
“Maaf mbak sebelumnya kira kira jika ingin membeli mie instan dengan dus gimana ya prosedur nya? Soalnya ini pertama kalinya saya beli di tempat yang seperti ini” Leticia yang menghampiri seorang wanita yang bekerja di swalayan itu.
“Mau beli mie instan yang dus-an ya?Hmm.. Beli berapa dus dek?” tanya pekerja swalayan itu.
“Aku beli berapa dus ya? Satu dus aja kali ya? Biar hemat uang ku.. tidak apa-apa makan mie instan setiap hari, biar uangnya bisa di tabung untuk membayar ganti rugi laptop Toma” pikir Leticia dalam hati.
“Mbak, saya beli satu dus saja mie instan nya.. terus nanti ini bagaimana prosedur setelah nya?”
“Ini bisa adek ambil langsung atau bisa di antar oleh karyawan swalayan kami sampai rumah adek dengan tambahan harga pengiriman, jadi adek kira kira mau ambil langsung atau di antar oleh karyawan swalayan kami?” tanya pekerja swalayan itu.
“Wah ternyata bisa di antar sampai rumah ya? Aku baru tau ada sistem yang seperti ini.. tapi ini pakai tambahan biaya pengiriman kalau di antar oleh karyawan sini.. tapi abis ini aku harus beli baju baru juga buat aku pakai di hari pertama ku kerja, sekali-kali tidak apa apa deh” pikir Leticia di dalam benaknya.
“Aku mau mie instan ku yang di antar sampai rumah kira kira berapa untuk harganya?”
“Untuk mie instan nya itu sendiri Rp 100.000,00,- dan untuk biaya ongkos kirimnya jika wilayah rumah adek terjangkau 1km dari sini hanya Rp 16.000,00,- Total semua pembayarannya Rp 116.000,00,- untuk proses selanjutnya adek bisa tulis alamat adek di atas kertas ini dan ini pulpennya” memberikan sebuah kertas dan pulpen kepada Leticia.
Leticia kemudian segera menulis alamat kosannya itu, dan langsung membayarkan pembayaran untuk barang yang dibelinya itu.
“Terimakasih sudah belanja di toko swalayan kami, untuk barangnya bisa di tunggu maximal sampai malam hari” ucap pekerja swalayan itu.
“Terimakasih kembali mbak” lalu Leticia meninggalkan wanita itu, dan kemudian meninggalkan toko swalayan dan langsung menunju toko pakaian.
Di tengah perjalanan Leticia menuju toko pakaian, ia melihat sebuah apotek di dekat toko pakaian itu.
“Saat aku di toko swalayan tadi aku benar-benar lupa untuk membeli obat sakit kepala, selagi aku ingat tentang obat itu.. aku belinya di sini saja, buat jaga-jaga kalau sakit kepala ku datang lagi” sembari membuka pintu apotek itu
“Maaf.. Mas saya mau beli obat untuk sakit kepala, bisa beli satu dus obat sakit kepala?” Ucap Leticia kepada penjaga kasir apotek.
“Bisa, tapi obat ini harus di gunakan sesuai prosedur nya.. untuk harga bisa di lihat langsung di dus nya” sembari memberikan obat itu kepada Leticia.
“Oke baik, makasih ya mas” Leticia membayar dan membawa obat sakit kepala itu, dan langsung meninggalkan apotek.
Leticia kembali melanjutkan perjalanannya menuju toko pakaian yang tepat di seberang jalan itu, Leticia kemudian langsung menyeberangi jalan.
“Kcrieng..” suara lonceng yang terdengar ketika Leticia membuka pintu toko pakaian itu.
“Wah banyak sekali baju dan celana yang di jual di toko ini dengan harga yang terbilang cukup murah” Leticia sambil melihat lihat sekeliling toko itu yang di penuhi oleh banyak baju.
Setelah melihat lihat sekeliling toko baju, Leticia melihat sesuatu yang sangat menarik perhatiannya yaitu ‘Discount 40%'. Tanpa berfikir panjang Leticia mendekati baju baju itu.
“Wah baju mana yang harus aku pilih dari ketiga baju ini? Tiga-tiganya sangat bagus.. sampai aku bingung harus memilih yang mana diantara ketiga baju ini.. apa yang pertama? atau yang kedua? atau yang ketiga? wahh aku sangat bingung sekali” sembari kecocokan ketiga baju itu di badannya.
“Wah.. bagus semua.. tapi aku harus mengambil keputusan, aku akan membeli baju yang ini saja nomor dua.. sepertinya aku terlihat lebih segar dengan baju ini”.
Baju yang di pilih Leticia sebuah kemeja tangan panjang berwarna biru laut dengan kerah kemeja yang berwarna putih gading.
Leticia pun mengambil baju itu dan segera membayarkannya di kasir.
“Kcrieng..” suara lonceng yang terdengar ketika Leticia membuka pintu toko baju itu.
Leticia keluar meninggalkan toko baju dengan membawa tas belanja baju itu, dan tas belanja kecil yang berisikan obat sakit kepala.
Leticia pun pergi kembali menuju kosannya dengan cara yang sama yaitu dengan berjalan kaki kembali.
Di dalam perjalanan Leticia sangat suka melihat lihat sekelilingnya apalagi melihat sekeliling jalanan, karena itu yang paling menarik menurut Leticia.
Leticia bisa melihat banyak hal dari orang pejalan kaki, motor dan mobil yang lewat di hadapannya, toko toko yang ada di sepanjang jalan itu, semua yang ada di jalan itu Leticia perhatikan.
“Skrett...” suara sendal yang bergesekan terhenti.
Leticia secara tiba-tiba berhenti sejenak, ia melihat suatu yang membuatnya terkejut ketakutan.
“Hah? ‘Dia’?? dia ada di sekitar sini? Mengapa dia seperti mencari cari seseorang? Apakah dia sedang mencari diriku?” ternyata yang Leticia lihat di jalan itu adalah 'Dia'.
Leticia setelah terkejut dan terdiam melihat itu, ia pun langsung berlari sekuat tenaganya untuk segera pulang menuju kosannya dengan berusaha menutupi wajahnya dengan tas belanja itu.
“Huft..Huft..Huft...” suara nafas Leticia yang berlari.
Leticia akhirnya pun berhasil sampai di kosannya, dan ia kemudian langsung dengan cepat masuk kedalam kamar kosannya.
Leticia membuka kunci pintu kamar kosannya dengan terburu-buru, hingga membuatnya kesulitan sendiri saat membuka pintunya itu.
Pintu kamarnya pun akhirnya berhasil terbuka dan Leticia langsung masuk dengan cepat kedalam kamar dan segera menguncinya kembali.
“Aku sangat takut.. aku sangat takut kalau dia sampai menemukan ku berada di sini” Leticia berbicara dengan dirinya sendiri sembari duduk meringkuk di pojokan kamarnya.
“Tok...Tok..Tok..” tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari kamar kosan Leticia.