
“Ugh!!” terkejut Leticia mendengar suara ketukan pintu itu.
“Aku takut sekali.. apa yang harus aku perbuat? Aku tidak berani untuk melangkah apalagi lagi pergi untuk membukakan pintu.. tolong katakan sesuatu” Leticia gemetar ketakutan.
“Halo Paket!! Ada orang?” suara seorang pria dari balik pintu kamar kosan Leticia.
“Paket? Mungkinkah itu dari toko swalayan tadi?” akhirnya Leticia memberantas diri untuk melangkah mendekati pintu kamarnya.
Dengan langkah kaki yang perlahan mendekati pintu, Leticia memberanikan diri untuk membuka pintu kamarnya itu.
“Kryeekkk...” pintu kamar kosan Leticia terbuka dengan perlahan-lahan.
“Uh.. ternyata bukan 'Dia' syukur kalau seperti itu, aku sudah merasa sangat takut tadi.. setidaknya ini mengurangi rasa takut ku” kemudian Leticia membuka pintu itu dengan cukup lebar.
“Oh iya mas.. ini paket saya dari toko swalayan ya.. terimakasih banyak ya mas sudah mengantarkan paket saya sampai rumah dengan cepat dan selamat” Leticia memegang paket itu.
“Iyaa mbak.. sebelumnya tolong di tanda tangani surat penerimanya ya mbak, di sini” memberikan surat tanda penerima dan sebuah pulpen.
Leticia langsung menandatangani surat itu.
“Sudah ya mas.. terimakasih banyak” Leticia memberikan senyum manisnya.
“Baik mbak terimakasih kembali” karyawan swalayan itu pergi dari kamar kos Leticia.
Leticia segera membawa masuk paket itu dan langsung dengan cepat segera menutup dan mengunci kembali pintu kamar kosannya itu.
“Huft..Huft... Huft..” nafas Leticia yang tidak teratur karena ia sangat panik dan cemas.
“Syukur bukan 'Dia' yang mengetuk pintu kamar ku tadi.. aku merasa sedikit tenang walaupun sebenarnya diriku masih sangat meras was-was karena melihat dia hari ini di lingkungan tempat tinggal ku” Leticia pergi menjauh dari pintu kamarnya itu dan kembali ke tempat awal ia duduk, yaitu di pojokan kamar.
Leticia kembali duduk di pojokan kamarnya itu dengan posisi meringkuk kan badannya, sembari memikirkan hal hal yang terjadi pada hari ini.
“Tapi bagaimana 'Dia' bisa berada di lingkungan sekitar ku? Bukankah aku sudah pergi sangat jauh dari lingkungan ku sebelumnya? Seharusnya masalah kita telah berakhir saat aku menghindarinya.. tapi mengapa dia terus-terusan seperti ini pada ku?”
“Aku tidak melakukan kesalahan apapun kepadanya yang membuat dirinya berbuat seperti 'itu' kepada ku.. aku hanya ingin bersikap baik padanya, tapi mengapa dia mengartikannya dengan cara yang berbeda dengan ku?”
“Aku sudah cukup merasa bahagia di sini karena aku meninggalkan masa lalu ku, tapi mengapa setelah aku melihatnya hari ini, aku merasa masa lalu ku seakan akan bangkit dan muncul kembali menghampiri ku?”
“Tidak bisa kah kita lari dari masa lalu yang kelam ini? Tidak bisakah dunia mendukung kita saat kita mencoba untuk mencari kebahagiaan? Tidak bisakah dunia ini adil untuk ku?”
“Aku saat ini sedang mencari kebahagiaan ku.. aku tidak pernah mendapatkan kebahagiaan sebelumnya. Aku sangat merasa bahagia saat kak Roy peduli dengan ku, tapi tidak bisa kah dunia untuk beberapa saat berpihak pada ku? Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku sangat amat merasa takut.. aku sangat takut”
Leticia menjatuhkan badan mungilnya itu ke lantai yang dingin. Lalu Leticia kembali meringkuk kan badannya di lantai itu dengan tatapan mata yang kosong.
“Apa yang harus aku lakukan di esok hari? Esok hari adalah hari pertama ku sebagai pelayan Toma dan hari pertama ku bekerja di kafe XX.. aku takut dia dapat menemukan ku di saat saat aku kerja atau sekolah.. aku tidak tau harus berbuat seperti apa sekarang”
Leticia mengambil handphone itu dari saku celananya, dan mendekatkan handphone itu ke telinga kirinya tanpa melihat lagi siapa yang meneleponnya saat itu.
“Halo?? Ini siapa?” tanya lemas Leticia karena tidak mempunyai tenaga untuk berbicara sama sekali.
“Ini Toma.. kamu tidak simpan nomor ku atau bagaimana? Kenapa kamu bertanya ini siapa?” Toma membalas pertanyaan Leticia dengan sedikit tegas.
“Oh maaf Toma sebelumnya aku tidak lihat lagi ke layar handphone ku, ada apa Toma malam malam seperti ini menelpon ku?" Tanya Leticia dengan nada suara yang ia keluarkan sangat amat pelan.
“Aku hanya ingin mengingatkan mu, bahwa esok adalah jadwal kita presentasi tugas biologi.. kamu jangan lupa berlatih malam ini untuk esok ya..”
“Baik Toma aku akan berlatih malam ini”
“Tapi tunggu dulu.. kenapa suara kamu sangat pelan? Kamu gak suka aku telpon malam malam gini? Atau kamu sedang sakit?” tanya Toma kepada Leticia setelah mendengar nada bica Leticia.
“Tidak..aku tidak apa-apa, aku baik baik saja”
“Sungguh? Jangan sampai esok kita gak jadi presentasi ya.. presentasi kita harus bagus dan sempurna.. ya sudah aku tutup telpon ini..”
“Tet” suara telpon yang di matikan.
Tanpa berfikir panjang, Leticia kemudian mematikan handphonenya dan menaruh handphonenya itu berada di dekat tubuhnya.
“Oh iyaa.. esok hari adalah hari aku presentasi tugas biologi itu, bagaimana mungkin aku bisa melupakannya?? Aku harus berlatih sekarang walaupun saat ini aku merasa tidak ada tenaga sama sekali untuk berdiri” Leticia berusaha beranjak dari tidurnya.
“Ugh!!” belum sampai ia beranjak dari tidurnya, Leticia kembali mengalami sakit kepala yang amat menyakitkan itu lagi.
“Ugh!! Ini sangat menyakitkan.. apa yang harus aku lakukan?.. aku harus berlatih untuk esok hari.. tapi aku tidak bisa beranjak dari tidurku ini!!”
Leticia yang meringkuk kesakitan di lantai yang dingin itu, dengan kedua tangan yang memukul mukul kepalanya dengan harapan bisa meringankan rasa sakitnya.
“Maaf kan aku Toma, mungkin malam ini aku tidak dapat berlatih untuk presentasi kita.. kepala ku sangat amat menyakitkan..” Leticia merasa bersalah kepada Toma karena sekali lagi ia tidak dapat menepati omongannya kembali.
“Aku harus minum obat sakit kepala ini, tapi bagaimana jika aku kesiangan seperti hari ini akibat meminum obat sakit kepala itu?”
“Tapi ini rasa sangat tidak nyaman dan menyakinkan.. aku harus bagaimana?? Untuk sekarang yang bisa aku lakukan hanyalah menahannya dan membuat diriku tidur saja”
“Aku bisa tidur dengan keadaan seperti ini” Leticia mencoba menyemangati dirinya untuk kuat.
Namun, Leticia tidak bisa menahan sakit kepalanya itu dan membuatnya pingsan karena sakit kepalanya itu tidak dapat ditahan olehnya lagi.
...*********...