
"Kalau aku engga salah, seharusnya kan kamu engga kaya gini sikapnya." Kata Beny
"Sejak kapan sih kamu peduli sama perasaan aku? Udah ya, engga usah dipikirin lagi akunya." Kata Cesil sambil tertawa kecil.
"Aku lagi engga mau emosi loh sama kamu." Kata Beny berubah menjadi dingin.
"Aku udah minta engga usah pikirin aku kan, karena aku tau pasti kamu bakal emosi sendiri." Jawab Cesil.
"Makanya kalau engga mau jadi begini, pilihkan kamu tuh dua. Kasih tau kamu kenapa atau bersikap normal kaya biasanya." Kata Beny.
"Iya, oke, aku salah." Kata Cesil memilih mengalah.
"Ah kamu nambah beban aku aja." Kata Beny dengan nada kesal dan berjalan lebih cepat mendahului Cesil.
"Ben jangan buru-buru. Aku engga bisa lari." Kata Cesil dengan nada keras supaya terdengar oleh Beny.
Beny teringat jika Cesil masih dalam tahap pemulihan. Beny menghentikan langkahnya lalu membalikan tubuhnya kearah Cesil.
"Tunggu sini, aku ambil mobil." Kata Beny saat Cesil jaraknya sudah dengan dirinya.
"Gila kamu ya, ini kita tinggal nyebrang aja kenapa aku harus tunggu kamu jemput pake mobil?" Kata Cesil dengan terkejut.
"Kamu lelah, Sil." Kata Beny. Cesil bertanya pada dirinya sendiri mengenai sikap Beny yang mudah sekali berubah dari baik ke jahat dan ke baik lagi, begitu pun seterusnya.
"Aku baru selesai makan, tadi juga udah istirahat. Jadi, aku kuat." Kata Cesil. Sedikit rasa bahagia karena Beny menunjukan perhatiannya.
"Oke, kita jalan pelan-pelan ya." Kata Beny sambil menarik tangan Cesil untuk digandeng.
***
Cesil dan Beny sedang menonton Film yang menemani mereka yang masih terjaga karena tidur siang yang terlalu lama.
Sebuah Film romantis dengan akhir sedih karena wanita di Film tersebut mengakhiri hubungan dengan calon suaminya dengan cara meninggalkan dunia. Wanita itu meninggal karena insiden kecelakaan tunggal saat dirinya menyetir di malam hari.
Cesil sudah menangis sesenggukan karena merasa tidak terima dengan akhir kisah cinta pasangan di Film tersebut.
"Ben.." Saat tangisannya mereda, Cesil memanggil Beny yang sejak Film selesai dirinya sudah mulai sibuk dengan ponselnya.
"Ya?" Kata Beny sambil menutup ponselnya dan menruhnya di nakas lalu menatap wajah Cesil.
"Coba aja aku kaya cewe si film itu, meninggal di beberapa hari sebelum pernikahan. Kamu pasti bisa lebih bahagia, engga perlu tersiksa karena nikahin aku." Kata Cesil sambil menahan hatinya yang tiba-tiba sakit mengatakan itu.
"Kenapa ngomong kaya gitu?" Tanya Beny dengan nada tidak suka.
"Kamu engga bahagia, seharusnya aku engga jadi istri kamu." Kata Cesil sambil menundukan kepalanya.
"Kamu suruh orang aja Ben buat bunuh aku." Kata Cesil pada Beny.
"Kamu tuh ya, udah deh engga usah nonton Film romantis lagi kalau kebawa suasana kaya gini." Kata Beny pada Cesil.
"Aku tuh juga kepikiran terus sama hidup kamu yang engga bahagia sama aku, bukan semata-mata kebawa perasaan sama Film." Kata Cesil.
"Apa kalau aku suruh orang bunuh kamu ada jaminan aku bahagia?" Kata Beny dengan nada lembut.
Cesil tidak bisa menjawab.
Kedua kalinya Beny mendengar Cesil berharap nyawanya hilang, sudah cukup, Beny tidak mau hal itu terjadi.
"Lagian siapa tau kalau aku bisa masuk surga, aku bisa urus anak kita.." Kata Cesil dengan nada lemah.
Beny sudah tidak tahan, belum Ia berhasil menenangkan hatinya akan perkataan Cesil, sekarang Ia harus teringat akan calon anaknya.
Beny menarik tubuh Cesil untuk Ia rengkuh dalam pelukannya. "Walaupun aku jahat sama kamu selama kita nikah, tapi aku juga engga mau kehilangan kamu." Kata Beny.
"Gak masuk akal, Ben." Kata Cesil sambil menggelengman kepalanya.
"Coba di pikirnya pake hati, jangan pake otak." Kata Beny.
"Aku ngerasa kamu sayang sama aku, tapi kalau aku pikirin kelakuan kamu ke aku, engga menunjukan sayang apapun." Kata Cesil menanggapi perkataan Beny.
"Ikutin hati kamu." Kata Beny lalu mencium bibir Cesil.
Mereka terhanyut kedalam ciuman tersebut entah menyalurkan sayang atau hanya napsu semata. Semua berjalan dengan lembut tanpa sedikit paksaan sampai akhirnya mereka menuntaskan aktivitas mereka sampai tertidur karena lelah.
***
"Sil!" Beny terkejut saat meraba kasurnya dan tidak menemukan Cesil.
"Kamu kenapa sih bangun tidur langsung teriak kaya gitu?" Kata Cesil dengan nada lembut.
"Aku kira kamu kemana." Kata Beny dengan lega saat melihat Cesil yang berdiri tegak dengan daster bergambar sapi.
Cesil hanya tersenyum menanggapi, lalu Cesil mendekat ke ranjang tidur lalu duduk di samping Beny. Cesil mengelus kepala Beny dengan sayang.
"Aku bikin kangen ya, Ben?" Kata Cesil pada Beny.
"Perut kamu atau apa gitu ada yang sakit engga karena semalem?" Tanya Beny dengan nada kawatir.
"Engga Ben, aman kok badan aku." Kata Cesil sambil tersenyum.
"Yaudah aku mau lanjut tidur." Kata Beny. Sebenarnya Beny malu karena sangar terlihat menghawatirkan Cesil.
"Lebih baik kayanya kamu sarapan deh sama aku, abis itu tidur lagi deh." Kata Cesil memberikan usul.
"Aku ngantuk, Sil." Kata Beny menolak sarapan karena memang dirinya belum lapar dan masih mengantuk.
"Yaudah kalau gitu, aku sarapan sendiri aja." Kata Cesil.
"Eh, Sil. Aku mau sarapan deh, tapi ada syaratnya." Kata Beny.
"Gamau ah aku syarat kaya gitu! perut juga perut kamu, masa harus aku yang repot." Kata Cesil tidak terima.
"Ini gampang kok syaratnya." Kata Beny yang bersikeras membuat Cesil mau memenuhi syarat yang akan Ia berikan.
"Okey, apa syaratnya?" Tanya Cesil.
"Kamu kan pernah sekali panggil aku Mas, sekarang panggil aku gitu terus dong." Kata Beny.
Malu sekali mengatakan permintaan tersebut kepada Cesil, tetapi rasanya Beny sangat Ingin dipanggil dengan sebutan itu oleh Cesil sejak semalam.
"Emangnya aku pernah panggil kamu Mas ya?" Kata Cesil mengingat ingat.
"Pernah Sil, pas di Rumah Sakit." Kata Beny
"Aku engga inget." Kata Cesil pura pura.
"Kamu ngomongnya sambil nangis saat itu, Sil." Beny pantang menyerah untuk membuat Cesil mengingat kejadian tersebut dan hal itu membuat Cesil tertawa.
"Inget dulu, baru ketawa." Kata Beny pada Cesil.
"Iya aku udah inget kok, tapi lucu aja kamu kaya mau banget aku panggil itu." Kata Cesil.
"Yaudah jadi mau tau engga." Kata Beny dengan ketus untuk menutupi rasa malu nya.
"Iya aku mau, mas." Kata Cesil sambil tersenyum.
"Senyum kamu kaya lagi ngeledek aku tau." Kata Beny pada Cesil.
"Kamu lucu banget lagian." Kata Cesil.
"Ah, yaudahlah engga jadi. Anggep aja aku engga pernah minta." Kata Beny sambil menutup wajahnya dengan selimut.
"Udah deh, sekarang waktunya sarapan." Kata Cesil pada Beny.
"Aku ngantuk beneran loh, Sil. Cape banget badan aku remuk." Kata Beny.
"Kamu suapin aja deh." Kata Beny dengan nada menerintah.
"Astaga Ben, cuma roti aja minta disuapin?" Kata Cesil tidak percaya.
"Tolong, sayang." Kata Beny memohon.
"Kamu nih males malesan kaya gini, untung aku udah kemas barang-barang untuk siang nanti pindah ke apartemen." Kata Cesil pada Beny.
Hello semuaa
Aku double up nih biar bisa bayar utang yang kelamaan update..
walaupun beda hari sama part sebelumnya, percayalah itu cuma beda beberapa jam aja
makasih yang udah mau baca
Salam sayang, Anster
#10/11/20