
Setelah itu, Leticia ia langsung berjalan kaki menuju ke kafe XX yang tidak jauh dari sekolahnya, dengan jarak sekolah menuju kafe XX dengan berjalan kaki sekitar 15 menit.
Dari kejauhan Leticia sudah melihat Roy sedang berdiri dengan memainkan handphone sambil menunggunya di depan pintu kafe XX.
“hai.. kak Roy” Leticia pun menyapa Roy dari kejauhan dengan melambaikan kedua tangannya.
Roy yang mendengar suara Leticia memanggilnya, ia pun langsung menoleh ke arah Leticia dan melambaikan tangan juga ke arahnya sambil memanggil Leticia untuk berjalan lebih cepat.
“hai Leticia... Sini sini ke sini!” lambai Roy kepada Leticia.
Leticia yang melihat itu langsung berjalan cepat hingga berlari kecil menuju dan menghampiri Roy.
Leticia yang tidak memperhatikan dengan baik keadaan di area sekitarnya, ia secara tidak sengaja hampir ingin tertabrak sebuah mobil yang berlaju dengan cepat.
“hati hati Leticia!”, teriak Roy memperingati Leticia.
Leticia yang mendengar itu langsung menanggapinya dengan lebih menepi ke pinggir jalan, tetapi ia juga masih berusaha berlari kecil untuk menghampiri Roy.
“huhft...huhft...huhft” suara nafas Leticia yang tidak teratur.
“aduh aduh maaf kak, tadi aku kurang berhati-hati”, ucap Leticia dengan nafas yang masih terengah-engah.
“sebaiknya tadi kamu lebih berhati hati dan tidak perlu lari untuk menghampiri kakak, ya sudah.. sekarang kamu atur nafas kamu terlebih dahulu nanti baru kita masuk” sambil mencoba menenangkan Leticia.
Setelah nafas Leticia sudah teratur dan keadaan Leticia membaik, Roy langsung mengajak Leticia menuju ruang manajer untuk melamar pekerjaan dengan menemui manajer kafe XX.
Karena saat itu Leticia bertanya tentang pekerjaan dengan Roy, yang kebetulan tempat kerja Roy yaitu kafe XX membuka lowongan pekerjaan, sehingga Roy menghubungi dan berbicara dengan manajer bahwa ia esok akan membawa orang untuk pekerjaan itu, sehingga kafe XX tidak menyiarkannya dan memberi kesempatan pada Roy untuk memperkenalkan Leticia.
Saat Leticia sudah berada di depan pintu masuk ruang manajer ia tiba-tiba berhenti. Roy yang penasaran dengan keadaan Leticia, akhirnya ia memutuskan untuk bertanya langsung kepada Leticia.
“ada apa Leticia? Ada yang sakit? Ada yang kamu khawatirkan?” cemas Roy kepada leticia.
“hmm.. maaf kak sebentar dulu ya baru kita masuk bisa tidak? Aku gugup banget” detak jantungnya berdegup dengan cepat.
“ya sudah kak Roy tunggu sampai kamu bisa tenang” dengan memberikan segelas air putih.
“ayo dong leticia tenang, kamu bisa dan jangan khawatir tentang apapun, lakukan hal terbaik yang bisa kamu lakukan!” Leticia yang mencoba menyemangati dan memotivasi dirinya sendiri.
Roy kemudian mengetuk dan membuka pintu ruang manajer.
“pagi pak, saya Roy.. saya membawa Leticia kepada bapak untuk wawancara hari ini sebagai kasir di kafe kita pak” ucap Roy kepada manajer.
“baik kamu bisa keluar, dan saya akan segera mewawancarai orang yang sudah kamu bawa ini” dengan menyuruh Leticia untuk duduk di kursi.
“kakak tinggal dulu ya.. semangat! Semoga wawancara kamu lancar” Roy yang berbisik kepada Leticia.
Roy pun keluar ruangan dan untuk menunggu hasil wawancara leticia di depan pintu ruang manajer.
*******
Wawancara leticia di mulai dengan sebuah pertanyaan sederhana, bertanya seperti halnya menanyai tentang nama, umur, dan alamat. Kemudian pertanyaan lain pun ditanyakan oleh manajer kepada Leticia.
“apa alasanmu mau bekerja paruh waktu di kafe XX sedangkan kamu masih sekolah dan sudah harus mulai mempersiapkan diri dalam pembelajaran untuk ulangan kelulusan?” tanya serius manajer kepada Leticia.
“alasan saya untuk bekerja di kafe XX karena alasan utama saya adalah Saya ingin berkarier dalam bidang ini karena memiliki bidang ini mencangkup keahlian saya, dan alasan lainnya karena rekomendasi Kak Roy dan jarak kafe ini dan sekolah saya tidak terlalu jauh sehingga bisa di tempuh dengan berjalan kaki”.
“alasan saya memutuskan untuk bekerja walaupun saya masih sekolah karena saya harus membantu ekonomi keuangan saya untuk bertahan hidup. Saya di sini sendiri dan saya bekerja untuk membayar uang kosan saya perbulannya, untuk saya makan sehari hari dan untuk menunjang pendidikan saya.” leticia menjawab pertanyaan itu dengan baik.
Manajer yang mendengar jawaban Leticia cukup terkejut dan terkesan sehingga manajer kafe XX membuat keputusan yang tepat untuk Leticia.
“jujur saya mendengar jawaban kamu, saya terkesan sehingga saya akan memutuskan bahwa kamu bisa bekerja di sini, dengan masa kontrak yang di perpanjang selama 5 bualan sekali, dengan gaji perbulannya 1,8 juta dengan waktu bekerja dari jam 3 sore sampai dengan jam 11 malam, dan kamu saya izinkan belajar di sini jika keadaan kamu sedang istirahat” sambil membuat sebuah kontrak tertulis.
Leticia yang mengetahui keputusan sang manajer yang menerimanya kerja di kafe XX, membuat Leticia tidak kuasa tahan air matanya.
Manajer memberikannya sebuah kertas kontrak itu, dan membuat Leticia segera menandatangani kontrak itu. Setelah Leticia menandatangani kontraknya ia di persilahkan untuk keluar dan mempersiapkan dirinya untuk bekerja pada Senin hari.
“terimakasih banyak pak, bapak telah memperkenankan saya untuk bekerja di sini, sekali lagi terimakasih banyak pak” ucap syukur Leticia kepada manajer kafe XX yang telah berkenan menerima ia untuk bekerja di kafe nya.
Setelah itu Leticia bergegas keluar untuk memberitahukan kabar baik ini kepada Roy, sehingga ia langsung menemui Roy yang telah menunggunya.
Roy terkejut melihat Leticia yang membuka pintu dengan keadaan menangis, sehingga Roy menanyakan hasil wawancaranya kepada Leticia.
Tetapi saat itu Roy tidak sempat menanyakan hasilnya kepada Leticia mengenai hasil wawancaranya, karena saat itu Leticia pergi memeluk erat Roy sambil menangis di pelukannya.