Lifeless Wedding

Lifeless Wedding
Sadar



Cesil sudah berhasil ditangani. Cesil berhasil bertahan untuk menahan kantuknya. Tamparan yang Beny berikan sangat berpengaruh untuknya.


Memang benar-benaran tamparan. Tamparan yang sedikit terasa sakit hanya saja berbeda rasanya dengan tamparan Beny kala itu.


Beny menunggu Cesil di depan ruang timdakan dengan perasaan tidak tenang. Beny merasa tidak siap jika kehilangan Cesil ataupun calon anaknya.


Keluarga besar pun sama kawatirnya dengan Beny. Mereka secara bergantian menemani Beny dalam kegelisahannya dan mengatakan semua akan baik baik saja.


Tidak lama setelahnya, dokter yang menangani Cesil pun keluar dan berbicara empat mata dengan Beny.


"Darah yang dikeluarkan oleh pasien cukup banyak dan beruntungnya stok darah untuk golongan pasien tersedia. Tetapi saya minta maaf karena saya tidak bisa menyelamatkan janinnya karena dilihat janin pasien sangat lemah." Kata Dokter itu menjelaskan.


Beny yang mendengar hal itu seketika darahnya memuncak dan rahangnya mengeras.


"Semalam anda mengatakan jika janin dalam perut istri saya baik-baik saya. Tetapi kenapa sekarang anda berkata lain? Apakah anda masih layak disebut dokter?" Beny berteriak tidak terima.


Untung saja mereka berbicara di dalam ruangan doktee tersebut. Kalau tidak, pasti apa yang dikatakan Beny sudah menghebohkan keluarga besar.


"Saya tidak tau dalam selang waktu itu apa yang sudah menimpa istri anda. Mungkin saja Ia memiliki beban pikiran yang menyesahkan hatinya." Kata Dokter tersebut yang terdengar seperti menyudutkan Beny.


"Jadi anda menyalahkan saya yang menyebabkan istri saya keguguran?" Amarah Beny memuncak.


"Saya tidak berkata seperti itu, apapun bisa terjadi pak." Jawab Dokter itu.


Beny hanya diam tidak menanggapi. Sebenarnya Ia kesal karena apa yang dikatakan Dokter itu tidak salah. Selama ini Beny memang hanya bisa menambah pikiran Cesil dan ditambah lagi ketidaksukaannya pada kehamilan Cesil.


"Terus sekarang kondisi istri saya bagaimana?" Kata Beny dengan nada yang lebih rendah.


"Kita harus sama-sama berdoa agar Bu Cesil segera siuman. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu kemajuan kondisi tubuh Istri anda." Kata Dokter menjelaskan.


"Baik dok, terimkasih kalau begitu. Saya mohon bantuannya ya dok." Setelah mengatakan hal itu Beny langsung melangkah keluar dari ruang Dokter itu.


***


"Ben, kamu engga mau pulang buat istirahat atau mandi? Kita kan bisa gantian jaga Cesil nya." Kata Mamanya Cesil.


"Beny engga mau tinggalin Cesil, ma." Kata Beny sambil memandang lekat Cesil yang masih setia memejamkan matanya.


"Kita kabarin kamu nanti kalau Cesil bangun pas kamu dirumah. Kamu gaboleh sakit, nanti yang ngurus Cesil siapa kalau kamu sendiri sakit?" Mamanya Cesil masih membujuk Beny untuk istirahat dirumah.


Rumah Beny dan Cesil yang sudah cukup lama dibeli oleh Beny karena Beny tidak mau jika nantinya harus tinggal di rumah orang tua atau mertuanya.


"Iya ma kalau begitu, Beny titip Cesil ya ma. Beny mau pulang dulu." Kata Beny sambil menyalimkan dirinya pada tangan Mamanya Cesil.


"Kamu engga usah rapihin rumah ya, langsung mandi, makan, terus tidur. Minum vitamin jangan lupa." Mamanya Cesil memberikan wejangan.


"Oke ma, Beny pamit ya." Mamanya Cesil tersenyum menanggapi.


Beny pun meninggalkan ruang inap Cesil dan mengemudikan mobilnya ke rumahnya yang baru dan jaraknya lumayan dekat dengan rumah sakit.


Sampai dirumah Beny mengikuti perkataan Mamanya Cesil. Ia mandi dan makan setelahnya Ia tertidur.


Beny tertidur sangat pulas. Mungkin akibat kelelahannya. Setelah pemberkatan dan resepsi di hari yang sama serta malam-malam membawa Cesil yang pingsan kerumah sakit dan pagi hari nya membawa Cesil kembali karena Ia pendarahan.


Saat Beny bangun dari tidurnya. Ia terkejut melihat jam dinding. Ia sudah tidur hampir 20 jam. Beny langsung beranjak dari kasurnya dan mengambil ponsel yang berada di nakas nya.


Ada beberapa panggilan dari mertuanya dan juga mama nya.


Tanpa berlama-lama lagi Beny langsung berlari kearah mobilnya dan mengendarakannya menuju rumah sakit.


***


Cesil sudah siuman dan dengan perasaan kecewa Beny tidak ada disampingnya. Tanpa Ia tanya keberadaan Beny pada mamanya yang berada sisampingnya, Cesil tau jika Beny tidak menunggunya.


Cesil tau kenapa Ia dirumah sakit dengan kondisinya sekarang ini. Pasti ada sangkut pautnya dengan kehamilannya. Kalau boleh Ia tebak, pasti calon anaknya sudah tidak ada di dalam sana.


Cesil tersenyum kearah mama dan mama mertuanya yang ada di sisi kanannya.


Merekaa terkejut karena bersyukur karena Cesil masih terselamatkan.


Sudah cukup lama dari saat dia sadar, belum ada yang berani angkat bicara memgenai kehamilan Cesil. Mereka lebih tertarik membicarakan makanan yang Cesil inginkan apa saat ini atau bahkan menceritakan hal yang tidak penting menurut Cesil.


Cesil sudah mulai bosan dengan situasi ini dan hal yang lucu adalah Beny tidak kunjung datang sampai saat ini.


Saat Ia sibuk memikirkan kemungkinan Beny sedang apa, tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka dan menampilkan sosok Beny yang sudah sejak membuka mata Ia tunggu kehadirannya.


"Maaf ma, Beny ketiduran jadi baru bisa dateng." Kata Beny pada kedua mama nya.


Cesil terkekeh dalam hatinya. 'alasan macam apa yang Beny gunakan saat ini? Dan kedua mama itu memakluminya? Pasti karena mereka mengira Beny ketiduran karena pekerjaannya yang banyak.'


"Cesil sayang aku bersyukur kamu udah sadar." Kata Beny sambil mengelus kepala Cesil.


Cuih.


"Aduh kayanya lagi ada yang mau kangen-kangenan nih. Kita tunggu diluar aja kalau gitu." Kata Mamanya Beny dan akhirnya diruangan itu menyisakan Beny dan Cesil saja.


"Sil, apa ada yang sakit? Kok kamu diem aja?" Tanya Beny kawatir.


"Kamu seneng kan anak aku mati?" Cesil sudah tidak tahan mengatakan hal ini. Cesil mengatakannya sambil menatap Beny dengan penuh kebencian. Cesil tau jika kata mati sangat kasar terdengar, tapi memang Cesil sudah sangat kesal dengan Beny.


"Sil, engga gitu sayang. Dengerin aku ya." Kata Beny dengan nada yang lembut.


"Oh jadi bener ya kalau anak aku mati." Jawab Cesil sinis. Sedih? sangat sedih pastinya.


"Cesil, maafin aku ya. Aku bener-bener nyesel sama perbuatan aku ke kamu dan anak kita." Kata Beny pada Cesil. Beny mengatakan dengan tulus karena memang seperti itulah yang Ia rasakan sekarang.


"Ralat, anak aku. Udah ya Ben, engga usah sok baik lagian engga ada siapa-siapa juga." Jawab Cesil lagi.


Cesil berusaha membentengi dirinya untuk tidak terhanyut dengan kebaikan yang Beny berikan saat ini. Mau bagaimana pun juga Cesil tidak lupa jika Beny sangat pandai cari muka.


"Sil, aku beneran untuk kali ini. Aku minta maaf Sil." Kata Beny memohon. Dari sorot matanya memang terlihat jika Beny benar dengan ucapannya.


"Aku udah engga punya orang yang samangatin aku. Kenapa aku engga ikut meninggal aja. Kenapa aku harus dengerin perkataan kamu buat engga nutup mata aku. Aku benci banget Ben sama kamu!" Kata Cesil sambil memukul dada bidang Beny sambil menangis.


Beny hanya berpasarah dengan pukulan Cesil yang dirasa cukup sakit. Tetapi Ia sadar jika ini tak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan oleh Cesil selama ini.


Setelah Cesil lelah Ia menjatuhkan tubuhnya ke dada bidang Beny dan Beny membalaskan dengan pelukan yang erat.


"Aku yang bikin diri aku keguguran, mas.." Kata Cesil lirih. Disamping perlakuan Beny padanya.


Cesil juga sadar akan perlakuan pada kandungannya selama ini. Sebelum Via menguatkannya, Cesil terlalu fokus pada Beny sampai lupa dan tidak memberikan perhatian lebih pada kandungannya.


----------------------------------


**halo pembaca cerita Anster


makasih ya udah mau baca cerita aku, semoga kalian suka sama ceritanya


sampai bertemu di part selanjutnya


salam sayang,


Anster**.