Leticia

Leticia
Bab 23 : Sudah Kuduga Sebelumnya



Leticia berlari dari pintu gerbang sekolahnya menuju ruang kelas dengan segera dan secepat yang Leticia bisa.


“Huft...Huft...Huft...” suara nafas Leticia yang tidak teratur.


Leticia pun sampai di depan ruang kelasnya setelah melewati beberapa anak tangga, dan setelah melewati beberapa ruang kelas lainnya.


“Huft..Huft..Huft... Ini sangat melelahkan.. aku sekarang sangat merasa sesak nafas” Leticia yang berhenti di depan pintu ruang kelas sembari mengatur nafasnya hingga normal kembali.


“Aku tau di depan gerbang sekolah tadi tidak ada apa-apa, tapi alam bawah sadar ku menuntunku untuk berlari menjauhi jalan yang sekiranya 'Dia' dapat melewati jalan itu.”


“Sejujurnya aku tidak ingin bersikap seperti ini, aku takut jika aku bersikap seperti ini akan menjadi kebiasaan di dalam diri ku. aku tau, aku harus waspada.. tapi bukan sikap seperti ini yang aku harapkan dari diriku”, Leticia yang berfikir dengan tatapan mata yang kosong di depan ruang kelas.


“Jangan terus bersikap seperti ini Leticia, kamu harus bisa menahan rasa takut dan cemas mu terhadap 'Dia'... Kamu harus kuat Leticia.. kamu harus kuat.. aku yakin kamu bisa kuat dan melewati semua ini dengan baik”.


“Mari kita lewati bersama Leticia.. mulai sekarang mari kita bersikap seakan akan kita baik-baik saja” Leticia yang berusaha mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia kuat dan dapat bertahan dengan baik.


Leticia pun kembali menyadarkan dirinya, dan ia segera membuka pintu ruang kelasnya.


“Kryeekkk...” bunyi suara pintu ruang kelas yang di buka oleh Leticia.


“Hah??” Leticia yang terkejut ketika melihat ruang kelasnya masih kosong.


“Di kelas ini masih kosong.. belum ada siapapun yang datang di kelas ini, aku harus memanfaatkan waktu dan suasananya dengan baik untuk aku belajar materi presentasi untuk hari ini” melangkah mendekati tempat duduknya.


Leticia mengeluarkan buku materi presentasi dari dalam tasnya, dan mulai membuka halamannya satu persatu.


Halaman demi halaman buku materi presentasi Leticia baca dan Leticia berusaha pahami dengan seksama.


Leticia belajar di kesempatan waktu yang baik ini, ia berharap agar waktu belajar yang ia gunakan ini membuahkan hasil yang baik dan sempurna seperti harapan Toma kepadanya untuk menghasilkan presentasi yang sempurna.


“Huh? Kenapa aku tidak menyadari kehadiran mereka semua di dalam kelas?”


Leticia yang saat itu secara alami menolehkan kepalanya, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat kelasnya perlahan lahan penuh terisi oleh murid lainnya.


“Mungkin, karena aku sangat serius tadi ketika belajar sehingga aku tidak menyadari kehadiran mereka di kelas ini.. ku kira aku masih sendirian di kelas ini, tapi siapa sangka kalau ternyata sudah mulai terisi penuh dengan murid lainnya” pikir Leticia.


Leticia yang belajar dengan begitu serius, sehingga ia tidak dapat menyadari bahwa ruang kelas yang tadinya kosong itu perlahan lahan mulai terisi oleh murid-murid lainnya.


“Akh gimana sih?!!” Leticia mendengar suara Toma yang kecil itu, karena suara Toma terbilang cukup jauh ketika melihat dari jarak Leticia dengan Toma berada.


“Suara Toma? Toma sudah datang ke sekolah.. Aku harus segera merapikan buku materi presentasi ini, agar Toma tidak curiga kepada ku kalau aku belajar materi ini di sekolah” pikir Leticia dengan tangan yang sibuk merapihkan buku materi presentasi itu untuk di masukkan ke dalam tasnya kembali.


“Tak..Tak..Tak...” suara langkah kaki yang terdengar mendekati Leticia.


“Ugh!!” Leticia terkejut karena ada kedua tangan yang menutupi kedua matanya secara tiba-tiba dari belakang tubuh Leticia.


“Tangan siapa ini?” tanya Leticia kepada pemilik tangan yang menutupi kedua matanya.


“Hayo tebak tangan siapa kah ini?” ledek pemilik tangan itu kepada Leticia.


“Kalau di dengar dari suaranya.. ini seperti suara Toma. Tapi masa sih Toma melakukan ini pada ku? Yang pasti bukan Toma kan yang melakukan ini padaku?” Leticia yang sedang berusaha menebak siapa pemilik tangan itu.


“Hayoo dong cepat di tebak.. masa diam saja sih! Gak seruh ah..” pemilik tangan itu merasa kesal kepada Leticia, karena ia tidak segera menebaknya.


“Toma?” suara Leticia yang terdengar tidak yakin menjawab pertanyaan itu.


“Dari suaranya sih mirip dengan Toma, aku harap ini memang Toma” Leticia yang gugup dan tidak yakin ketika menjawab pertanyaan itu.


Kedua tangan itu akhirnya lepas dari wajah Leticia yang menutupi kedua matanya, Leticia yang penasaran dan ingin meyakinkan dirinya untuk mengetahui siapakah pemilik tangan itu, akhirnya Leticia memutuskan untuk menoleh kebelakang.


“Ciluk Ba!!!” pemilik tangan itu mengagetkan Leticia.


“Ugh!! Aku sangat terkejut!” kaget Leticia karena hal itu di lakukan secara tiba-tiba.


“Toma?! Ternyata memang Toma yang melakukan ini padaku! Tapi kenapa dia bersikap seperti ini? Padahal waktu itu dia terlihat marah sekali pada ku.. tetapi kenapa Toma tiba-tiba seperti ini?” Leticia yang bertanya tanya mengenai sikap Toma terhadapnya.


“??” Toma yang terkejut melihat wajah Leticia yang memiliki luka di keningnya.


“Ada apa dengan wajah mu Leticia? Kenapa ada luka di kening kiri mu itu?” Toma bertanya tentang penyebab terjadinya luka yang berada di kening kiri Leticia


“Kenapa Toma menjadi perhatian padaku? Kenapa Toma bertanya seperti itu padaku? Ketika Toma bertanya seperti itu padaku, seakan akan dia terlihat peduli padaku.Toma yang bersikap baik pada ku seperti ini, pasti ada niat lain yang tersembunyi di dalam dirinya." Leticia yang heran dengan sikap Toma yang secara tiba-tiba baik kepadanya.


“Aku tidak apa-apa, dan ini hanya luka kecil saja. Luka ini aku dapatkan ketika aku terjatuh di rumah” Leticia yang mencoba menjelaskan kejadian itu kepada Toma.


“Ya sudah kalau seperti itu, dengan luka mu seperti itu.. tidak ada pengaruh dengan presentasi nanti kan?”


“Ternyata Toma memang bukan mengkhawatirkan keadaan luka ku ini.. yang ia khawatirkan hanyalah presentasi.. aku tau Toma ujung-ujungnya pasti akan seperti ini” Leticia yang sudah curiga dengan sikap Toma kepadanya dari awal.


“Iyaa luka ini tidak akan jadi pengaruh untuk presentasi hari ini, kamu tenang saja Toma”, Leticia menundukkan kepalanya.


“Oke, jika luka mu tidak akan menjadi pengaruh terhadap presentasi ini".


“Tapi kamu seharusnya tidak lupakan, ini adalah hari pertama kamu menjadi asisten pribadi ku di sekolah? Tugas kamu di sekolah menggantikan posisi Bi Tutik, kamu harus melakukan apapun yang aku minta setuju?” tanya Toma kepada Leticia dengan suara yang lantang.


“AHAHAHHAAHHA, Leticia menjadi asistennya Toma? Lucu sekali.. bukankah seharusnya sekolah itu digunakan hanya untuk belajar?!” kata kata Toma terdengar oleh murid lainnya, sehingga salah satu murid di ruang kelas itu mengejek Leticia.


“HAHAHAHHAHA” ketawa murid lainnya dengan bersamaan.