
Rahang Beny mengeras setelah mendapatkan info dari anak buah nya kalau penyebab kejadian yang menimpa Cesil semalam adalah salah satu preman yang untungnya adalah anak buah dari orang suruhan Beny. Mudah untuk Beny berurusan dengan preman itu.
Beny belum beranjak dari tempat tidur karena menjaga Cesil yang masih tertidur lelap memeluknya.
'Apakah dia sengaja tidak bangun dari tidurnya karena mendapatkan posisi nyaman?' pikir Beny sambil memandangi Cesil yang tertidur lelap.
Beny sendiri tidak tau apa yang membuat dirinya begitu kasar dengan Cesil. Kalau hanya karena soal perjodohan, memang Beny kesal tetapi seharusnya tidak berlebihan.
Tetapi mungkin ini adalah faktor utama, Beny bisa tiba-tiba merasakan emosi yang memuncak saat Ia mengingat cinta nya yang di tolak oleh Via.
Dan juga Beny tidak dapat menutupi dirinya jika Ia sedang ingin bersikap baik dengan Cesil.
'Yasudahlah Sil, nikmati saja aku yang seperti ini.' Kata Beny dalam hati.
Beny merasakan pergerakan dari tubuh Cesil. Beny seketika menahan napasnya karena Ia tidak mau mengganggu tidur Cesil.
Cesil mengerjapkan matanya. Lampu kamar masih mati tetapi sudah terlihat pantulan cahaya matahari dari celah ventilasinya.
Setelah Cesil mulai sadar Ia langsung tegak menduduki tubuhnya dan melepaskan pelukannya pada Beny. Cesil meruntuki dirinya yang Ia sendiri anggap kurang ajar.
"Maaf Ben, aku kira guling." Katanya sambil merapikan rambut.
"Aduh udah siang banget ini jam berapa?" Cesil mulai salah tingkah. Cesil berusaha mengingat apa yang Ia impikan sampai akhirnya menganggu tidur Beny.
Beny tidak berkata apapun setelah mengetahui Cesil bangun. Beny melangkahkan kaki kedalam kamar mandi untuk bersiap keluar kamar menemui keluarga besarnya.
"Duh, pasti dia bete banget deh sama gua." Kata Cesil kesal dengan dirinya sendiri.
Cesil melihat luka lebam di tubuhnya.
Cesil teringat dengan kejadian semalam, yang Ia ingat terakhir kali adalah Ia berusaha tersenyum pada Beny saat Ia menahan sakit di tubuhnya dan ketakutan yang hebat.
Cesil tidak mimpi ternyata. Seketika Cesil menghawatirkan kondisi janinnya.
"Kamu masih ada disana kan sayang?"
"Jangan pergi tinggalin mama. Nanti mama sendirian." Cesil mengelus perutnya dengan sayang.
"Tenang aja, lu masih hamil kok. Kuat juga ya anak lu." Kata Beny sambil berjalan kearahnya dengan bau mint yang khas sehabis mandi.
"Iya Ben, dia memang anak yang kuat." Kata Cesil tersenyum. Tidak apa Beny hanya menganggap ini anaknya Cesil saja, yang penting Beny selalu ada disampingnya.
Beny tidak menanggapi. Beny sibuk mencari baju yang bisa Ia gunakan.
"Ben, kamu mau keluar kamar engga nunggu aku dulu?" Kata Cesil saat melihat Beny sudah siap dengan pakaiannya.
"Gausah, gua bilang lu masih tidur. Mereka juga ngerti pasti." Jawab Beny sambil keluar dari kamar hotel mereka.
"Pasti gua banyak ngerepotin Beny deh semalem makanya Beny kesel banget gitu." Kata Cesil.
***
Beny menghampiri keluarga besar dirinya dan Cesil sedang berkumpul untuk sarapan yang sudah disediakan oleh hotel.
Mereka yang tengah asik menyantap makanan, menyempatkan diri untuk menyambut kedatanagan Beny yang mereka sebut-sebut sebagai pengantin baru.
Semuanya kini telah membanggakan Beny. Dari keluarga Cesil pun merasa tidak salah menjadikan Beny menantu, tampak raut muka bahagia dan bangga melihat Beny.
Hal itu tidak membuat Beny bangga dengan dirinya. Bagaimana Ia bisa bangga jika semalam saja Ia tidak becus menjaga Cesil. Untung saja mereka tidak tau Beny berlari tengah malam menggotong Cesil dan membawanya kedalam mobil.
Bagaimana jadinya saat malam pertama Beny dan Cesil yang terjadi bukan pembuatan bayi melainkan penghilangan bayi.
Tetapi begitulah Beny, saat sudah berhadapan langsung dengan Cesil semua pemikirannya menjadi berubah total.
"Ben, kok diem aja? Kangen ya sama Cesil. Samperin aja Ben, kita ngerti kok." Kata Papa nya Beny.
"Iya sih Pa, takut Cesil bangun terus muntah-muntah engga ada temennya. Beny permisi ke kamar lagi ya." Kata Beny sambil menggaruk kepalanya.
Mengalir saja dari mulutnya mengatakan kalau Ia kawatir Cesil muntah-muntah, padahal sebenarnya tidak pernah sedikitpun Beny peduli dengan kehamilan Cesil.
"Oalah iya sampe lupa kalau Cesil lagi hamil. Yaampun Beny, kamu perhatian banget Cesil. Udah kamu ke kamar sana kasian Cesilnya." Kata Mama nya Cesil.
Ada saja kan tingkah Beny mencari perhatian.
Beruntunglah Beny bisa beralasan seperti itu, sehingga Ia tidak perlu berlama-lama ada didalam perkumpulan itu dan bersifat munafik sebagai menantu kesayangan di mata keluarga Cesil.
Beny masuk kedalam kamarnya dan tidak menemukan Cesil di atas tempat tidur. Tetapi Beny mendengar suara gemenrcik air dari kamar mandi.
"Cesil, kamu mandi kan?" Terlalu gengsi bagi Beny untuk menanyakan apakah Cesil mengalami mual di pagi hari atau tidak.
"Ben, Beny, bantu aku." Kata Cesil denagn nada terputus-putus.
Beny yang kawatir langsung menuju ke kamar mandi dan membuka pintunya kencang. Untuk kedua kalinya Beny terpaku melihat kondisi Cesil.
Cesil terkapar lemas dalam posisi duduk diatas closet. Mukanya sangat pucat dan keringat yang terus mengucur menahan rasa sakit.
Cesil tidak sanggup menahan tubuhnya untuk dapat bangkit berdiri. Cesil sudah tidak memikirkan jika Beny akan bersikap bodo amat padanya. Pandangan Cesil semakin kabur dan buram.
"Cesil! Kenapa bisa kaya gini." Kata Beny sambil menopang tubuh Cesil.
"Ben, darah aku.." Kata Cesil tak berdaya. Perutnya masih terasa sangat sakit. Cesil sangat merasakan jika saat ini darah yang keluar tidak kunjung berhenti.
"Tolong aku, aku janji setelah ini engga minta tolong kamu lagi. Bawa aku kerumah sakit ya." Cesil memohon pada Beny yang masih tidak melakukan pergerakan apapun untuk menolong Cesil–hanya menopang saja–
Kali ini Beny bukan tidak peduli, tapi Ia sangat terkejut dan bingung untuk menentukan apa yang seharusnya Ia lakukan terlebih dahulu.
Saat ini Beny mengutuk dirinya yang pernah meminta Cesil menggugurkan kandungannya. Karena pada nyatanya, saat kandungan Cesil diujung tanduk seperti ini, Beny juga ikut kawatir.
Beny mengangkat tubuh Cesil. Untuk kali ini dia berharap dia tidak akan kehilangan calon anaknya dan juga Cesil.
Sikap acuh Beny setelah Cesil bangun adalah karena Ia menyalahkan dirinya yang tidak menemani Cesil. Hal itu saja Ia belum bisa memaafkan dirinya sendiri, dan sekarang Ia menghadapi sesuatu yang lebih besar dari itu.
"Ben, aku ngantuk.. Aku tidur aja ya, mungkin abis itu sakitnya hilang." Kata Cesil sambil menatap mata Beny dalam.
"Buka mata kamu Cesil, kamu engga boleh tidur!" Beny mengatakan sambil membopong tubuh Cesil ke dalam mobil dengan berlari.
Cesilnya tidak berdaya, anaknya dalam bahaya. Mungkin segala macam hujatan tidak cukup untuk menamai laki-laki seperti Beny.
Coba saja dipikirkan, malam itu Beny membiarkan Cesil keluar sendirian yang dia sendiri tidak tau karena tidak mau tau tujuan Cesil apa. Laki-laki normal pada umumnya, walaupun sebatas teman, pasti akan ikut kawatir dan menawarkan diri untuk menemani apalagi ditambah kondisi Cesil yang sedang hamil.
Beny terus menampar pipi Cesil agar Ia tidak tertidur. Karena Beny tau, Ia akan kehilangan keduanya saat Cesil benar-benar menutup matanya yang Ia sebut tidur.
---------------------
**halo pembaca cerita Anster
makasih ya udah baca cerita aku semoga kalian suka yaa
salam sayang,
Anster**.