udah telat berapa hari nih!" Cesil menepuk jidatnya dan kembali ke kaca.
***
Saat ini Cesil sedang menunggu hasil dari alat pendeteksi kehamilan yang Ia beli menggunakan aplikasi ojek online.
Cesil mendengar suara ketukan pintu apartemennya dan dengan segera Ia menggunakan celananya kembali setelah itu keluar untuk membuka pintu tersebut.
"Beny?" tanya Cesil heran saat melihat tamu nya adalah Beny.
"Ah lama lu, gua mau ketoilet nih" Kata Beny bergegas masuk dan sedikit mendorong tubuh Cesil agar ia bisa masuk.
Cesil menutup pintu dan setelah itu Ia kedapur untuk membuatkan minum yang akan Ia berikan pada Beny.
Setelah Cesil sampai di dapur, Cesil terburu-buru kearah wastafel untuk memuntahkan sesuatu. Ia tidak tau kenapa karena tiba-tiba saja merasa mual.
Karena Cesil sudah makan cukup banyak, jadi muntahan yang keluar tidak hanya air saja seperti orang pada umumnya.
"Sil, kamu hamil?" Kata Beny dengan tiba-tiba berada dibelakang Cesil.
"Aku engga tau." Jawab Cesil yang setelah itu Ia memuntahkan isi perutnya lagi.
"Ini apa?" Tanya Beny sambil menunjukan alat pendeteksi kehamilan yang tadi Cesil gunakan.
"Jadi aku beneran hamil?" Kata Cesil sambil bersandar di dinding dekat wastafel karena jujur saja Ia tidak tau harus senang atau sedih.
"Kita engga bisa" Kata Beny pada Cesil.
"Maksud kamu?" Cesil memandang Beny dengan tidak percaya dan penuh tanya.
"Aku engga cinta sama kamu, gimana aku bisa cinta sama anak itu nanti?" Kata Beny dengan nada frustrasi.
"Kamu engga bisa kaya gitu, Ben." kata Cesil dengan air mata yang mulai menetes.
"Kalau kamu mau aku cinta sama kamu dan kembali jadi Beny yang dulu, syaratnya adalah kamy harus gugurin kandungan kamu." Kata Beny.
"Gimana aku bisa sayang sama hal yang engga aku terima." kata Beny.
"Kamu udah gila, Ben. Kamu pengecut tau engga!" Kata Cesil sambil menunjuk dada bidang Beny.
"Udahlah sil, gausah kebanyakan drama. Sekarang lu pilih gua atau dia?" Dagu Beny menunjuk kearah perut Cesil.
"Tapi kita engga bisa batalin pernikahan kita karena itu akan berdampak besar sama keluarga aku,Ben. Tolong.." Kata Cesil dengan nada lirih.
Dari perkataan Cesil yang memohon pada Beny, Beny sudah tau jawaban Cesil yaitu Cesil akan tetap mempertahankan kandungannya.
"Pernikahan kita akan tetap berlangsung. Tapi pilihannya adalah lu mau gua baik atau jahat sama lu?" kata Beny dengan geram.
Cesil hanya diam karena Ia merasa kehidupannya setelah ini tidak akan baik karena bagaimanapun keadaannya Ia tidak bisa mengilangkan nyawa yang mulai tumbuh di rahimnya.
"Kok diem? Oke gua bantu lu mikir nih. Perjodohan kita tetap berlangsung dan itu adalah kemauan lu. Sekarang, harusnya, kita timbal balik. Lu penuhin kemauan gua dengan gugurin kandungan lu. Setelah itu, kita akan bahagia karena gua akan baik sama lu. Gampang kan?" Kata Beny dengan nada lembut.
"Aku engga sanggup buat gugurin kandungan aku dan aku gamau." Kata Cesil.
"Nah, lu lebih pilih kandungan lu kan dibanding gua. Katanya lu sayang gua, bahkan cinta. Mana buktinya? Gua butuh bukti!" Kata Beny.
"Perhatian aku selama ini sama kamu, kesabaran aku buat ngadepin kamu, bahkan aku kasih semua ke kamu, apa itu engga cukup?" Kata Cesil.
"Engga, karena menurut gua saat lu bilang cinta sama gua, apapun lu lakuin demi kebahagiaan gua dong atau bahkan kebahagiaan lu juga." Kata Beny.
"Ben, tolong, kamu jangan takut buat ngomong sama orang tua aku, mereka pasti ngerti." Cesil menebak jika penolakan Beny hanyalan rasa takut Beny untuk mengatakan pada orang tua Cesil.
"Lu pikir gua secupu itu? Udahlah, udah jelas juga kalau lu milih gua jahat sama lu. Oke, urusin tuh anaklu! Jangan sekalipun lu suruh gua hal apapun yang bersangkutan dengan anak itu karena haram bagi gua buat lakuinnya. Ngerti?" perkataan Beny amat sangat menyakitkan hati Cesil. Cesil berdoa supaya calon anaknya tidak merasakan sakit dihatinya.
"Jawab! Ngerti engga?" Kata Beny sambil mengangkat rahang Cesil agar menatapnya.
"Ngerti Ben." Kata Cesil dengan nada lemah.
"Bagus, sampe ketemu di hari pernikahan karena gua jijik banget buat ngeliat muka lu." Kata Beny.
"Dan satu lagi yang harus lu tau dan lu pikirin jadi beban pikiran lu adalah seminggu kemarin gua kerja, gua cape, dan gua berharap saat gua balik gua bisa sayang-sayangan sama lu dan rasa lelah gua terbayarkan. Tapi apa nyatanya, lu malah ancurin semua itu." Kata Beny sebelum Ia meninggalkan Cesil.
Cesil merasa hatinya diremukan sampai hancur dan sulit diperbaiki.
"Tuhan, mengapa mencintai sesakit ini rasanya.." Kata Cesil dengan lirih.
------------------------------------------------
Halo pembaca Anster ❤
Makasih yaaa mau setia nunggu cerita ini.
Makasih udah bacaaa
XOXO,
ANSTER