
Hari ini adalah hari pernikahan Via dan Delfa. Cesil terkejut saat melihat Beny menghadiri pernikahan ini karena Ia tidak mengundangnya.
Sangat tidak mungkin Via mengundang Beny, pikir Cesil. Via tidak kenal dengan Beny. Perkenalan mereka saja diawali dengan perlakuan tidak mengenakan dari Beny. Sangat sulit pasti bagi Via untuk mengundangnya.
Tetapi pada faktanya, yang baru Cesil tau adalah Beny sepupu Delfa. Bodoh sekali Cesil tidak melihat nama keluarga Celior yang ada pada nama keduanya. Fakta selanjutnya adalah dalam persahabatannya dengan Beny, Cesil hanya bisa berteman dengan Beny saja, Cesil tidak begitu akrab dengan keluarga inti Beny dan terlebih keluarga besar Beny.
Bara yang adalah papa Beny, jarang pulang dan sangat sibuk. Sinta cukup pendiam dan berbicara seperlunya saja. Tidak pernah terjalin acara menggosip ria antara Cesil dengan Sinta.
Cesil melihat tatapan Beny pada Via. Selalu tatapan yang sama, tatapan memuja dan ingin memiliki.
Saat Beny memiliki kesempatan berbicara dengan Via, Beny menyampaikan perminataan maafnya mengenai kejadian di acara ulang tahunnya dan Via pun dengan hati yang tulus memaafkan Beny.
Beny melihat kedua anak Via yang bernama Fian dan Fina. Beny mengatakan jika Ia menyesal telah berbuat yang tidak pantas pada Via. Penyesalan Beny pun membuat Delfa yang memperhatikan percakapannya dengan Via menjadi salah paham.
Delfa berpikir jika Fian dan Fina adalah anak kandung dari Beny. Tetepai kesalahpahaman Delfa tidak berlangsung lama karena Via dengan cepat mengatakan yang sebenarnya.
Sebenarnya memang itulah keinginan Beny, menjebak Via dengan cara menghamilinya, dengan begitu Via menjadi miliknya. Namun, bukan seperti itu yang terjadi.
Ada rasa cemburu yang sangat dalam di hati Beny melihat Via yang bahagia dengan keluarga kecilnya. Beny ingin merasakan hal itu, Ia tidak terima Via seakan berbahagia di atas kesedihannya.
***
Hari ini Cesil memutuskan untuk pulang ke apartemennya yang dulu ia tinggali bersama Via. Hari pernikahan Via dan Delfa cukup menguras tenaganya disamping ia sedang mengurusi perjodohan dengan Beny.
Cesil menyibukan dirinya untuk apartemen ini. Cesil menyetel musik dengan suara yang kencang dan membuatnya bernyanyi dan menari sambil membersihkan apartemen.
Tanpa Cesil sadari, Beny sudah masuk ke dalam apartemen tersebut dan sudah menghabiskan 10 menitnya untuk melihat Cesil yang menggerakan tubuhnya.
Beny adalah pria normal yang menikmati pemandangannya saat ini. Dimana wanita menggerakan tubuhnya dengan sangat energik dan tubuhnya dibalut dengan celana pendek dan tanktop.
Karena dirasa Beny sudah mulai bosan dengan kehadirannya yang tidak dihiraukan, Beny pun mengeluarkan deheman yang cukup keras.
Cesil yang terkejut pun langsung berteriak dan menggunakan kain pel nya sebagai alat pertahanan diirinya.
"Beny! lu ngapain?" Kata Cesil dengan berteriak.
"Ngapelin calon istri masa gaboleh?" Kata Beny sambil mendekat kearah Cesil.
"Lu sakit ya?" Cesil menaruh telapak tangannya pada dahi Beny untuk mengecek suhu tubuh Beny.
"Apaansi? Gua baik salah, gua jahat salah, maunya apa?" Beny tersenyum kearah Cesil.
"Aneh aja." Cesil sangat heran dengan sikap Beny yang berubah seperti ini.
"Terus? Lu ngapain ke sini?" Kata Cesil lagi karena Beny tidak kunjung menyampaikan maksud dan tujuannya yang benar.
"Gua mau tinggal disini, nemenin lu." Akhirnya Benypun mengatakan tujuannya.
"Eits, apa-apaan nih? Gamau gua!" Cesil mendorong tubuh Beny dengan pelan sebagai bentuk penolakannya.
"Kenapa? Via sama Delfa aja gapapa tinggal bareng." Kata Beny.
"Ya kan mereka udah nikah. Lah kita?" Cesil mulai darah tinggi menanggapi tingkah Beny yang berubah menjadi menyebalkan.
"Ujungnya juga kita bakal nikah." kata Beny dengan santainya.
"Yaudah, awas lu ya macem-macem sama gua!" Kata Cesil dengan nada sinis.
"Iya bawel." Beny mengacak rambut Cesil dan berlalu begitu saja melewati Cesil.
"Eh lu mau kemana?" Kata Cesil sambil menarik kuping Beny.
"Aduh,sakit gila. Gua mau tidur!" Kata Beny sambil mengaduh kesakitan.
"Ga ada. Bantuin gua bersih-bersih, abis itu temenin gua beli bahan-bahan soalnya pada abis!" Kata Cesil dengan tegasnya.
"Yaelah Sil, kalau engga ada gua juga lu sendiri. Jangan manja, gua cape." Beny tidak membentaknya dia hanya merengek kepada Cesil.
"Bantuin atau lu engga gua kasih makan?" Cesil mengancam Beny. Dulu, ancaman mengenai Cesil menjanjikan membuatkan Beny makanan adalah cara yang paling ampuh.
"Sini pelnya! Awas lu ya engga enak." Jawab Beny yang membuat Cesil sangat senang.
"Yang bersih ya Beny bolo-bolo." Cesil melewati Beny untuk membersihkan tempat yang lainnya. Beny hanya tersenyum dengan gelengan kepalanya untuk menanggapi Cesil.
***
Cesil tidak memusingkan mengenai hantu apa yang kemarin merasuki Beny atau bahkan alasan apa di balik berubahnya sikap Beny sekarang.
Cesil menjadi tersenyum sendiri karena membayangkan bagaimana indahnya pernikahannya nanti dengan Beny. Dengan sikap Beny seperti tadi, Cesil percaya jika kelak Beny akan menjadi suami yang selalu menyayanginya.
***
Beny terlalu stress memikirkan nasib dirinya karena tidak mendapatkan hati Via. Beny merasa tidak terima akan kebahagiaan Via bersama Delfa dan kedua anaknya.
Beny selalu membayangkan kalau saja aksinya dulu berhasil, pasti sekarang Beny sedang bahagia bersama Via dan anaknya atau bahkan Beny sedang merencanakan program anak ke duanya dengan Via. Tapi bayangan itu hancur saat terlihat wajah Cesil disana.
Terpikirkan dalam otak Beny untuk menjadikan Cesil yang adalah calon istrinya sebagai pelampiasaan atas penghianatan Via kepadanya.
Yang ingin dilakukan Beny saat ini adalah membuat Cesil bahagia sebelum hari pernikahannya tiba. Sekalian menampilkan kepada dirinya sendiri kalau Ia juga bisa bahagia seperti Via sekarang. Aneh memang.
"Bersenang-senang dahulu, bersakit-sakit kemudian." Kata Beny dengan senyum yang menyeringai.
***
"Asik udah bersih." Cesil merentangkan tangannya dan mengirup udara dalam-dalam.
"Ucapan makasihnya mana nih?" Kata Beny sambil memeluk pinggang Cesil dari belakang.
"Ih, jangan peluk-peluk! Aku bau tau!" Cesil melepaskan tangan Beny yang melingkar di pinggangnya sambil menggerutu.
"Mau aku kamuan nih sekarang?" Beny menggoda Cesil dengan menaik turunkan alisnya.
"Iya, siapa tau jadi akur." Kata Cesil.
"Oke, kita mulai ya. Aku sayang kamu." Kata Beny yang membuat Cesil membeku.
"Apaansi, udah ayo mandi biar bisa ke supermarket!" Kata Cesil sambil menutupi muka merahnya dengan menunduk.
"Serius ngajakin mandi bareng?" Kata Beny memastikan.
"Apaansi, kamar mandi ada dua tau!" Cesil mengatakannya sambil berlari ke kamar mandi.
"Alah, sok-sokan nolak lu. Cewe muna juga ya." Kata Beny bergumam.
***
"Kamu mau aku masakin apa?" Kata Cesil sambil mendorong trolly nya.
"Semua yang kamu masak pasti aku makan. Kamu tau itu." Kata Beny sambil melirik ke kanan dan kakiri menimang cemilan apa yang akan Ia beli.
"Masalahnya aku lagi bingung mau masak apa, Ben." Jawab Cesil dengan nada kesalnya.
"Apa aja, sayang." Kata Beny sambil mengarahkan pandanganya ke Cesil.
"Beny serius!" Cesil berpura-pura kesal untuk menutupi dirinya yang sedang merona karena panggilan sayang dari Beny.
"Okey, aku mau kamu masakin indomie aja." Kata Beny.
"Hah? Ben, sejak kapan kamu ngeremehin kemampuan masak aku?" Kata Cesil sambil beekacang pinggang.
"Jangan emosi dulu dong, kamu emang cuma masakin indomie, tapi kan kamu bisa buat indomienya lebih spesial ala Cesil gitu." jawaban Beny benar-benar membuat Cesil luluh dan bibit emosinya menjadi hilang.
"Oke kalau gitu, sekarang kita cari es krim!" Cesil setengah berlari menuju ke kulkas penyimpan es krim.
---------------------------------------------------
YEYA PEMBACA CERITA ANSTER!
**semoga suka ya sama ceritanya
salam sayang,
Anster**