Leticia

Leticia
Bab 24 : Bingung Dengan Sikapnya



“Dan..dan akhirnya mereka dengan lepas menertawai diriku, mereka menertawai diriku seakan akan aku bahan lelucon yang pantas untuk mereka tertawai” Leticia menundukkan kepalanya dengan perasaan malu.


“Tak...Tak...Tak...” Suara langkah kaki memasuki ruang kelas yang bising.


“Ada apa ini? Sepertinya ada kejadian seru di sini! Wah aku terlambat menikmati sesuatu yang seru nih..” tanya Oledia di depan pintu saat memasuki ruang kelas.


“Ada apa nih Toma? ayo dong Toma ceritain ada apa ini, aku penasaran” Oledia merangkul pundak Toma.


“Kenapa Oledia harus merangkul pundak ku seperti ini?” Toma yang merasa tidak nyaman atas perilaku Oledia yang merangkul pundaknya, kemudian Toma segera melepaskan rangkulan Oledia itu dan menjauhi tubuhnya dari jangkauan tangan Oledia.


“Oh itu loh..si Leticia, masa dia sekarang jadi asistennya Toma.”


“Hahahahaha.... Tidak ada harga dirinya bukan? Kita di sekolah bertujuan untuk belajar, tapi Leticia ke sekolah malah jadi asistennya Toma.”


“Lagi pula Leticia bergabung di kelas ini baru seminggu, masa sudah mendekati Toma yang banyak uang itu biar mendapatkan uang tambahan.. tapi memangnya harus sampai segitunya ya?”


“Bisa jadi Leticia sangat membutuhkan uang lebih untuk biaya hidup, makanya dia jadi asisten Toma di sekolah.. kalau aku berada di posisi Leticia, sepertinya tidak mungkin aku deh sampai seperti ini.. ini sungguh memalukan Hahahaha..” ucap salah satu murid di kelas itu.


Oledia memasang wajah kaget dengan bibir yang menyeringai ketika mendengar perkataan dari salah satu murid itu.


“Ohow.. Hahahaha” dengan respon yang sangat mendadak, Oledia tertawa cukup lantang.


“Jadi kalian sudah tau kabar tentang ini! Hahahaha” Oledia yang tidak bisa menahan tawanya terhadap Leticia.


“Benar sekali..ini sama sekali bukan hal yang wajar di lakukan, ini sangat amat memalukan.. yaa mungkin memang benar adanya kalau Leticia itu tidak punya harga diri, kasian aku sama Toma harus terikat dengannya karena kejadian hari itu, hahahaha..”


“Melihat reaksi Oledia yang seperti itu, membuat ku semakin takut akan dirinya yang dapat lebih mempermalukan diriku di depan murid lainnya.. mendengar perkataan mereka aku sangat sakit, malu dan sekarang aku marah pada diriku sendiri.” Leticia yang khawatir tentang dirinya, sehingga ia semakin takut untuk mengangkat kepalanya.


“Bukan kah sikap Oledia ini sudah sangat keterlaluan dan di luar batasan? Mengapa sekarang aku merasa sangat kesal ketika mendengar hal itu dari mulut Oledia yang menjelek-jelekkan Leticia?” Toma yang sudah merasa kesal dan jengkel ketika menyaksikan semua sikap Oledia yang telah mengolok-olok Leticia


“Kalian mau tau kejadian apa yang terjadi di hari itu? Kalau Leticia itu..”


“Apasih!! Sudah cukup Oledia! Itu sudah cukup.. jangan keterlaluan! jangan melewati batasan!” Toma memotong ucapan Oledia dengan nada suara yang tegas.


“Iyaa.. iyaa.. aku berhenti” Oledia yang memasang wajah kesal, karena Toma berusaha membela Leticia.


“Lagi dan lagi Toma membela ku saat seperti ini, aku sama sekali tidak mengerti akan sikapnya ini terhadap ku. Di suatu momen Toma akan sangat baik pada ku seperti hal ini, tetapi di momen yang lain Toma akan bersikap sangat tidak baik pada ku. Aku sama sekali tidak mengerti, permainan apa yang sedang Toma berikan pada ku?”


“Sepertinya untuk kejadian hari, Toma yang bersikap seperti ini hanya karena ingin melancarkan jalannya presentasi ini”


“Yah... Gak seru ah... kasih tau lah.. huuuuuuh” semua murid serentak merasa kecewa dan menyoraki Oledia dan Toma.


“Shuttt....Nanti saja ya” Oledia menggerakkan bola matanya seakan memberikan sebuah kode.


“Aku yakin bahwa Oledia pasti akan menceritakan kisah ku kepada semua orang, dan aku pasti tidak bisa berbuat apa-apa untuk membela diri ku sendir**i.”


“Saat ini, aku merasa sangat amat tidak berguna” Leticia yang menyalahkan dirinya sendiri, karena ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Murid lainnya meninggalkan kerumunan itu, dan segera menuju ke kursi mereka masing-masing. Karena murid lain juga tidak bisa berbuat apapun ketika Toma sudah berbicara lantang dan marah untuk mereka.


Toma meninggalkan Leticia dan segera menuju tempat duduknya dengan menarik tangan Oledia, agar ia dapat meninggalkan Leticia sendiri.


“Aduh..aduhh sakit dong Toma!!, kasar banget sih kamu..” berbisik Oledia pada Toma dengan berusaha melepaskan tarikan tangannya.


“Sudah kamu diam saja Oledia jangan memberontak! Jika kamu berontak maka tangan kamu akan terasa lebih sakit.”


Toma mendudukkan Oledia di kursinya, dengan sedikit dorongan kasar. Kemudian, Toma langsung meninggalkan Oledia tanpa berbicara satu patah katapun kepada Oledia.


“Toma tidak pernah bersikap kasar seperti ini padaku sebelumnya, ini pertama kalinya. Semenjak ada Leticia di kehidupan kami, Toma seketika berubah sikapnya terhadap ku.” Oledia yang merasa kesal sekaligus bingung atas sikap Toma yang kasar terhadapnya.


“Ini semua terjadi karena Leticia!!” Oledia menatap kearah Leticia dengan tatapan penuh amarah.


“Liat saja nanti Leticia, liat nanti apa yang akan aku perbuat kepada kamu.. kamu tidak akan pernah bisa merasakan bahagia.”


Tiba-tiba suara bel berbunyi, “kring... Jam pertama akan segera di mulai di mohon semua murid, staf, dan guru mempersiapkan diri”


Suasana di ruang kelas itu seketika berubah menjadi sunyi.


“Kryeekkkk....” suara pintu yang terbuka setelah suara bel pelajaran berbunyi.


Perlahan orang yang membuka pintu kelas itu memasuki ruangan, dan langsung menuju ke arah kursi guru.


“Oh.. Gurunya sudah datang bagaimana ini, aku merasa sangat gugup dan cemas. Bisakah presentasi ini berjalan dengan lancar dengan baik? Aku takut jika harus mengecewakan Toma terus menerus. Toma mengandalkan ku.. Toma hanya ingin presentasi ini berjalan dengan baik” Leticia merasa gugup dan perlahan lahan ia mulai kesulitan untuk bernafas.


“Padahal Bu guru belum bilang apapun, tapi aku sudah sangat gugup.” Leticia sembari mengatur nafasnya.


“Silahkan ketua kelas untuk memimpin teman teman yang lain untuk bersiap” Bu guru memerintahkan kepada ketua kelas di ruang kelas itu.


“Baik.. bersiap dan bersikap dengan baik, pelajaran akan di mulai!” ketua kelas memberikan aba-aba kepada kami semua.


“Terimakasih.. untuk agenda kita hari ini adalah mendengarkan dan menyimak presentasi yang telah di buat oleh kedua teman kalian, Leticia dan Toma silahkan maju dan di persiapkan presentasinya” Ucap Guru biologi itu.


“Aduh.. bagaimana ini aku semakin merasa gugup dan cemas” Leticia semakin sulit mengendalikan dirinya.


Toma beranjak dari tempat duduknya, dan menuju ke depan ruang kelas. Melihat Toma yang sudah berada di depan kelas, Leticia pun langsung memutuskan dengan berat hati menuju ke depan ruang kelas menyusul Toma.


Langkah demi langkah menuju ke depan ruang kelas. Dengan kakinya yang bergerak bergetar, nafas yang tidak teratur, suasana hati yang gugup dan cemas, membuat Leticia semakin tidak dapat mengontrol dirinya sendiri.


“Gap” sebuah tangan menggenggam tangan Leticia yang dingin karena cemas.


Leticia menatap wajah yang memegang tangannya itu, dan pemilik tangan itu menatap wajah Leticia.


Toma berusaha menenangkan Leticia, dengan tersenyum manis kepadanya.